Kalijaga.co – Perjalanan paling berkesan kadang lahir bukan dari itinerary yang matang, melainkan dari kenekatan yang nyaris tidak masuk akal.
Sore itu, saya bersama dua teman perempuan berangkat dari Yogyakarta menuju Wonosobo sekitar pukul lima sore. Tujuan kami sederhana: ingin merasakan salat Idul Adha di Lapangan Garung Wonosobo yang belakangan viral di TikTok karena pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing yang berdiri megah di hadapan jamaah.
Tidak ada persiapan yang benar-benar matang. Kami hanya membawa beberapa makanan, tikar, selimut, dan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sekitar pukul delapan malam kami tiba di kawasan Bedakah, lereng Gunung Kembang. Udara dingin 19 derajat celcius mulai menusuk jaket, tetapi suasana kebun teh malam itu terasa menenangkan. Lampu-lampu Kota Wonosobo terlihat kecil dari kejauhan, seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi.
Kami memutuskan berhenti untuk makan malam dan nge-grill kecil-kecilan di depan Villa Diorit Wonosobo. Malam itu sederhana sekali, memanggang makanan, berbagi cerita, bercanda, tertawa, dan sesekali menikmati city light dari atas bukit.
Saat berada di tengah suasana itu, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami.
“Kalian dari mana?” tanyanya ramah.
Kami yang awalnya sedikit kaget akhirnya menjawab kalau kami dari Jogja dan ingin salat Eid di Lapangan Garung yang sedang viral di media sosial.
“Kalian sudah makan belum? Kalau belum nanti saya kasih Indomie banyak,” katanya lagi.
Kami menolak halus karena merasa sudah membawa cukup makanan. Tidak lama kemudian bapak itu pergi. Namun, beberapa menit setelahnya, beliau kembali sambil benar-benar membawa beberapa bungkus Indomie.
Kami saling berpandangan sambil menahan tidak enak hati.
“Terima kasih banyak, Pak. Jadi merepotkan,” jawab kami.
Malam berlanjut hangat. Setelah selesai makan dan membuat beberapa konten, bapak itu datang lagi lalu mulai mengobrol lebih jauh.
“Kuliah di mana?”
“UIN Sunan Kalijaga, Pak.”
“Jurusan apa?”
“KPI, Komunikasi dan Penyiaran Islam.”
Percakapan yang awalnya sederhana berubah menjadi diskusi panjang tentang dunia komunikasi. Bermula dari situlah kami tahu bahwa bapak tersebut ternyata lulusan Public Relation sekaligus manajer di Villa Diorit Wonosobo.
Namanya Eliot.
Jujur saja, sejak awal saya memang merasa beliau bukan orang biasa. Cara berbicara, cara menjelaskan sesuatu, hingga cara beliau mendengarkan membuat saya sadar bahwa pengalaman hidup seseorang memang terlihat dari tutur katanya.
Beliau mulai menjelaskan perbedaan Public Relation dan marketing, pentingnya skill relasi dalam dunia jurnalistik, hingga bagaimana dunia komunikasi hari ini berubah sangat cepat.
“Teknik jurnalistik basic sekarang saja tidak cukup,” katanya.
“Kalian harus punya skill PR. Itu mahal di dunia kerja. Cara membangun relasi, cara bicara dengan orang, cara membawa diri, itu penting.”
Beliau juga menyarankan kami untuk serius mengembangkan kemampuan editing, fotografi, broadcasting, dan content creator jika ingin bertahan di industri media saat ini.
Hal yang paling membekas justru ketika beliau berkata, “Kalau masih semester empat, kejarlah experience. Stop terlalu sibuk organisasi kalau tidak memberi skill nyata. Perusahaan sekarang lebih melihat pengalaman dan kemampuan.”
Kalimat itu membuat saya diam cukup lama.
Sebagai mahasiswa, sering kali kami sibuk mengejar status aktif organisasi tanpa benar-benar tahu skill apa yang sedang dibangun untuk masa depan.
Beliau melanjutkan, “Jangan sampai lulus kuliah cuma berhenti di pekerjaan gaji UMR. Tingkatkan mindset kalian.”
Entah kenapa, nasihat itu terasa berbeda ketika diucapkan di tengah dinginnya Wonosobo, ditemani kabut malam dan suara kendaraan yang sesekali lewat.
Namun, malam belum selesai memberi kejutan. Sekitar pukul sepuluh malam, Pak Eliot bertanya, “Kalian nanti tidur di mana?”
Kami saling menatap bingung.
Awalnya kami berniat tidur di Terminal Mendolo Wonosobo. Namun, malam semakin larut, suhu semakin dingin turun di 16 derajat celcius, dan kami tidak membawa tenda. Jalanan menuju basecamp pendakian juga terasa terlalu gelap untuk dicari malam-malam seperti itu.
Saya Yogi sebagai satu-satunya laki-laki di perjalanan itu, saya mulai panik sendiri. Saya harus memastikan dua perempuan teman saya aman malam itu.
Lantas, di saat kami benar-benar bingung, Pak Eliot menawarkan sesuatu yang bahkan tidak kami bayangkan sebelumnya.
“Kalau mau, menginap saja di ruang tamu atas villa.”
Awalnya saya tidak percaya diri menerima tawaran itu. Tetapi keadaan memang tidak memberi banyak pilihan. Pada akhirnya malam itu kami menginap di Villa Diorit hingga pukul tiga pagi.
Saya masih ingat perasaan campur aduk malam itu. Antara lega, tidak menyangka, dan diam-diam bersyukur karena dipertemukan dengan orang sebaik itu.
Bayangkan kalau malam itu kami tidak bertemu beliau.
Mungkin kami benar-benar tidur di terminal. Atau mungkin malah kebingungan mencari tempat singgah di tengah suhu dingin Wonosobo.
Lucunya lagi, Pak Eliot bilang kalau terminal malam hari ternyata tutup.
Pukul tiga pagi kami bangun dan bersiap menuju Lapangan Garung. Udara dingin menusuk wajah sepanjang perjalanan. Namun, semua langsung terbayar ketika kami tiba di sana.
Langit perlahan terang.
Gunung Sindoro dan Sumbing berdiri gagah di depan mata. Kabut tipis bergerak pelan di antara manusia-manusia yang datang membawa doa terbaik mereka di Hari Raya Idul Adha.
Saya terdiam cukup lama melihat pemandangan itu.
Rasanya seperti sedang diingatkan bahwa dunia masih dipenuhi banyak hal baik: alam yang indah, perjalanan yang tidak terduga, dan orang-orang asing yang tulus membantu tanpa alasan.
Perjalanan ini mengajarkan saya satu hal sederhana: kadang Tuhan bekerja lewat orang-orang baik yang datang di waktu yang tepat.
Kami memang berangkat ke Wonosobo hanya bermodal nekat. Tetapi kami pulang membawa cerita yang mungkin akan kami selalu ingat bersama Kawan dan orang baik.
Editor Zahrah Suci Al Aliyah | Penulis Ahmad Nuryogi & Hijratul Adawiyah