crossorigin="anonymous">

Memperteguh Cinta Nabi: Spirit Ratusan Ribu Jemaah Hadiri Haul Akbar Habib Ali Al-Habsyi Ke-114

Kalijaga.co — Ahad, 12 Oktober 2025 di Masjid Riyadh kawasan Pasar Kliwon, Solo, kembali menjadi saksi bisu dari luapan cinta dan kerinduan spiritual yang tak terhingga. Ratusan ribu jemaah dari berbagai penjuru Nusantara memadati kawasan tersebut untuk menghadiri Haul ke-114 Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, yang dikenal sebagai Haul Solo. Acara tahunan ini berlangsung sejak pukul 08.00 pagi hingga lewat pukul 12.00 siang.

Perhelatan akbar ini bukan hanya sekadar peringatan wafatnya seorang ulama besar, tetapi telah menjelma menjadi magnet spiritual yang menarik tokoh-tokoh penting dan ulama-ulama terkemuka. Tampak hadir dalam majelis mulia ini ulama besar internasional seperti Habib Umar bin Hafidz, serta tokoh-tokoh nasional seperti Habib Ja’far Al-Kaff dan bahkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang turut memberikan sambutan. Kehadiran tokoh-tokoh ini semakin memperkuat posisi Haul Solo sebagai salah satu agenda keagamaan terbesar di Indonesia.

Ribuan jemaah yang datang, rela menempuh perjalanan jauh dan berdesakan di dalam maupun di luar area masjid, semuanya didorong oleh satu motivasi utama: dorongan hati dan jiwa untuk memperoleh barokah dari ulama dan masyaikh yang telah meninggal dunia, khususnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penulis kitab maulid Simthud Duror.

Semangat ini tercermin jelas dari pengakuan para jemaah yang berhasil diwawancarai. Wiwid (42), seorang jemaah asal Sumberpucung, Malang, yang datang bersama rombongannya sejak Sabtu malam setelah Isya, mengungkapkan dorongan utamanya.

“Dorongan utama menghadiri Haul Solo, mendekatkan diri kepada Allah, yang pertama itu. Yang kedua, kita mengambil karomahnya (kemuliaan) dari beliau Habib Ali bin Muhammad. Kemudian, kita mengikuti guru kami yang juga hadir di sini, yaitu Habib Umar,” ujarnya.

Bagi Wiwid, agenda ini adalah upaya multidimensi; ibadah, penghormatan kepada ulama terdahulu, dan ketaatan kepada guru.

Senada dengan itu, Harisun (53), yang datang dari Bangil, Pasuruan, setelah menempuh perjalanan hingga tiba di Solo pukul 05.00 pagi.

“Dorongan utamanya mengharap berkah dari para ulama, berkumpul dengan para ulama yang hadir seperti Habib Umar.” pengakuannya.

Menggarisbawahi pentingnya berkumpul dalam majelis ilmu dan dzikir yang dipimpin oleh ulama-ulama sholihin sebagai sarana memperteguh keimanan. Penyelenggaraan Haul Solo ke-114 tahun ini mendapat apresiasi positif dari para jemaah, terutama terkait fasilitas dan tata kelola acara. Wiwid, yang mengaku sudah beberapa kali menghadiri haul sebelumnya, memberikan pujian khusus atas peningkatan kualitas tahun ini.

“Alhamdulillah, untuk tahun ini, untuk fasilitas, keamanan dan penataan acara seperti para pedagang lebih tertata daripada tahun sebelumnya. Untuk makanan dan minuman gratis sudah disediakan oleh panitia seperti kopi, teh, dan sebagainya,” ungkap Wiwid.

Ia menambahkan bahwa panitia juga telah menata tempat dengan baik, termasuk pemasangan videotron di setiap penjuru, yang tujuannya agar jemaah bisa melihat prosesi dan ulama yang mengisi acara secara langsung, mengatasi keterbatasan pandangan karena padatnya massa.

Harisun pun turut menimpali, menyebut fasilitas tahun ini cukup mewah dan mengapresiasi ketersediaan makanan yang disediakan panitia, yang yang menurutnya tidak ada pada penyelenggaraan sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan keseriusan panitia dalam menyambut dan melayani ratusan ribu jemaah yang hadir, memastikan kenyamanan dan kelancaran prosesi zikir dan doa.

Setelah melalui momen spiritual yang penuh haru dan khidmat, para jemaah membawa pulang pesan dan harapan tulus. Bagi mereka, Haul Solo bukan sekadar acara tahunan, melainkan sebuah bekal spiritual untuk menjalani hidup. Wiwid memanjatkan doa agar ia dan keluarganya dapat terus hadir di tahun-tahun mendatang.

“Harapan saya, setiap tahunnya saya dan keluarga bisa hadir dan mendapatkan berkah dari beliau (Habib Ali bin Muhammad),” tuturnya.

Harisun, dengan nada serupa pula, berharap dapat kembali lagi.

“Harapannya, bisa mendapatkan berkah dan bisa kembali lagi di tahun depan untuk mengikuti acara haul ini lagi.” ujarnya di akhir.

Doa-doa ini mencerminkan kerinduan abadi jemaah untuk menyambung tali spiritual dengan leluhur ulama dan terus meneladani akhlak Rasulullah SAW, yang diwariskan oleh Habib Ali Al-Habsyi. Haul ke-114 ini sekali lagi menegaskan bahwa ajaran cinta kasih dan spiritualitas yang dibawa oleh ulama tetap menjadi pilar kuat yang memperteguh keimanan umat di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *