Kalijaga.co – Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2025 sukses menggelar kegiatan studi lapangan bertajuk “One Day at Surakarta” pada Rabu (20/5/2026). Agenda mandiri yang telah dipersiapkan selama dua setengah bulan ini dilaksanakan sebagai pemenuhan komponen penilaian akademik wajib untuk mata kuliah Studi Agama Kontemporer.
Perjalanan dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan titik kumpul di barat Gedung Convention Hall (CH) kampus UIN Sunan Kalijaga. Menggunakan armada bus, para mahasiswa yang kompak mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) angkatan ini menuju Kota Surakarta untuk mengunjungi rute destinasi religi, yakni Vihara Dhamma Sundara, Masjid Keraton Surakarta, dan Pura Indraprastha, sebelum akhirnya menyambangi Masjid Agung Al-Aqsha Klaten sebagai titik pemberhentian terakhir sebelum bertolak kembali ke Yogyakarta.
Dosen pengampu mata kuliah Studi Agama Kontemporer, Evi Septiani Tavip Haya, menjelaskan bahwa urgensi utama dari studi lapangan ini adalah membuka ruang perjumpaan dan dialog interaktif langsung dengan para penganut agama lain. Menurutnya, hal ini krusial untuk menjembatani teori yang didapatkan mahasiswa di dalam kelas dengan realitas sosial keagamaan yang ada di lapangan.
“Melalui studi lapangan ini, kami berharap dapat mengubah pemahaman mahasiswa yang semula sekadar teks-teks yang dibaca lewat referensi kuliah, menjadi sebuah pengalaman hidup yang dinamis. Mahasiswa bisa mengenal secara dekat bagaimana realitas keberagaman itu dirawat,” ujar Evi saat memberikan keterangan.
Lebih lanjut, Evi juga menekankan pentingnya membangun perspektif moderasi beragama di era kontemporer, terutama di tengah derasnya arus informasi dan isu keberagaman di media sosial. Sebagai calon komunikator Islam (mahasiswa KPI), pola pikir yang seimbang dan budaya check and recheck menjadi hal yang mutlak diterapkan agar tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita keagamaan yang belum tentu benar.
“Tugas kita sebagai orang KPI adalah untuk tidak serta-merta langsung membagikan atau menanggapi dengan berapi-api ketika melihat suatu tayangan atau berita tentang konflik agama yang muncul di sekitar kita. Kita harus melakukan check and recheck, bukan sekadar ikut emosi. Perbedaan latar belakang suku, budaya, dan agama harus dipandang sebagai realitas sosial yang harus dihadapi dan dihargai, sejalan dengan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin,” tambahnya.
Kesan positif pun datang dari para tokoh agama di lokasi studi. Evi menceritakan bahwa pihak pengelola rumah ibadah, salah satunya Wayan, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kesantunan dan etika komunikasi yang ditunjukkan oleh mahasiswa serta panitia pelaksana KPI 25, baik melalui komunikasi digital maupun saat berinteraksi langsung di ruang aula diskusi. Berdasarkan aspek dakwah, etika tersebut dinilai sebagai bentuk implementasi nyata dari amar makruf yang menyejukkan.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Awal Rijalil Baqi yang akrab disapa Awal, menjelaskan bahwa penentuan destinasi Solo terpilih berdasarkan hasil voting internal kepanitiaan yang kemudian dipersiapkan secara matang. Awal juga tidak melihat adanya berbagai tantangan dinamis selama masa persiapan hingga hari pelaksanaan, mulai dari pencarian waktu rapat di tengah kesibukan mahasiswa hingga kendala teknis di hari-H karena bertepatan dengan agenda wisuda universitas yang menyulitkan penentuan titik kumpul dan logistik. Namun, tantangan tersebut berhasil dilewati berkat kerja keras seluruh tim.
Di sisi lain, proses panjang di balik layar ini diakui telah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Ketua Angkatan KPI 2025, Daris Abyan Nafi’a, mengungkapkan bahwa agenda mandiri ini memakan waktu persiapan kurang lebih selama dua setengah bulan hingga akhirnya bisa terealisasi dengan baik.
“Proses persiapan ini kurang lebih dua bulan setengah, dan bersyukur semua berjalan lancar dan baik. Karena ini agenda wajib, tentu teman-teman angkatan 25 sangat antusias untuk mengikutinya. Terkait tantangan, Alhamdulillah teman-teman tidak keberatan untuk dilaksanakan studi lapangan ini, mereka justru senang karena kuliah tidak hanya di dalam kelas melainkan bisa mempelajari secara langsung di lapangan,” ungkap Daris.
Daris juga menambahkan bahwa koordinasi antar-mahasiswa relatif berjalan dengan tertib. Meski sempat ada sedikit keterlambatan waktu keberangkatan karena harus menunggu seluruh peserta berkumpul, hal tersebut tidak mengurangi kekondusifan agenda.
“Alhamdulillah tidak sulit mengoordinasikan teman-teman sehingga acara ini berjalan dengan tertib. Kemarin diskusi di lokasi juga berjalan lancar, dan agenda ini sukses berjalan tentu karena besarnya antusiasme dari teman-teman semua,” imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Alhilal Hilmi selaku Wakil Ketua Angkatan. Hilal menjelaskan bahwa kepanitiaan ini sengaja dibentuk dengan memberikan peluang bagi mahasiswa yang belum sempat berkontribusi dalam kepengurusan angkatan agar bisa andil bersama. Terkait manajemen kendala di hari-H yang sempat terlambat, jajaran panitia bergerak cepat mengambil keputusan demi menjaga ketepatan waktu.
“Karena waktu keberangkatan terpotong akibat saling menunggu, kami terpaksa memotong waktu untuk briefing pagi. Rencana awalnya briefing berjalan selama 15 menit, namun langsung saya potong menjadi kurang dari 10 menit saja karena pukul 07.00 WIB bus harus sudah on time bergerak. Bersyukur koordinasi lewat koordinator kelas terjalin sangat lancar sehingga situasi tetap terkendali,” jelas Hilal.
Antusiasme dan esensi dari studi lapangan ini pun dirasakan langsung oleh Dani Bagas Setiono, salah satu mahasiswa yang akrab disapa Dono. Menurutnya, datang langsung ke lapangan dan berdialog dengan pemuka agama memberikan pengalaman rasa yang jauh berbeda dibandingkan belajar teori di dalam kelas. Ia mengaku sangat terkesan dengan sambutan hangat yang diberikan oleh pihak pengelola rumah ibadah sepanjang kunjungan.
“Bedanya terasa sekali, karena kalau di kelas kita hanya mendengarkan teori, sementara kemarin kita datang langsung dan benar-benar disambut dengan sangat terbuka. Melalui dialog langsung, pemahaman kami bertambah, terutama melihat bagaimana kesakralan sebuah keyakinan dirawat secara nyata di lapangan,” ungkap Dono.
Kegiatan studi lapangan yang ditujukan untuk melatih kepekaan sosial-keagamaan ini akhirnya ditutup dengan perjalanan kembali menuju Yogyakarta pada sore hari. Melalui pengamatan langsung ini, mahasiswa KPI 2025 kini siap untuk melengkapi tugas pada mata kuliah Studi Agama Kontemporer sebagai penilaian akademis mereka.
Penulis Raisya Puan Syahdillah | Editor Qisthiyatun Nafi’ah