crossorigin="anonymous">

Bahasa Adalah Kunci: Banyak Mimpi yang Dititipkan dalam Ruang UKM SPBA UIN Sunan Kalijaga

Kalijaga.co- “Beyond borders through languages: connecting culture, creating future” (Melampaui batas melalui bahasa: menghubungkan budaya, menciptakan masa depan) menjadi tema kegiatan penerimaan anggota baru UKM SPBA 2026.

Sabtu, 10 Oktober 2026, UKM SPBA mengadakan rangkaian kegiatan terakhir penerimaan anggota baru atau biasa disebut Language Camp di Youth Center Yogyakarta. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Studi Pengembangan Bahasa Asing (SPBA) UIN Sunan Kalijaga merupakan UKM generasi awal yang didirikan pada 22 September 1999 oleh Bapak Asrofi Hilal, Hafiz Marthius Hafizah, Abdul Hamid, Abdur Rahman, dan Suhadi. Bahasa yang dikembangkan dalam UKM ini meliputi bahasa Inggris, Arab, Prancis, dan Jepang.

Berawal dari keinginan mereka ketika menjadi mahasiswa untuk menciptakan kultur bahasa asing yang asyik, hidup, dan menyenangkan di lingkungan kampus, UKM SPBA terus berkembang sampai saat ini dengan lebih dari 300 pendaftar setiap tahunnya dan berhasil menjadi UKM besar di UIN Sunan Kalijaga. Walaupun demikian, divisi pengembangan bahasa Prancis tidak dilanjutkan per periode 2026–2027 ini akibat kurangnya peminat, mengingat perubahan zaman dan pengaruh budaya yang telah bergeser.

Language Camp (LC) menjadi tempat di mana langkah awal peserta merangkai mimpi-mimpi mereka di UKM SPBA. Akbar Taher (19), mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam yang merupakan salah satu peserta, memilih UKM SPBA divisi Inggris dengan sub-divisi public speaking. Harapannya, ia dapat melatih kemampuan berbicara di depan umum dengan baik. Akbar percaya bahwa bahasa dan komunikasi adalah modal dasar yang akan mendatangkan banyak peluang karier di masa mendatang.

“The limits of my language mean the limits of my world. Keterbatasan bahasa membuat kita juga terbatas untuk mengakses dunia di luar yang kita tahu. Kegiatan Language Camp menjadi tempat saya belajar banyak hal baru. Yang paling saya rasakan setelah kegiatan selesai adalah saya sadar bahwa kemampuan saya masih sangat terbatas. Saya akan terus belajar meningkatkan (upgrade) kemampuan bahasa sebagai ‘paspor tanpa batas’ dan meningkatkan kualitas diri agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi,” ucap Akbar.

Selain peserta, para pengurus juga merasakan perubahan besar dalam hidup mereka setelah memiliki bekal kemampuan berbahasa asing yang baik. Ketua Umum UKM SPBA, Charysha Syadila (21), mahasiswa program studi Ilmu Hukum, bercerita tentang bagaimana UKM SPBA bisa membawanya ke posisi yang sekarang.

“Dulu waktu sekolah, kebetulan saya punya dasar (basic) dalam berbahasa asing, terutama bahasa Arab. Ketika kuliah, saya kenal UKM SPBA dan tertarik mendaftar pada periode 2023, di tahun pertama kuliah. Namun, yang saya pilih bukan divisi Arab, melainkan divisi Inggris. Berawal dari sana, saya mulai aktif mengikuti kegiatan UKM SPBA, ikut berbagai kepanitiaan, sampai menjadi wakil ketua pelaksana Festival Budaya, event besarnya UKM SPBA.

Pada periode 2026, ketika musyawarah anggota, nama saya masuk sebagai delegasi kandidat Ketua Umum UKM SPBA. Lanjut ke tahap seleksi, eh… ternyata masuk top 5. Pembacaan visi-misi, eh… masuk top 3. Sampai tahap terakhir pada seleksi tanya jawab dengan pengurus sebelumnya, dan akhirnya terpilih.”

Charysha tidak hanya unggul dalam keorganisasian. Bahasa telah membawanya mengukir banyak prestasi. Ia membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa perubahan kecil yang ditekuni dengan konsisten dapat membawa perubahan besar dalam hidup dan mimpi-mimpi yang pernah ia angankan.

Selain sebagai langkah awal bagi anggota baru, Language Camp UKM SPBA merupakan ruang kebersamaan yang mempererat silaturahmi antaranggota. Charysha senang karena peserta, panitia, pengurus, demisioner, dan pendiri UKM SPBA kompak dalam mensukseskan acara ini.

“Harapan saya setelah Language Camp ini selesai, anggota baru terus semangat dan berpegang pada tujuan mereka, tidak malas-malasan, apalagi sampai hilang kabar. Pengurus akan selalu berusaha memberikan ruang dan lingkungan yang asyik untuk sama-sama belajar bahasa asing tanpa takut diuji atau dihakimi (judge) dengan kata-kata seperti ‘sok Inggris’ dan sebagainya,” tutup Charysha.

Di era globalisasi seperti sekarang, belajar bahasa asing merupakan bekal yang sangat membantu seseorang dalam berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai negara. Bahasa menjadi jembatan untuk memperluas pengetahuan dan membangun hubungan dengan masyarakat dunia.

Terakhir, di balik suksesnya sebuah kegiatan, pasti ada manajemen kepanitiaan yang luar biasa. Salwa Haifa Zahra (21), mahasiswa program studi Hukum Tata Negara sekaligus Ketua Pelaksana serangkaian kegiatan penerimaan anggota baru dan Language Camp, mempertegas bahwa keinginan dan mimpi-mimpi adalah tanggung jawab setiap individu.

“Jika kita ingin terus berkembang, itu tergantung pada proses yang kita pilih. Bahasa memberikan kita kunci untuk mengakses banyak hal yang sebelumnya tidak bisa kita jangkau; bukan hanya bahasa asing, tetapi juga bahasa mata, bahasa tubuh, dan bahasa isyarat. Saya merupakan contoh orang yang tumbuh dari nol di UKM SPBA. Untuk itu, saya berharap semua anggota bisa menjadikan UKM SPBA ini sebagai rumah untuk belajar, mengasah kemampuan diri, dan menemukan hal-hal baru yang belum pernah diakses melalui bahasa,” jelas Salwa.

Melalui bahasa, kita akan melihat dengan mudah bagaimana dunia di luar sana berjalan. Dengan bahasa, kita akan mengerti bagaimana seseorang saling menunjukkan kasih sayang. Dengan bahasa pula, banyak mimpi yang kini terasa makin dekat. Bahasa adalah paspor tanpa batas sebagai bekal kita menjelajahi tempat-tempat yang asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *