crossorigin="anonymous">

Menilik Perjuangan di Balik Layar Harlah ke-XI KMNU UIN Sunan Kalijaga

Kalijaga.co – Malam itu, hawa sejuk Yogyakarta menyelimuti kompleks Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga. Namun, di dalam area gedung, atmosfer terasa begitu hangat dan hidup. Gema tabuhan terbang yang rancak berpadu indah dengan lantunan syair puji-pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Musik hadrah malam itu disajikan dengan kolaborasi oleh dua grup hadroh kebanggaan mahasiswa Nahdliyin, yakni Grup Hadrah Al-Fayyadh KMNU UIN Sunan Kalijaga dan Grup Hadroh El-Maqashid KMNU Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Alunan nada yang selaras itu seolah mengantarkan para jamaah yang hadir untuk larut dalam kekhusyukan malam puncak Harlah ke-XI KMNU UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (13/6/2026).

​Sejak sore hari sebelum acara dimulai pada pukul 19.30 WIB, para hadirin mulai mengalir memasuki lokasi. Mengenakan pakaian sopan, berkemeja, hingga paduan sarung khas kaum santri, mereka duduk bersila membentuk barisan yang rapi langsung di atas lantai keramik masjid area Laboratorium Agama. Meski tidak sampai berhimpun padat, kehadiran para kader internal kampus, perwakilan dari berbagai organisasi, serta masyarakat sekitar tetap menghidupkan ruang tersebut dengan nuansa kesederhanaan dan kekeluargaan yang kental.

​Dimensi ruang yang tenang itu justru mempertegas kekhusyukan acara. Di sudut-sudut strategis ruangan, tampak berdirinya dua layar proyektor berukuran besar yang menyala terang. Kehadiran fasilitas visual digital ini merupakan sebuah langkah antisipasi konkret yang telah disiapkan secara matang oleh pihak panitia demi kenyamanan bersama. Layar tersebut memastikan bahwa jika terjadi lonjakan massa mendadak, atau bagi mereka yang memilih duduk di barisan belakang, tetap dapat menyimak jalannya acara dengan khidmat tanpa kehilangan momentum.

​Acara bertajuk Pengajian Akbar & Gema Sholawat ini memang dikonsep secara serius. Hal ini terlihat dari deretan tokoh besar, akademisi, dan ulama kharismatik yang dijadwalkan hadir mengisi panggung utama. Acara malam puncak ini dihadiri oleh jajaran guru besar dan pemikir Islam terkemuka, seperti Prof. Noorhaidi, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D., Drs. KH. Muhammad Syakir Ali, M.Si., Dr. KH. Abdul Qoyyum, SEI, M.Sc.Fin., serta Prof. Dr. phil. KH. Sahiron Syamsuddin, M.A. Kehadiran para intelektual Muslim ini dipadukan dengan kesejukan tausiyah dari Kyai Maulana Al-Arief selaku Dai Nasional & Pengasih PP Tanah Jawi, Boyolali, serta Gus Sholeh Elham selaku Pengasuh Langgar Arroudhoh Corongan.

​Namun, dibalik penataan panggung dan deretan nama besar yang mengisi susunan acara tersebut, ada sebuah cerita perjuangan yang sunyi. Ada keringat, waktu, dan dedikasi luar biasa dari anak-anak muda yang bergerak di balik layar tanpa sorot lampu kamera.

​Bagi Izza Azizah Queen Sophia yang akrab disapa Izza, memegang tongkat komando sebagai Ketua Panitia Harlah ke-XI KMNU UIN Sunan Kalijaga adalah sebuah tanggung jawab yang menguji batas kemampuannya. Memimpin sebuah kegiatan seremonial tahunan berskala besar dengan jangkauan perlombaan yang menembus tingkat regional Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga Jawa Timur jelas menuntut energi yang tidak sedikit. Tantangan terbesar yang dihadapinya bersumber pada aspek paling krusial dalam manajemen acara yaitu finansial dan sumber daya manusia.

​”Tantangan terbesar sama dengan organisasi pada umumnya yaitu di bagian budget. Karena ini bukan acara kecil, ini acara besar yang memang besar. Bahkan untuk lomba itu kita sampai di tingkat Jateng, DIY, dan Jawa Timur, maka kita perlu dana yang cukup besar.” Ungkap Izza jujur saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya mengawal acara

​Menghadapi tembok besar bernama keterbatasan anggaran, Izza tidak memilih untuk memangkas kualitas acara. Bersama timnya, ia justru meluncurkan strategi emas berupa kolaborasi masif. Mereka bergerak lincah mengetuk pintu kemitraan ke berbagai instansi, hingga akhirnya berhasil merangkul Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai sponsor utama yang menyokong pendanaan. Tak hanya itu, panitia juga menggandeng belasan mitra pendukung, termasuk media kampus Kalijaga.co serta beberapa media lokal, untuk memperluas gaung publikasi acara.

​Kendala berikutnya muncul pada sektor ketersediaan tenaga kerja. Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) internal KMNU yang terbatas sempat menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya ketimpangan beban kerja. Menyadari hal tersebut, panitia mengambil langkah inklusif dengan membuka program open volunteer bagi mahasiswa di luar organisasi. Langkah ini rupanya disambut hangat oleh banyak mahasiswa yang rindu akan ruang-ruang pengabdian seni dan keagamaan.

​Ketika hari pelaksanaan tiba, pengelolaan alur massa tetap menjadi perhatian utama panitia. Antisipasi terhadap kemungkinan adanya lonjakan peserta yang tiba-tiba datang diatur lewat perencanaan lapangan yang terstruktur. Panitia menerapkan sistem pembagian tugas (plotting) yang ketat sejak pintu masuk.

​”Untuk mengatur bagaimana jika terjadi lonjakan peserta yang datang, Alhamdulillah kami sudah melakukan plotting teman-teman panitia. InsyaAllah tidak ada yang bingung arahnya kemana karena sudah diarahkan dari awal masuk,” tutur Izza dengan nada lega. Keberadaan dua layar proyektor besar tadi pun menjadi bagian dari kesiapan fisik agar suasana di dalam ruangan tetap kondusif dan nyaman bagi siapa saja yang hadir.

​Keberhasilan panitia dalam mengelola kepanitiaan dan meredam segala potensi kendala teknis memicu rasa haru sekaligus bangga di dada Muhammad Farhan Agus selaku Ketua Umum KMNU UIN Sunan Kalijaga yang akrab disapa Agus, ia sangat memahami betapa beratnya beban yang dipikul oleh rekan-rekan seperjuangannya selama berbulan-bulan masa persiapan.

​”Menurut saya sebagai ketua, ini sudah sangat bangga dan mengapresiasi teman-teman panitia serta teman-teman medpart (media partner) dan sponsor yang sudah berusaha menyumbangkan tenaga, waktu, dan biaya untuk mensukseskan KMNU ke-XI ini,” tutur Agus dengan penuh ketulusan.

​Bagi Agus, angka sebelas tahun bukan sekadar deretan angka statistik penanda eksistensi sebuah organisasi mahasiswa di lingkungan kampus hijau. Lebih dari itu, Harlah ke-XI ini harus dimaknai sebagai momentum kontemplasi dan pembuktian gerak ideologis. Ia memandang KMNU bukan sekadar wadah berkumpul yang sifatnya seremonial atau tempat berburu sertifikat kepengurusan, melainkan sebuah laboratorium sosial tempat mencetak intelektual organik yang bernafaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

​Di bawah teduhnya lampu Laboratorium Agama dan di sela-sela lantunan sholawat yang terus mengalir, Agus menitipkan sebuah refleksi mendalam, sebuah pesan ideologis yang ia tujukan langsung kepada seluruh kader KMNU yang hadir malam itu.

​”Karena sudah sebelas tahun ya, saya berharap kader-kader KMNU terus bertumbuh, berpikir kritis, terus berjuang untuk NU dan KMNU. Agar teman-teman tidak hanya numpang nama di organisasi, tapi juga ikut andil dalam keseluruhan dan juga bertumbuh bersama di organisasi tersebut,” tegas Agus penuh penekanan.

​Pesan Agus seolah menjadi pengingat yang menembus sanubari. Sebuah otokritik sekaligus pelecut semangat bahwa eksistensi seorang kader diukur dari seberapa besar kontribusi dan keterlibatannya dalam proses jatuh-bangun organisasi, bukan dari seberapa lama namanya tercantum dalam struktur bagan kepengurusan.

​Malam semakin larut, namun kehangatan di dalam ruangan itu belum memudar. Lantunan doa, untaian sholawat, dan nasihat-nasihat keagamaan dari para kyai terus mengalir sejuk, meresap ke dalam hati para jamaah yang bertahan hingga akhir acara. Harlah ke-XI KMNU UIN Sunan Kalijaga memang telah mencapai puncaknya malam itu. Namun, bagi anak-anak muda yang malam itu belajar meruntuhkan ego lewat kerja keras kepanitiaan, serta bagi para kader yang berkomitmen untuk terus berpikir kritis, perjalanan panjang untuk bertumbuh bersama dan memberikan andil nyata bagi agama dan bangsa justru baru saja dimulai. Dari atas hamparan dingin lantai keramik malam itu, sebuah komitmen hangat telah lahir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *