crossorigin="anonymous">

Air Masjid Kampus Kerap Mati, Mahasiswa dan Petugas Taman Terdampak

Kalijaga.co – Air Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga kerap mati, terutama pada sore hari dan saat salat Jumat. Pasalnya, sumur masjid dipakai bersamaan dengan kantin di bawahnya, sementara musim kemarau membuat permukaan air tanah menjadi surut. Kondisi tersebut membuat mahasiswa kesulitan berwudu dan petugas taman tidak dapat menyiram tanaman.

Faiq Tri Laksana, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi  (FST), mengaku kesulitan mendapatkan air sepulang kelas bahasa di hari Rabu. Ia biasa salat asar di masjid karena ada Program Pendampingan Keagamaan dan Keindonesiaan (PPKK) di sana. Saat hendak wudu, keran biasanya sudah mati, apalagi  di kamar mandi. Untuk itu, ia bergeser wudu di sebelah pos satpam, titik yang airnya tidak ikut mati. Namun, untuk menyeberang ke sana, ia harus meminjam sandal secara bergantian.

Kesulitan tersebut tak hanya ia rasakan saat berwudu saja.

“Kemarin mau kencing, nggak ada airnya. Jadi nggak jadi kencing, ditahan, terus kencing di kos temen,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Aksa saat diwawancarai pada Jumat (16/10).

Smart Water Station (SWS), tempat pengisian air minum di masjid yang tak berfungsi

Senada dengan itu, Yogi Mahendra, mahasiswa Teknik Industri juga mengeluhkan hal serupa. Menurutnya, air masjid mulai sering mati sejak perkuliahan aktif dimulai, sekitar pertengahan September. Selain air di tempat wudu, Smart Water Station (SWS), tempat untuk mengisi ulang air minum di masjid pun ikut mati, sehingga ia harus mengisi air untuk  botolnya di gedung fakultas.

Yogi mengatakan bahwa kabar air masjid mengalami kendala itu menyebar dari mulut ke mulut di antara mahasiswa.

“Kadang pas sudah ke masjid, terus anak-anak pada ngomong kalau nggak ada air. Jadi sekalian pulang aja, salat di kos,” ungkapnya.

Selain mahasiswa, Yana selaku petugas taman masjid juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengatakan bahwa air yang mati membuatnya tak dapat menyiram tanaman. Setiap hari, ia bertugas sejak pukul 06.00 hingga pukul 14.00,  dan menyiram tanaman membutuhkan waktu dua sampai tiga jam setiap harinya. Menurut pengakuannya, dalam seminggu, air dapat mati sekitar satu hingga dua hari.

Selain itu, penyiraman tanaman juga terpaksa ia hentikan ketika mendekati salat jumat. Jika ia tetap menyiram, maka air wudu untuk jamaah bisa habis sebab tampungan air yang tersedia hanya satu. Namun, ia khawatir jika air terus-menerus mati, hal itu akan berdampak pada tanaman.

“Ya nanti tanaman pada mati karena nggak bisa nyiram,” tuturnya saat dimintai keterangan di taman masjid.

Saat air mati, ia terpaksa hanya membersihkan daun kering dan mencabut rumput liar. Ia sendiri tidak mengetahui penyebab pasti air mati.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Takmir Masjid, Anwar, menjelaskan bahwa air mulai sering mati sejak pertengahan September lalu. Menurutnya, kemarau membuat permukaan air sumur surut sehingga selang tak lagi dapat menjangkau air. Selain itu, Sumber air masjid tersebut juga sama dengan kantin Suka Halal Foodcourt. Akibatnya, kata Anwar, ketika menjelang magrib air kerap habis karena sudah terpakai sejak siang. Hingga  kini, air masih kadang hidup-mati.

Sebagai penanganan sementara, pihak masjid telah menyediakan tempat wudu alternatif di samping kantor takmir. Air keran tersebut bersumber dari sumur yang berbeda dengan yang ada di masjid. Ia juga sudah mengimbau para jamaah setiap kali air masjid mati.

“Tetap ada himbauan lewat pengumuman dari speaker,” jelas Anwar saat diwawancarai di kantornya.

Selain himbauan dari pengeras suara, pihak masjid juga sudah mengimbau melalui selebaran yang ditempel di area dinding tempat wudu

Untuk jangka panjang, Anwar menjelaskan pihak takmir sedang menambah selang dan membeli mesin pompa baru agar penyedotan lebih kencang. Namun, ia juga belum dapat memastikan kapan perbaikannya akan selesai.

Berdasarkan pemantauan, pada Kamis  sore (15/10), air masjid masih belum menyala,  Sementara itu, Aksa berharap air masjid segera diperbaiki karena air adalah kebutuhan paling dasar dalam beribadah. Sedangkan, Yogi  menginginkan kejadian ini tidak terulang sebab sangat merugikan mahasiswa.

“Kasihan mahasiswa yang sudah bayar UKT,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *