Sore hari yang khidmat menyelimuti ruang Ballroom Teaching Industry Learning Center (TILC) Sekolah Vokasi UGM. Suasana larut dalam senyap, membawa setiap pasang mata tenggelam pada perenungan yang dalam. Jum’at, 19 Juni 2026, saat matahari mulai terbenam acara seminar bertajuk “Apakah Semua Hal Gaib Adalah Logika mistika?” diselenggarakan di ruang megah nan temaram yang menghasilkan suasana menenangkan.
Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Jama’ah Shalahuddin tersebut menghadirkan 3 narasumber dari berbagai latar belakang yang berbeda. Narasumber pertama yakni Ustaz Muhammad Faizar seorang ahli rukiyah kondang Indonesia dengan memakai kopiah kemudian ada Fajar Aditya, seorang konten kreator, penulis, dan storyteller Indonesia yang memiliki kanal Youtube RJL 5. Selain itu, Vier A Laventa seorang penulis dan Founder Mataram Libration Institute Yogyakarta turut hadir menjadi narasumber ketiga dalam acara tersebut.
Ratusan peserta terbawa pada keheningan dan seseorang dengan gagah, berdiri menyampaikan orasi dengan retorika yang menawan di depan. Mereka terlihat antusias mendengarkan narasumber yang menjabarkan mengenai hal gaib dan mistis, sedangkan pembahasan tersebut sering kali dianggap tidak menarik dan dianggap kuno di zaman modern saat ini.
Muhammad Faizar menjelaskan sebelum menilai apakah hal gaib masih relevan untuk dibahas di zaman modern saat ini, sebaiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan “gaib”. Ia menilai bahwa masyarakat modern saat ini seringkali gagal dalam memahami apa arti gaib yang sebenarnya.
“Gaib itu artinya tidak terlihat, adakah yang pernah mondok? kalau absen di pondok biasanya yang tidak datang ke kelas dianggap gaib. Lawan kata dari gaib apa? Hadir,” jelas Faizar, dalam menyampaikan materi di acara seminar tersebut.
Definisi yang disodorkan Faizar terasa mengalir begitu ringan, namun menyimpan beban yang berat. Menurutnya, masyarakat modern telah terlalu jauh menyempitkan makna ‘gaib’ hingga identik dengan hal yang ngeri dan mustahil. Padahal dalam khazanah Islam, gaib adalah segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau panca indra bukan sesuatu yang tidak ada.
Di era yang serba digital saat ini, pembahasan mengenai hal gaib dan mistis masih tetap dianggap relevan, karena hal gaib bukan hanya sekedar sesuatu yang berkaitan dengan makhluk. Terlebih dengan kemudahan teknologi informasi dan komunikasi konten-konten yang berkaitan dengan mistis dan gaib semakin banyak diproduksi demi meningkatkan sensasi dan engagement yang sering kali kurang adanya tanggung jawab dari konten kreator terhadap konten yang diproduksi.
Bagi Faizar, kemunculan konten-konten mistika di platform digital bukan sekadar masalah selera tontonan masyarakat. Hal tersebut juga berkaitan dengan akidah Islam. Dalam pemaparannya di seminar tersebut, ia menekankan bahwa Islam sejatinya telah memberi kerangka yang jelas yakni, ada batas antara mengimani yang gaib sebagai bagian dari iman, dan mengingkari yang dianggap sudah sangat berlebihan dan berbahaya terhadap akidah umat Islam.
“Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 1 sampai 5 menurut tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa tanda orang yang beriman adalah mempercayai adanya yang gaib, mengimani Allah, malaikat, surga, neraka, kehidupan setelah kematian. Kemudian mengimani alam jin dan perkara-perkara yang tidak tampak oleh panca indra kita,” jelas Faizar dengan nada yang seolah ingin memberikan ketegasan terhadap keraguan
Dunia antropologi melihat hal gaib dan mistis dengan pandangan yang berbeda. Percaya kepada hal gaib bukan hanya soal benar dan salah, akan tetapi bagaimana kearifan dari seseorang harusnya melihat hal itu dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Selain itu, mengenal lebih mendalam apa yang sebenarnya dipercayai masyarakat yang dianggap mitos sangat diperlukan. Fajar aditya menilai bahwa kepercayaan masyarakat terhadap mistis sangat berguna untuk menjaga keteraturan manusia dengan alamnya.
“Kadang kita suka menyederhanakan narasi yang ada. Seperti contohnya, ah memang sekarang masih ada hal-hal gaib? Seperti jin dan setan gitu. Ngapain orang ngelakuin pesugihan zaman sekarang begitu, memangnya masih bisa? Kita tidak bisa hanya menilai dari benar dan salah, akan tetapi pandanglah logika mistika dengan kacamata yang berbeda,” begitulah yang diucapkan oleh seorang konten kreator itu.
Dalam perspektif antropologi yang dibawanya, kepercayaan terhadap hal gaib dan mistis bukanlah tanda ketertinggalan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah menjaga keseimbangan manusia dengan alamnya. Mitos bukan sekadar cerita belaka namun, mitos adalah pagar tak kasat mata yang melindungi ekosistem dari tangan-tangan serakah manusia.
Narasumber ketiga, Vier A. Laventa hadir melengkapi percakapan dengan perspektif yang berbeda untuk menjembatani keduanya. Bahwa dalam kebenaran yang masih bersifat keabu-abuan, kearifan dan kerendahan hati adalah petunjuk yang paling tepat untuk melihat fenomena. Meski ketiganya lahir dari ladang keilmuan yang berbeda, mereka sepakat dalam memahami fenomena tak cukup hanya melihat dari satu sisi saja.
Acara seminar telah selesai namun, kepercayaan masyarakat terhadap mitos tak akan pernah usai. Ketika kita melihat orang tua yang telah rapuh dalam menyimpan ingatan, namun masih memegang teguh harapan pada sebuah mistika yang tak bisa dinalar bukan menjadi hak kita untuk menghakiminya. Sebagai orang yang terpelajar katanya kita perlu memahami fenomena bukan dengan kacamata logika semata tapi dengan kerendahan hati yang tidak tertutup oleh ambisi.
Di era ketika algoritma bisa memprediksi selera kita dan kecerdasan buatan bisa menggantikan peran manusia, namun manusia rupanya masih menyimpan ruang yang tidak mau sepenuhnya diserahkan pada logika. Dan di ruang itulah, mistika yang berperan sebagai penjaga keteraturan antara manusia, alam, dan juga kehidupannya.
Editor: Dhiya Husna Abida
- Ketika Logika Mistika Bertemu dengan Algoritma: Menjawab keraguan manusia terhadap mistis yang ditentang logika - 23 Juni 2026
- Ratusan Pegiat Literasi Hadiri Festival Kisah dari Rumah dan Peluncuran Novel Perdana Kalis Mardiasih - 23 Juni 2026
- Ketika Murid Dianggap Layaknya Celengan: Membedah Kritik Paulo Freire Terhadap Pendidikan Gaya Bank - 20 Juni 2026