crossorigin="anonymous">

Ketika Murid Dianggap Layaknya Celengan: Membedah Kritik Paulo Freire Terhadap Pendidikan Gaya Bank

Kalijaga.co – “Pernahkan Anda datang ke kampus dan duduk berjam-jam hanya mendengarkan dosen berbicara dan mencatat di buku, lalu pulang tanpa memahami apa yang telah kamu pelajari? Paulo Freire telah mencermati hal ini sejak lama, baginya pendidikan dengan model tersebut adalah fenomena penindasan secara halus.”

Dalam buku ini Freire mengkritik metode pendidikan gaya barat yang dinilai sebagai metode pendidikan gaya bank. Pertama, Freire melihat bahwa metode pendidikan tersebut adalah pendidikan yang menjadikan murid sebagai objek yang pasif, sama halnya seperti wadah kosong yang diisi dengan ilmu, pengetahuan dan informasi. Kemudian sang murid hanya mencatat apa yang telah disampaikan oleh seorang guru untuk lalu dihafalkan dan disimpan di dalam otak sang murid.

Kedua, Freire menilai bahwa metode seperti itu sama halnya sebuah penindasan secara halus yang tanpa disadari oleh seorang murid. Hal tersebut dikarenakan murid hanya dijadikan objek dalam transfer pengetahuan tanpa adanya membangun kesadaran murid dalam berpikir secara bebas. Dalam bukunya di bab I, Freire melihat fenomena tersebut sebagai upaya dehumanisasi. Hal tersebut dikarenakan dalam pendidikan gaya bank ada upaya merampas hak manusia sebagai makhluk yang merdeka dan bebas dalam berpikir. Ia juga mengkritik metode pendidikan gaya bank di dalam bab II, yang mana metode pendidikan seperti itu adalah upaya kaum penindas dalam melemahkan kemampuan berpikir kritis kaum tertindas dalam hal ini yakni murid agar mudah dikendalikan dan mudah untuk mengikuti apa yang kaum penindas inginkan.

Selanjutnya Freire menilai metode pendidikan gaya bank sebagai pendidikan yang layaknya menabung, dimana murid berperan sebagai sesuatu yang ditabung dan guru sebagai penabung. Alih-laih untuk berkomunikasi maupun berdialog, sang guru justru menjadi narator yang hanya berbicara. Sedangkan murid harus mendengarkan secara seksama serta mengingat lalu mengulang apa yang telah disampaikan guru.  Dalam konsep pendidikan model bank, pengetahuan dinilai layaknya sebuah hadiah yang diberikan oleh orang yang mereka anggap berilmu kepada orang yang dianggap kurang berilmu. Hal tersebut dianggap ketidakpedulian terhadap orang lain yang menjadikannya sebagai ideologi penindasan, yakni dengan menolak pendidikan sebagai proses pencarian.

Lalu apa metode pendidikan yang diusulkan oleh Paulo Freire sebagai metode pendidikan yang efektif untuk diterapkan?

Dalam bab selanjutnya Paulo Freire menawarkan metode pendidikan yang dinilai lebih humanis dibandingkan metode pendidikan gaya bank. Ia menyebutnya sebagai pendidikan hadap masalah atau bisa disebut sebagai pendidikan gaya dialogis, dimana hubungan guru dan murid bukan sebagai pengajar dan yang diajar, akan tetapi mereka berdialektika untuk saling bertukar gagasan dan saling belajar satu sama lain. Metode pendidikan dialogis dimulai dengan menumbuhkan kesadaran seorang murid yang dinilai sebagai mahkluk bebas dalam berpikir. Menurutnya pendidikan dialogis ini dipandang sebagai masa depan revolusioner yang bersifat profetik dan penuh harapan. Pendidikan ini menerapkan peningkatan kesadaran  dimana manusia dianggap  sebagai makhluk yang bebas terhadap dirinya sendiri.

Pendidikan model dialogis ini dianggap lebih humanis dan bebas dikarenakan pendidikan seperti ini menempatkan sebuah dasar bahwa manusia yang terkena dominasi harus berjuang untuk emansipasi mereka. Hal tersebut akan membuat guru dan murid menjadi subjek dari pendidikan dan menyingkirkan kesewenang-wenangan dan intelektualitas yang mengasingkan. Pendidikan dialogis juga membuat manusia mampu mengatasi persepsi mereka yang keliru akan realitas dan dinilai sebagai model pendidikan yang revolusioner yang tidak bisa melayani keinginan kaum penindas.

Dalam bab selanjutnya buku tersebut menjelaskan bagaimana terjadinya dialektika antara guru dan murid. Dialog dilihat sebagai pertemuan antara manusia yang dimediasi oleh dunia dan esensi dari dialog tak lain yaitu kata. Dengan mengucapkan kata-katanya sendiri manusia bisa mengubah dunia dengan cara menamainya, maka dialog menegaskan dirinya sebagai sarana dimana seseorang akan memperoleh makna sebagai manusia. Dialog adalah kebutuhan eksistensial manusia dan tidak  bisa disederhanakan sebagai tindakan menyimpan ide kepada orang lain, tidak juga sebagai bentuk permusuhan dan mencari kebenaran.

Meskipun begitu, Freire memandang dialog tidak akan hidup tanpa adanya cinta yang mendalam kepada dunia dan juga manusianya. Cinta pada saat yang sama adalah dasar dari dialog dan merupakan dialog itu sendiri. Hal tersebut menjadi tugas dari subjek yang bertanggung jawab dan tidak akan muncul ketika adanya dominasi di dalamnya. Disisi lain dialog juga membutuhkan kerendahan hati dan keyakinan yang menghasilkan hubungan horizontal dimana lahirlah sikap saling percaya diantara para pelakunya sebagai sikap yang logis. Hal tersebut tidak akan ditemukan dalam model pendidikan gaya bank yang dinilai anti dialog. Pada akhirnya dialog sejati tidak akan ada tenpa adanya pemikiran kritis dan hanya dialog yang mampu menghasilkan pemikiran kritis. Dalam dialog juga mengakui bahwa tidak adanya dikotomi di antara keduanya, serta menciptakan pemikiran yang melihat realitas sebagai proses dan perubahan bukan sebagai entitas yang statis. Tanpa dialog, tidak akan ada komunikasi dan tanpa komunikasi tak akan lahir pendidikan yang sejati.

Menurut saya pemikiran Freire juga mirip dengan pemikiran Maria Montesori, seorang filsuf asal Italia yang fokus pada pendidikan anak. Montessori melihat anak bukan sebuah wadah kosong yang kemudian diisi ilmu dan pengetahuan oleh seorang guru, akan tetapi anak memiliki naluri alamiah untuk berkembang dan mengeksplor apa yang ia sukai dan memiliki potensi yang ia kembangkan sendiri. Tugas dari guru menurut Montessori adalah mendampingi serta mendukung apa yang ingin anak pelajari dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sendiri, bukan sebagai alat untuk memindahkan informasi dan pengetahuan. Montessori sangat menekankan pada metode pendidikan yang berfokus pada pola perkembangan anak yang merdeka dalam berpikir maupun bertindak. Menurutnya, sekolah hanya memfasilitasi apa yang ingin anak pelajari secara mandiri bukan memaksakan anak untuk belajar dengan dipaksakan oleh kurikulum yang menggeneralisir.

Metode Montessori tersebut juga metode yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantara dalam menerapkan metode pendidikan anak. Hal tersebut bisa kita lihat dengan Ki Hajar dalam mendirikan Taman Siswa sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan. Ki Hajar sendiri memakai nama taman dalam sebuah tempat belajarnya sedangkan, kita semua  tahu bahwa taman adalah tempat bermain bagi anak-anak. Ki hajar memakai diksi taman bukan tanpa alasan, ia ingin anak-anak bisa merdeka dalam belajar tanpa dipaksa oleh sistem kurikulum yang sebenarnya melemahkan daya berpikir kritis dan kreatif anak-anak. Posisi guru dalam metode pendidikan ki Hajar Dewantara adalah sebagai pamong (berasal dari kata among) yang bertugas untuk mendampingi bukan memerintah, sedangkan anak diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kodratnya.

Jika kita bercermin pada kondisi pendidikan di Indonesia hari ini, apakah Indonesia menerapkan metode pendidikan gaya bank seperti yang dikritik oleh Freire tersebut? Apakah kita sudah mulai meninggalkan metode belajar dari ruang kelas yang sunyi di mana guru berbicara dan murid hanya mendengarkan? Saya tidak akan banyak berkomentar tentang itu, silakan pembaca merefleksikan dan menilainya sendiri.

Yang jelas, pemikiran Freire, Montessori, dan Ki Hadjar Dewantara bukanlah sekadar warisan masa lalu yang bisa disimpan di sebuah rak buku. Menurut saya pemikiran ketiganya masih relevan untuk diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia saat ini, terlepas di era kecerdasan buatan dan banjir informasi ini kemampuan berpikir kritis dan kesadaran diri justru menjadi bekal yang paling berharga, bukan sekadar hafalan dan angka di lembaran rapor.

Maka buku Pendidikan Kaum Tertindas bukan hanya layak dibaca oleh para pendidik dan pemangku kebijakan, melainkan oleh siapa saja yang pernah merasa menjadi celengan ataupun wadah kosong di ruang kelas. Karena pendidikan sejati, sebagaimana diyakini Freire, selalu dimulai dari satu keberanian sederhana: berani bertanya, berdialog, dan menolak untuk dijadikan wadah menampung pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *