Kalijaga.co – Rabu pagi itu, pelataran barat Gedung Convention Hall (CH) UIN Sunan Kalijaga mendadak jadi muara dari dua momen besar yang kontras. Di satu sudut, riuh rendah toga, buket bunga, dan senyum haru para wisudawan universitas memenuhi pelataran kampus. Di sudut lain, bus kami sudah bersiap, dikelilingi warna biru dari seragam PDH kebanggaan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2025.
Di tengah padatnya kendaraan dan logistik wisuda, panitia pelaksana kami sempat pontang-panting mengatur massa dan logistik konsumsi. Manajemen waktu kami pun ikut teruji ketika jadwal keberangkatan sempat bergeser agak ngaret dari rencana semula karena kami harus saling menunggu satu sama lain.
Akibat keterlambatan tersebut, Hilal selaku wakil ketua angkatan bahkan harus memotong durasi briefing pagi yang semula dirancang 15 menit menjadi kurang dari 10 menit demi mengejar target bus harus jalan pukul 07.00 WIB. Namun, segala keriuhan dan drama kecil di awal hari itu justru menjadi pembuka yang manis dari sebuah agenda besar yang sudah kami persiapkan bersama selama dua setengah bulan terakhir.
Begitu roda bus mulai membelah jalur jalanan menuju Surakarta, ruang kabin seketika berubah menjadi ruang keluarga yang hangat. Saling berbagi camilan dari bangku ke bangku, playlist lagu yang mengalun bergantian, hingga candaan acak khas anak kuliah perlahan mengikis sisa kantuk di mata.
Perjalanan ini, yang secara formal merupakan studi lapangan untuk mata kuliah Studi Agama Kontemporer, esensinya melampaui sekadar pemenuhan nilai akademik. Ini adalah tentang bagaimana kami merawat kebersamaan angkatan.
Panitia studi lapangan sengaja dirangkai dari teman-teman yang belum sempat berkontribusi di kepengurusan internal, sebuah keputusan dari Daris dan Hilal yang membuat kami bisa saling mendukung dan belajar bersama tanpa batas. Ini adalah transisi seru dari metode belajar membaca buku di dalam kelas menuju metode membaca realitas yang sesungguhnya di lapangan.
Solo menyambut kami bukan sekadar sebagai destinasi geografi biasa, melainkan sebuah ruang kelas besar yang ramah dan tanpa sekat. Langkah pertama kami tertuju pada Vihara Dhamma Sundara. Begitu melewati gerbangnya, kami benar-benar disambut dengan sangat hangat terbuka oleh pengelola di sana.
Sebelum ruang dialog dibuka di aula, kami diajak berjalan memutari area vihara, menatap replika candi yang anggun, hingga melihat sudut sakral di bawah pohon. Atmosfer ketenangannya seolah meminta kami untuk meredam ego sejenak. Di tempat ini, pemahaman kami meluas.
Kami belajar tentang ratusan aturan hidup penganutnya, sebuah koridor sakral mirip rukun iman yang mereka jaga dengan penuh keteguhan. Momen dialog langsung ini berhasil mengubah teks-teks teori di kepala kami menjadi sebuah pengalaman hidup yang terasa begitu dinamis.
Dari ketenangan vihara, perjalanan kami berlanjut menuju jantung kebudayaan Jawa di Masjid Keraton Surakarta. Tempat kedua ini memperlihatkan perpaduan yang sangat indah antara nilai spiritualitas Islam dan keluhuran budaya lokal yang kokoh berdiri melintasi zaman. Berdiri di bawah naungan arsitektur bangunan yang bernilai sejarah tinggi, kami menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai agama bisa berjalan selaras dengan kearifan lokal (local wisdom) tanpa harus kehilangan esensinya.
Masjid Keraton bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah simbol historis yang memperlihatkan bahwa Islam di Indonesia memiliki watak yang ramah, merangkul, dan terbuka terhadap kebudayaan setempat.
Eksplorasi kami kemudian bergerak menuju Pura Indraprastha, keberadaan aroma dupa yang dominan menyeruak di udara langsung menciptakan kesan sakral yang khas. Di lingkup diskusi, kami berkesempatan mendengar penjelasan langsung dari pemuka pura, salah satunya Pak Wayan.
Dialog santai ini menyadarkan kami akan pentingnya pemikiran yang seimbang dan moderat. Seperti yang sempat dipesankan oleh Bu Evi, di era media sosial yang penuh dengan isu keberagaman yang kadang terdistorsi, tugas utama kami sebagai anak KPI adalah melakukan check and recheck atas segala fenomena sosial keagamaan yang terjadi, bukan justru ikut menghakimi penganut agama lain dengan emosi yang berapi-api. Perbedaan latar belakang suku, budaya, dan agama harus kami hadapi dan hargai sebagai realitas yang sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin.
Kebahagiaan hari itu semakin lengkap saat Bu Evi menceritakan bahwa Pak Wayan memberikan apresiasi hangat kepada kami. Mendengar bahwa cara kami berinteraksi dan berkoordinasi lewat pesan WhatsApp dinilai sangat santun, menyejukkan, dan membuat pihak pura merasa nyaman, memberikan rasa bangga yang luar biasa di dalam hati. Dari aspek dakwah, ada rasa syukur karena secara tidak langsung kami telah belajar menerapkan prinsip amar ma’ruf lewat etika berkomunikasi yang baik.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian observasi di tiga rumah ibadah yang berbeda di Solo, bus kami mulai bergerak pulang. Namun sebelum benar-benar kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten sebagai tempat istirahat dan pemberhentian terakhir. Masjid megah dengan menaranya yang menjulang tinggi ini menjadi tempat yang pas untuk meluruskan kaki yang lelah, menunaikan salat, sekaligus merebahkan penat. Duduk di pelataran masjid yang berangin sore itu, ditemani obrolan santai bersama teman-teman, menjadi momen refleksi yang tenang sebelum perjalanan berakhir.
Ketika malam mulai turun dan bus kembali bergerak pulang meninggalkan Klaten menuju Yogyakarta, rasa lelah di fisik seolah terbayar lurus oleh pengalaman berharga yang kami dapatkan. Di pundak kami, tugas akademik untuk menyusun laporan ilmiah memang sudah menanti. Namun di dalam batin, ada rasa hangat dan pemaknaan baru yang jauh lebih penting. Perjalanan “One Day at Surakarta” ini pada akhirnya menjadi momen berharga bagi kami, KPI 25; sebuah titik di mana kami tidak hanya belajar menjadi jurnalis yang peka melihat situasi, tetapi juga belajar merawat empati, saling menghargai, dan tumbuh bersama sebagai satu keluarga besar.
Penulis Raisya Puan Syahdillah | Editor Qisthiyatun Nafi’ah