Kalijaga.co – Tepuk tangan memenuhi ruangan sederhana di Jogobayan, Kalibawang, Kulon Progo, Minggu (14/6). Siang itu, anggota Kelompok Karisma menyaksikan kisah mereka sendiri diputar melalui film dokumenter Napas Tanah Karisma. Namun bagi perempuan-perempuan yang sehari-hari bergelut dengan tanah dan tanaman, film tersebut bukan sekadar tontonan. Ia menjadi cermin dari perjuangan panjang menjaga kesuburan tanah di tengah perubahan praktik pertanian yang semakin bergantung pada bahan kimia.
Kelompok Karisma merupakan kelompok pertanian lestari yang selama ini menggaungkan praktik pertanian organik di Kalibawang. Berada di tengah arus pertanian modern yang mengandalkan pupuk dan pestisida kimia, mereka memilih jalan yang berbeda: merawat tanah agar tetap hidup dan mampu menyediakan nutrisi secara alami.
Pilihan itu lahir dari pengalaman yang mereka rasakan sendiri. Tanah yang dahulu subur perlahan kehilangan kualitasnya. Ketergantungan terhadap pupuk kimia membuat biaya produksi meningkat, sementara kesuburan tanah terus menurun. Kondisi tersebut mendorong anggota Karisma untuk mencari cara lain yang lebih ramah terhadap lingkungan.
Perjuangan itu sebagian besar digerakkan oleh perempuan. Selain menjalankan pekerjaan domestik, mereka juga terlibat dalam berbagai aktivitas pertanian, mulai dari mengelola lahan, mengembangkan pertanian organik, hingga mengolah pangan lokal. Bagi mereka, menjaga tanah bukan sekadar urusan produksi pertanian, tetapi juga upaya menjaga kehidupan.
Ketua Karisma, Misidah, mengatakan bahwa pertanian lestari yang mereka jalankan bertujuan memperkenalkan cara bercocok tanam yang tidak merusak lingkungan sekaligus menjaga keberlangsungan sumber pangan masyarakat.
“Terima kasih sudah membantu kami menyebarkan pertanian lestari agar orang-orang di luar sana mengetahui apa yang kami kerjakan, apa yang kami inginkan, dan bagaimana manfaatnya untuk pertanian lestari,” ujarnya.
Melalui film Napas Tanah Karisma, cerita tentang pertanian organik yang selama ini tumbuh di tingkat komunitas mulai menjangkau ruang yang lebih luas. Apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh sesama petani, kini dapat disaksikan oleh mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.
Salah satu anggota Karisma, Herni Saraswati, menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi membuka peluang baru bagi kelompoknya untuk memperluas jejaring sekaligus mengenalkan praktik pertanian ramah lingkungan yang mereka lakukan.
“Kami sangat mengapresiasi. Ternyata dari film ini kami bisa berjejaring dengan perguruan tinggi. Semoga ini juga bisa menjadi alat promosi bagaimana merawat lingkungan dengan lestari,” katanya.
Meski mengangkat persoalan lingkungan yang serius, semangat anggota Karisma tidak dibangun melalui kekhawatiran semata. Di balik aktivitas pertanian yang mereka lakukan, tumbuh ikatan sosial yang kuat antarsesama perempuan. Mereka saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan dukungan untuk terus mempertahankan praktik pertanian organik yang diyakini lebih baik bagi tanah.

Foto Anggota Kelompok Karisma menyaksikan pemutaran film dokumenter Napas Tanah Karisma di Jogobayan, Kalibawang, Kulon Progo, Minggu (14/6/2026).
Bagi anggota Karisma, perjuangan menjaga kesuburan tanah tidak berhenti pada generasi mereka sendiri. Upaya tersebut juga ditujukan untuk memastikan anak cucu kelak masih dapat menikmati lingkungan yang sehat dan sumber pangan yang berkelanjutan.
Satu di antara anggota Karisma yang akrab disapa Bu Rame berharap semakin banyak generasi muda yang ikut terlibat dalam menjaga kelestarian lingkungan, meskipun tidak bekerja sebagai petani.
“Dan jerih payahnya yang luar biasa ada hasilnya. Jadi kita saling mendoakan, para petani hasilnya melimpah, tanahnya subur, alam tetap lestari untuk anak cucu nanti. Anak-anak muda sebagai generasi penerus jangan hanya saat tugas kuliah saja, tetapi terus melanjutkan apa yang sudah dipelajari. Mungkin tidak menjadi petani, tetapi tetap bisa ikut menjaga lingkungan dengan cara masing-masing,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pertanian lestari bukan hanya urusan petani. Di tengah menurunnya kualitas lingkungan dan semakin jauhnya generasi muda dari dunia pertanian, menjaga bumi membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Berawal dari ladang-ladang di Kalibawang, perempuan-perempuan Karisma terus menunjukkan bahwa merawat tanah berarti merawat masa depan. Sebab tanah yang sehat tidak hanya menghasilkan panen yang baik hari ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.
Penulis: Agna Niha Azzahra | Editor: Zahrah Suci Al Aliyah
- Dari Layar ke Ladang: Perempuan Karisma Menjaga Tanah untuk Generasi Mendatang - 20 Juni 2026
- Mengulik Sejarah Penetapan 1 Ramadhan Di Balik Tembok Keraton Ngayogyakarta - 16 Februari 2026
- Menggali Herstory: Ketika Tafsir Agama Mengkhianati Perempuan - 10 Oktober 2025