crossorigin="anonymous">

Dari Hobi, Menghidupkan Tradisi: Jejak Langkah Sudarman Merawat Kesenian di Bantul

Kalijaga.co – Pesatnya perkembangan teknologi digital menjadikan handphone dan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Di balik arus modernisasi tersebut, masih ada sosok yang setia menjaga denyut budaya Jawa tradisional di wilayah Bantul Selatan. Sosok tersebut adalah Sudarman, pria berusia 60 tahun yang telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk melestarikan kesenian tradisional, khususnya seni karawitan.

Menurut Sudarman, seni bukan sekedar hiburan. Seni adalah ruang belajar, ruang kebersamaan, sekaligus jalan untuk membangun karakter masyarakat. Dikediaman yang sederhana, ia membangun sebuah sanggar karawitan yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa memandang usia dan latar belakang.

Perjalanan Sudarman dalam dunia seni dimulai sejak tahun 1993. Ketertarikannya terhadap budaya tradisional bermula ketika ia menyaksikan perlombaan ketoprak tingkat dusun di Panca Marga. Pertunjukan itu meninggalkan kesan mendalam baginya. Momen tersebut adalah awal Sudarman mengenal lebih dekat dunia seni pertunjukan tradisional.

Saat itu Sudarman didorong untuk ikut terlibat dalam lomba seni budaya. Ia mengikuti setidaknya enam cabang perlombaan seni tradisional, diantaranya karawitan, macapat, ketoprak, teater, dalang cerita, hingga pedalangan. Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat yang membentuk rasa cinta Sudarman terhadap seni budaya Jawa.

Perjalanan seni Sudarman adalah bukti bahwa ketekunan dalam menjaga akar budaya akan menghasilkan suatu kebanggaan. Dari panggung teater hingga lantunan macapat, berikut adalah visualisasi jejak langkah dan prestasi yang diraih Sudarman:

TahunEvent / Kategori PrestasiKeterangan
2008Lomba Karawitan (Refleksi Gempa Bantul)Juara 1
2013Lomba Macapat Kec. BantulJuara 2
2016Lomba Macapat (Harapan 1 & Juara 1 Guru SD)Juara 1 & Harapan 1
2017Festival KethoprakPemeran Pria Terbaik
2019Festival Teater (Kabupaten & Umum)Pemeran Pria Terbaik
2024Festival Karawitan (Bantul)Penggerong Terbaik

Bagi Sudarman menekuni seni budaya Jawa merupakan bentuk kepeduliannya terhadap budaya yang semakin hilang. Motivasinya menjadi pegiat seni yakni ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia merasa cara efektif untuk membangun kebersamaan masyarakat adalah dengan menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Memasuki tahun 1990-an, perjalanan Sudarman semakin berkembang ketika ia mulai menjadi pengajar seni budaya di tingkat Sekolah Dasar hingga menjadi pengajar di tingkat SMK dan mahasiswa. Saat ini telah tercatat lebih dari seribu siswa yang belajar kesenian dengannya.

Ia mengaku merasa bangga melihat anak muda yang masih mempunyai semangat belajar kesenian tradisional. Di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat budaya lokal tradisional terpinggirkan, semangat belajar generasi muda menjadi motivasi utama baginya untuk mengajarkan kesenian, khusunya kepada anak-anak.

“Saya senang masih ada anak muda yang suka dengan budaya tradisional. Sekarang ini hampir saja budaya tradisional tidak disukai anak muda. Ada sebagian anak muda yang datang jauh jauh kesini untuk belajar,” ujar Sudarman.

Di rumahnya yang sederhana terdapat sanggar karawitan yang dipenuhi berbagai alat musik gamelan. Terlihat setidaknya ada 20 jenis karawitan yang tersusun rapi didalam ruangan tersebut. Sanggar karawitan menjadi ruang belajar sekaligus ruang berkumpul bagi para pegiat seni.

Ada hal yang menarik, Sudarman tidak pernah memasang tarif dari siapapun yang ingin belajar disanggar tersebut. Baginya, melestarikan budaya tradisional jauh lebih penting daripada persoalan uang.

“Siapa saja boleh belajar disini, darimana saja juga boleh. Yang penting punya niat belajar” katanya dengan senyum sederhana.

Seni karawitan bukan hanya sekedar memainkan alat musik. Namun, terkandung nilai nilai filosofi yang bermanfaat untuk kehidupan. Menurutnya karawitan bukan hanya mengajarkan harmoni musik, namun juga harmoni dalam kehidupan sosial.

Sudarman menjelaskan bahwa dalam seni karawitan terkandung konsep “iso rumongso”, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Nilai ini mengajarkan seseorang untuk memiliki kesadaran diri, empati, dan memahami orang lain dalam kehidupan.

“Di dalam seni karawitan ada unggah-ungguh dan tata karma. Kalau nilai-nilai tersebut dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya tidak akan cekcok, congkrah, atau saling membenci satu sama lain,” ungkap Sudarman dalam sebuah wawancara.

Menurutnya, setiap pemain karawitan harus mampu menempatkan diri dalam hormoni sosial. Hal tersebut yang membuat Sudarman tetap melestarikan budaya Jawa tradisional. Tujuannya adalah menjaga warisan filofosi dan nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan masyarakat. Ia menilai seseorang yang memilki jiwa seni lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan mampu memahami orang lain.

Menurut Sudarman, seni juga berkaitan erat dengan jiwa kepemimpinan. Ia percaya bahwa seorang pemimpin harus mempunyai jiwa seni walaupun sedikit. Baginya seseorang yang tidak memiliki jiwa seni maka akan terlihat kaku.

“Sesuatu yang mengandung seni akan terlihat lebih menarik dibandingkan yang sama sekali tidak ada seninya. Sama halnya dalam sebuah kepemimpinan dan sosial,” tuturnya.

Kini, setelah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia seni, Sudarman tetap setia mengemban tanggung jawab mengajar dan tetap menjaga tradisi agar tidak tertelan oleh perkembangan zaman. Di tengah modernisasi dan kemajuan teknologi, ia membuktikan bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Melalui sanggarnya yang sederhana, ada secercah harapan bahwa generasi muda akan tetap mengenal, mencintai, serta tetap melestarikan budaya Jawa tradisional sebagai warisan budaya. Bagi Sudarman, selama masih ada kemauan yang kuat untuk belajar budaya tradisional, maka warisan bangsa akan tetap ada di hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *