Kalijaga.co – Komunitas Belajar Literasi Yogyakarta menyelenggarakan festival buku bertajuk “Festival Kisah dari Rumah” sekaligus peluncuran novel perdana karya Kalis Mardiasih pada Minggu (21/6/2026) di We Love Youth, Krapyak, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Festival ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai komunitas serta masyarakat umum dari berbagai daerah.
Festival tersebut menghadirkan rangkaian acara, antara lain bazar buku, baca senyap, dan sesi berbagi (sharing session) yang dihadiri langsung oleh penulis novel Makamkan Ibu di Samping Ayah, Kalis Mardiasih. Acara ini juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai komunitas dan penerbit buku, di antaranya We Love Youth, Akal Buku, Empowerly Community, Serta Kawan Puan.
Lintang (22), selaku panitia festival, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai perayaan sederhana atas peluncuran novel perdana Kalis Mardiasih.
“Acara ini dibagi menjadi tiga sesi. Yang pertama adalah sesi baca senyap dan sharing session, kemudian ada journaling, dan puncaknya ada bedah buku serta talkshow. Dalam talkshow juga ada penampilan musik dan dramatic reading,” ujar Lintang.
Sesi baca senyap dan sharing session diikuti oleh ratusan peserta, mulai dari tamu undangan hingga para pegiat literasi. Salah satu peserta, Dita, dari masyarakat umum mengungkapkan rasa senangnya dapat hadir dalam festival tersebut.
“Saya merasa senang mendengar cerita yang ada di novel Mbak Kalis karena sangat relate dengan kehidupan di sekitar saya. Selain dapat teman baru asal Jogja dan kami sudah saling bertukar nomor WhatsApp, saya juga berjumpa dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Yang paling menyenangkan tentunya bertemu dengan idola, Mbak Kalis itu sendiri,” jelas Dita.
Dita menambahkan bahwa novel yang baru diluncurkan ternyata memiliki isi yang lebih kaya daripada judulnya. Ia menemukan perspektif baru berupa ketidaksempurnaan setiap tokoh dalam novel tersebut. Menurutnya, cerita dalam novel itu memiliki kedekatan emosional dengannya, meski tidak sepenuhnya mencerminkan kehidupannya secara langsung.
Peserta lain, Maria AL-Zahra dari Komunitas Kawan Puan, juga menyampaikan bahwa kehadirannya dalam sesi baca senyap dan sharing session terasa sangat berkesan karena dapat berbagi sekaligus mendengarkan pengalaman orang lain.
“Kita bisa saling mengobati trauma masing-masing. Selain itu, kita bisa duduk sejajar dan saling mendengarkan. Di sini saya sudah bisa bertemu dengan kawan-kawan yang lain,” ucap Ara.
Ara menilai festival buku ini memberikan manfaat yang besar, terutama sebagai kegiatan produktif di hari libur. Ia juga menyebut novel karya Kalis Mardiasih mampu membuat pembacanya larut dalam perasaan.
“Buku ini sangat mengobati perasaan yang sedang kacau dan berantakan, seperti yang diungkapkan oleh para pembaca dalam sharing session tadi. Selain itu, banyak pembaca yang merasa cerita yang diangkat dalam novel Mbak Kalis sangat relate dengan kehidupan mereka,” tutup Ara.
Reporter: Ashar, Siti Fatimah | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Ketika Logika Mistika Bertemu dengan Algoritma: Menjawab keraguan manusia terhadap mistis yang ditentang logika - 23 Juni 2026
- Ratusan Pegiat Literasi Hadiri Festival Kisah dari Rumah dan Peluncuran Novel Perdana Kalis Mardiasih - 23 Juni 2026
- Ketika Murid Dianggap Layaknya Celengan: Membedah Kritik Paulo Freire Terhadap Pendidikan Gaya Bank - 20 Juni 2026