crossorigin="anonymous">

Pembina KMNU UIN Sunan Kalijaga: Kader Harus Jadi Benteng di Tengah Sentimen Negatif Medsos

Kalijaga.co – Kader muda Nahdliyin saat ini dituntut untuk tidak sekadar menjadi penumpang pasif dalam organisasi. Sebaliknya, mereka harus mampu bertransformasi menjadi benteng kritis yang teguh dalam memilah sekaligus menyampaikan kebenaran di tengah gempuran narasi negatif yang mengoyak media sosial.

​Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam Malam Puncak Hari Lahir (Harlah) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) ke-11 yang digelar di kawasan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). Acara yang dikemas dalam bentuk Gebyar Sholawat dan Pengajian Umum ini berhasil memikat perhatian dan dihadiri oleh ribuan jemaah yang memadati lokasi.

​Di balik syahdunya lantunan bait-bait sholawat yang dibawakan oleh tim hadroh, Pembina KMNU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Abdul Qoyyum, S.E.I., M.Sc.Fin., menyampaikan orasi yang menghentak kesadaran para hadirin. Beliau menyoroti realitas ruang digital kontemporer yang kini telah berubah menjadi medan pertempuran wacana yang sengit. Menurutnya, media sosial kerap dipenuhi potongan informasi, pelabelan, hingga julukan negatif yang menyudutkan amaliah Nahdlatul Ulama (NU) maupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

​”Tantangan terbesar bagi seluruh kader KMNU di era kontemporer ini bersumber dari dunia digital. Kita menyaksikan begitu banyak seliweran hoaks. Di sinilah tanggung jawab besar dan peran strategis kader KMNU diuji,” ujar Abdul Qoyyum dalam sambutannya.

​Menanggapi arahan tersebut, Ketua Umum KMNU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Farhan Agus, menegaskan bahwa kedewasaan digital dan ketajaman berpikir kritis adalah harga mati bagi setiap kader di era sekarang. Ia kemudian memaparkan tiga langkah taktis yang harus dijalankan oleh seluruh rekan-rekan mahasiswa.

​Langkah pertama, kader KMNU wajib mengedukasi masyarakat agar memiliki kemampuan memilah informasi. Masyarakat harus dibantu untuk memisahkan antara berita yang memiliki dasar validitas tinggi dengan berita bohong sebelum mengonsumsi atau menyebarkannya. Kedua, kader harus senantiasa kritis mengenai isu-isu digital agar tidak mudah terbawa arus yang reaktif.

​”Kekritisan ini menjaga agar kader tetap jernih melihat persoalan dan tidak masuk ke dalam hal-hal negatif yang ditanggapi secara emosional,” kata Farhan saat ditemui di sela-sela berakhirnya acara malam puncak.

​Langkah ketiga yang dinilai paling fundamental adalah aspek pembelajaran dan tabayyun. Kader diminta gigih mencari tahu silsilah, sanad, serta kejelasan dari akun-akun yang menyebarkan konten mengenai NU agar mengetahui motif asli di balik layar.

​Melalui momentum refleksi usia ke-11 ini, KMNU UIN Sunan Kalijaga beraspirasi agar seluruh kadernya bertumbuh secara kualitatif menjadi intelektual Muslim yang mengambil andil nyata. Kader diharapkan siap memproduksi konten menyejukkan, meluruskan disinformasi dengan santun, serta bergerak bersama jam’iyah NU untuk merawat jagat digital yang lebih sehat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *