crossorigin="anonymous">

Dari 23 ke 11 Rakaat : Adaptasi Perantau Menyikapi Tradisi Tarawih di Yogyakarta

Kalijaga.co – Ramadan. Bulan yang selalu dinanti, bukan hanya karena ibadahnya saja, tetapi juga kenangan dan vibe yang tentu berbeda tiap tahunnya. Terlebih untuk para perantau yang baru pertama kali merasakan suasana ramadan di perantauan yang tentu berbeda dengan suasana di kampung halaman. Salah satunya perbedaan jumlah rakaat shalat sunah tarawih.

Berbedanya tradisi jumlah rakaat shalat tarawih antara kampung halaman dengan daerah perantauan kerap menjadi pengalaman kultural yang cukup menimbulkan rasa heran. Pasalnya, ada beberapa daerah yang memang sangat kental tradisi turun menurunnya, tarawih umumnya dilaksanakan sebanyak dua puluh tiga (23) rakaat dengan rincian dua puluh rakaat shalat tarawih dan tiga rakaat shalat witir yang dilakukan secara bertahap dua dan satu. Pola ini sudah ada dan mengakar lama, diwariskan dari generasi ke generasi, yang kemudian menjadi simbol kekhusyukan juga kekompakan para jamaah dalam menyambut bulan suci ramadhan.

Namun, suasana dan tradisi yang berbeda kerap ditemui oleh beberapa orang di kota rantau, salah satunya Yogyakarta. Di kota ini, dari sekian banyaknya tempat ibadah seperti masjid ataupun musala, mereka memilih melaksanakan tarawih sebanyak sebelas (11) rakaat dengan rincian delapan  rakaat tarawih dan tiga rakaat witir. Bagi sebagian pendatang, perbedaan ini awalnya menimbulkan rasa kaget atau bahkan kebingungan. Beberapa orang juga ada yang merasa “kurang afdal” karena merasa ibadahnya terlalu singkat, beberapa juga ada yang merasa khawatir tidak sesuai dengan kebiasaan yang selama ini diyakini.

Hal serupa juga dialami oleh Belva (19), mahasiswa asal Pemalang Jawa Tengah yang tengah merantau di Yogyakarta. Ia mengaku sempat kaget dengan jumlah rakaat yang ada di daerah rantaunya ini. Namun, ia juga mengaku bahwa banyak atau sedikitnya jumlah rakaat tarawih disini sama-sama menghabiskan durasi waktu yang sama dengan daerah asalnya.

Meski demikian, perbedaan tradisi jumlah rakaat shalat tarawih ini sejatinya mencerminkan kekayaan tradisi Islam yang memberi ruang pada keberagaman praktik, tanpa meninggalkan esensi ibadah itu sendiri. Di Yogyakarta, praktik 11 sering dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika masyarakat perkotaan dengan ritme hidup yang cepat, juga keinginan agar masjid tetap ramah bagi semua kalangan. Pada titik ini, tarawih tak lagi semata soal banyaknya rakaat, melainkan tentang bagaimana ibadah mampu menjadi ruang temu, toleransi, dan juga pembelajaran budaya bagi para pendatang.

Di tanah rantau, Ramadan tetap hadir dengan maknanya sendiri : menguatkan iman, menenangkan rindu, juga mengingatkan bahwa dimanapun berada, tujuan ibadahnya tetap satu – mendekat kepada Allah dengan hati yang bersih dan lapang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *