- Harmoni Ramadan di Masjid Al-Fattah: Sajikan 600 Takjil “Piringan” hingga Gandeng UMKM - 1 Maret 2026
- Sambut Bulan Suci Ramadan: LFNU DIY Siapkan Perangkat Digital dan Pakar Fikih Tekankan Pentingnya Keyakinan Ijtihad - 17 Februari 2026
- Menggugat Etika: Ketika Jurnalisme Menjadi Alat Pelecehan terhadap Pesantren - 22 Oktober 2025
Kalijaga.co – Masjid Al-Fatah yang beralamatkan di Rejowinangon, Kotagede, Yogyakarta, memasuki tahun kelimanya dalam menghadirkan program takjil gratis pada bulan suci Ramadan. Bukan hanya memberi makan gratis yang dibuka untuk umum, melainkan juga membangun ekosistem ekonomi sosial dengan menggandeng Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik warga sekitar.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh bagian Divisi Perempuan Berkemajuan Masjid Al-Fatah, Suwarni, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah di mulai sejak tahun 2020. Walaupun sempat menyesuaikan dengan protokol Kesehatan pada saat pandemi covid-19 di tahun 2021, antusiasme pengurus masjid dan para jemaah tidak pernah surut. Bahkan di tahun ini menyediakan makanan hingga 600 porsi setiap harinya.
Strategi Pendanaan dan Pemberdayaan UMKM
Salah satu yang menarik dalam pengelolaan takjil gratis di Masjid Al-Fatah yaitu sistem pendanaan dan produksinya yang terorganisir. Suwarni, menjelaskan anggaran operasional bersumber dari donasi dan penyebaran proposal di berbagai titik strategis.
Panitia penyelenggara memastikan menu yang disajikan tetap bergizi dan layak konsumsi, dengan patokan harga per porsinya sebesar 10 ribu rupiah.
“Untuk nasi dan minuman, kami masak sendiri di dapur masjid. Namun, untuk lauk-pauk, kami sengaja menggandeng UMKM lokal,” ujar Suwarni dalam wawancara pada Minggu (22/02/2026).
Masjid Al-Fatah tersebut menyongsong tiga RW yang berada di Rejowingon, yaitu RW 6, RW 7, dan RW 9. Sehingga pengurus masjid berkolaborasi dengan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari setiap RW. Dan dari tim khusus perempuan dari ketiga RW bertugas mengatur rotasi menu agar tidak terjadi pengulangan setiap sepuluh hari.
“Misalnya hari ini daging, tiga hari kemudian tidak akan daging lagi. Kami atur variasinya seperti ayam dan menu lainnya agar jemaah tidak bosan,” tambahnya.
Daya Tarik Kajian dan Menu “Piringan”
Para jemaah yang hadir tidak hanya dari warga lokal saja, melainkan juga masyarakat umum. Dalam penyajian makanannya terbilang unik, dengan menggunakan piring atau mangkok sehingga berbeda dari kebanyakan masjid yang memilih nasi kotak dalam penyajiannya. Hal tersebut memberikan hangat dan kebersamaan yang lebih mendalam.
Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para masyarakat termasuk mahasiswa sebagai anak kos. Salah satunya Miftah, seorang mahasiswa kesehatan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mengaku terkesan dengan sistem piringan tersebut.
“Ini pertama kalinya saya ikut buka puasa yang makanannya langsung piringan, biasanya di masjid lain pakai nasi kotak. Sebagai anak kos, ini sangat membantu menghemat biaya makan,” tuturnya
Selain takjil gratis, pengurus masjid juga mengadakan kajian keagamaan menjelang buka puasa. Jarwo, seorang driver ojek online maxim yang juga sering buka puasa di masjid al-fatah, menyatakan bahwa kegiatan kajian tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus sarana menimba ilmu (tholabul ilmi) di sela penatnya mencari nafkah. Ia berharap agar kegiatan seperti ini terus berjalan setiap tahunnya.
“Mudah-mudahan kegiatan ini terus berjalan, karena kan ini bulan puasa. Ini akan jadi ajang untuk kita mencari pahala. Jadi saling berlomba-lomba dalam bershodaqoh apa yang kita punya dan apa yang paling bagus milik kita,” pungkasnya.
Adanya program Ramadan ini, pihak takmir berharap Masjid Al-Fatah semakin makmur dan bermanfaat bagi masyarakat umum, khususnya umat Islam. Dengan manajemen yang transparan dan semangat gotong royong antarwilayah, Masjid Al-Fatah Kotagede berhasil membuktikan bahwa masjid bisa menjadi pusat gerakan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM di tengah kekhusyukan bulan Ramadan.
Penulis: Achmad Qusyairi | Editor: Nayla Nur Hidayah