Kalijaga.co – Unit kegiatan mahasiwa (UKM) Paduan Suara Mahasiwa (PSM) Gita Savana UIN Sunan Kalijaga menggelar acara Concerto XIX bertajuk tema Evarielle di Auditorium Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta pada Jum’at (20/06/26).
Concerto tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah penyanyi yang terlibat dalam konser tahun ini meningkat dua kali lipat, dari sekitar 30 peserta menjadi 60 peserta.
Peningkatan jumlah anggota yang tampil menjadi alasan utama panitia memilih tempat Auditorium SMM sebagai lokasi pelaksaan Concerto ke XIX. Mereka menilai kapasistas panggung dan ruang pertunjukan di Auditorium SMM dapat menampung jumlah penampil yang terus bertambah.
Nafisa Nasma, selaku pimpinan produksi (pimro) menjelaskan bahwa bertambahnya jumlah peserta memberikan tantangan tersendiri bagi panitia. Setiap panitia menjalankan tugas selama proses persiapan berlangsung. Selain itu, panitia juga harus mempersiapkan dirinya untuk tampil di atas panggung.
“Seluruh panitia juga merupakan penyanyi yang akan tampil di atas panggung. Jadi tantangannya adalah bagaimana memastikan semua panitia tetap menjalankan jobdesk masing-masing di tengah jadwal latihan yang padat,” ujarnya.
Selain tambahnya jumlah peserta, Concerto XIX juga menghadirkan tema baru yaitu Evarielle. Tema tersebut diambil dari makna “pulang” sebagai perjalanan panjang seseorang dengan penuh cerita mengenali dirinya sendiri. Evarielle juga memiliki jargon yang berbunyi “Tumbuh dalam lembutnya nada”.

Afif, sebagai Art Director menjelaskan bahwa mereka ingin mengajak penonton melakukan refleksi melalui lagu.
“Melalui lagu-lagu yang dibawakan, kami ingin mengajak penonton untuk merefleksikan perjalanan hidup dan menyadari kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri,” katanya.
Tahun ini Afif menghadapi tantangan baru. Tantangan tersebut adalah menerapkan sistem kepelatihan yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, serta mulai berani untuk memilih lagu-lagu yang memiliki tingkat kesulitan teknik yang lebih tinggi.
Menurutnya, tantangan terbesar yang diterapkan dari sistem kepelatihan saat ini adalah meningkatkan kualitas repertoar dalam mengembangkan kemampuan anggota PSM Gita Savana.
“Para penyanyi dituntut tidak hanya menghafal lagu, tetapi bagaimana memahami secara makna, mengekspresikan wajah, koreografi, dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton,” jelasnya.

Di sisi lain ada pula peran krusial dari kepanitiaan acara ini yaitu Agasha yang merupakan kordinator dari seluruh crew yang berada di panggung. Ia bertanggung jawab terhadap hal teknis dari berbagai aspek seperti tata cahaya, tata suara atau audio, serta pengaturan jalannya acara yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.
“Yang menjadi tantangan terbesar adalah bertanggung jawab memastikan seluruh crew berjalan sesuai rencana dengan baik saat pelaksanaan acara sedang berlangsung,” ucap Agasha.
Meski esensi Concerto sebagai ajang pengukuhan anggota baru tetap dipertahankan, panitia menyebut terdapat sejumlah perbedaan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain tema dan konsep visual yang baru, penambahan jumlah peserta juga memengaruhi kebutuhan penyelenggaraan, termasuk pemilihan venue dan penyesuaian harga tiket.
Jika pada tahun sebelumnya tiket VIP dibanderol sekitar Rp75 ribu, pada penyelenggaraan tahun ini harga tersebut menjadi kategori tiket reguler. Penyesuaian dilakukan untuk menutupi kebutuhan produksi yang meningkat seiring bertambahnya jumlah peserta dan penggunaan lokasi pertunjukan yang lebih besar.
Melalui Concerto XIX Evarielle, PSM Gita Savana berharap dapat menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang refleksi bagi penonton. Jumlah peserta yang meningkat dan konsep yang lebih matang, konser ini menjadi salah satu penyelenggaraan Concerto terbesar dalam perjalanan PSM Gita Savana hingga saat ini.
Penulis: Ahmad Nuryogi | Editor: Nayla Nur Hidayah