- Merawat Sanad di Tengah Badai Digital: Pesan Gus Maulana di Harlah ke-11 KMNU UIN Sunan Kalijaga - 17 Juni 2026
- Harmoni Ramadan di Masjid Al-Fattah: Sajikan 600 Takjil “Piringan” hingga Gandeng UMKM - 1 Maret 2026
- Sambut Bulan Suci Ramadan: LFNU DIY Siapkan Perangkat Digital dan Pakar Fikih Tekankan Pentingnya Keyakinan Ijtihad - 17 Februari 2026
Kalijaga.co – Laboratorium Agama Universitas Islam Negeri Sunann Kalijaga Yogyakarta atau yang lebih di kenal dengan Maskam (Masjid Kampus), menjadi saksi terselenggaranya perayaan harlah ke-11 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, acara yang dikemas dengan Pengajian Akbar dan Gema Sholawat.
Ditengah sibuknya ujian akhir semester ratusan mahasiswa antusias hadir dalam perayaan ini, menurut penuturan ketua panita harlah ke-11 KMNU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Izza Aziza Queen Shophia, tidak hanya mahasiswa UIN Sunan Kalijaga saja melainkan beberapa dari Universitas Jendaral Soedirman (Unsoed) Jawa Tengah juga hadir untuk menyaksikan harlah tersebut.
“untuk peserta ini umum, tidak hanya dari internal KMNU UIN Sunan Kalijaga saja, tadi ada beberapa bahkan dari Unsoed datang kesini untuk menyaksikan malam puncak harlah KMNU ini,” tuturnya saat di wawancara pasca acara.
Bukan tanpa alasan acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa, hadir sebagai pembicara utama, Gus Maulana Miftakhur Ridho Al-Arief, yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tanah Jawi, Boyolali, dan Dai Nasional, membawa pesan-pesan mendalam yang dikemas secara sejuk namun menohok sanubari generasi muda Islam khususnya yang mengikuti langsung rangkaian acara harlah saat ini.
Merawat Sanad di Tengah Badai Informasi
Gus maulana mengawali kajiannya dengan mengingatkan para mahasiswa yang memenuhi majelis, dengan menekankan pentingnya menata kembali hati, dimana di era digital seperti saat ini, semua informasi begitu cepat viral dan bermunculan figur-figur baru yang mudah di idolakan, sehingga beliau mengingatkan agar Kompas cinta (Muhabbah) seorang muslim tidak salah arah.
“Pondasi utama kita beragama dan berorganisasi adalah rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad ﷺ,” tutur beliau.
Beliau menjabarkan bahwa di dunia ini cinta kepada Rasulullah saw. Bukanlah hal yang abstrak, melainkan sebagai umatnya cara sederhana yang bisa kita lakukan yaitu dengan memanifestasikan melalui rasa hormat yang tulus kepada para keturunannya (dzurriyah) atau yang di kenal dengan istilah habib, serta para ulama yang telah ikhlas membimbing umat untuk terus merawat ketersambungan batin dengan Sang Nabi.
Dalam hal ini, Gus Maulana menekankan pentingnya sanad keilmuan. Sebagai mahasiswa yang berbasis di kampus Negeri Islam, tentu tantangannya sangat dinamis, beliau mengingatkan bahwa belajar agama tidak bisa mengikuti arus digitalisai dengan menggantungkan pada algoritma media sosial.
Memiliki silsilah atau sanad guru yang jelas bahkan tersambung hingga Rasulullah ﷺ, adalah benteng utama agar tidak tersesat dalam memahami ajaran syariat. Sanad bukan sekedar formalitas ijazah, melainkan sebuah citra yang menjadi tanggung jawab baik moral maupun spiritual agar wajah islam yang di tampilkan ke dunia tetaplah islam yang di kenal ramah, mederat, dan penuh kasih sayang (Rahmatan Lil Alamin).
Khidmat Ikhlas sebagi Ruh dari KMNU
Gus maulana memberikan apresiasi sekaligus refleksi tajam begi seluruh kader Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU), karena memasuki usia ke-11 KMNU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di nilai telah mengambil peran vital sebagai wadah dalam menyebar luaskan nilai-nilai ahlussunah wal jamaah di lingkungan Universitas.
Beliau juga berpesan agar dalam berorganisasi jangan sampai terjebak dalam paragmatisme jabatan atau sekedar mencari eksisten belaka di panggung universitas.
“Jadikan organisasi ini sebagai ladang pengabdian, tempat kita berkhidmat untuk para ulama dan umat dengan niat yang bersih dan ikhlas,” pesan Gus Maulana.
Pengabdian dengan keikhlasan itulah yang menurut beliau menjadi bahan bakar utama dalam melesatarikan gerakan KMNU bisa bertahan lama dan membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi linkungan sekitar.
Sholawat sebagai Pembersih Hati
Malam semakin larut, namun antusiasme Jamaah justru semakin memuncak saat selingan sholawat dilantunkan, Gus Sholeh Elham, pengasuh Langgar Ar-Raudhah, Corongan. Menjadi vokalis utama dalam memimpin lantuanan sholawat di perayaan harlah kali ini.
Hal ini ini juga menjadi bahasan penting dalam kajian Gus Maulana, beliau menerangkan bahwa majelis ilmu yang diiringi dengan sholawat ibarat sebuah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Bagi mahasiswa yang kerap didera stres terkait masalah akademis, tekanan tugas akhir, maupun kecemasan masa depan, sholawat hadir sebagai obat penenang alami. Melalui lantunan-lantunan bait sanjungan kepada Nabi, hati yang keras dilembutkan, pikiran yang kusut tenangkan , dan yang terpenting, rahmat serta keberkahan dari Allah SWT ditarik turun untuk menaungi kehidupan mereka.
Acara ditutup dengan doa bersama, ada rasa damai yang tertinggal di wajah-wajah mahasiswa yang membubarkan diri secara tertib. Harlah ke-11 KMNU malam itu sukses menyampaikan satu pesan lewat lisan Gus Maulana, bahwa setinggi apa pun capaian intelektual seorang mahasiswa, ia akan tetap membutuhkan jangkar spiritual agar kakinya tetap membumi dan jiwanya tetap terhubung dengan langit.
Editor: Raisya Puan Syahdillah