crossorigin="anonymous">

Diam, Puisi, Teater: Aksi Kamisan di Tugu Yogyakarta

Kalijaga.co — Pelataran Tugu Golong Gilig menjadi panggung Aksi Kamisan Yogyakarta pada Kamis sore 22 Oktober 2026. Puluhan massa berbaju hitam berkumpul merangkai aksi diam, panggung puisi dan musik band, hingga teater satire. Rangkaian pertunjukan ini digelar sebagai panggung evaluasi atas dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran. 

Koordinator Aksi Kamisan menjelaskan bahwa konsep acara yang memadukan pertunjukan musik, seni, dan teater ini dirancang khusus sebagai bentuk evaluasi atas dinamika sosial-politik serta maraknya gelombang protes selama dua tahun terakhir. Ia menegaskan bahwa hadirnya panggung pertunjukan ini juga menjadi bukti bahwa gerakan anak muda tidak lelah dan tidak bisa dibungkam.

Ia menambahkan bahwa melalui panggung seni ini, Aksi Kamisan dapat membangkitkan kembali konsolidasi dan semangat di kalangan anak muda untuk saling menguatkan solidaritas.

“Anak muda tidak akan pernah bisa dibungkam,” tegasnya.

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berasal dari Thailand menyampaikan orasi terkait peristiwa Takbai di Panggung Aksi Kamisan Yogyakarta, Kamis (22/10/2026)

Rangkaian acara diawali dengan aksi diam. Massa aksi berdiri mematung sembari membentangkan berbagai spanduk tuntutan, termasuk spanduk peringatan kasus pelanggaran HAM. Keheningan tersebut dirawat sebagai bentuk konsistensi Aksi Kamisan dalam menjaga ingatan publik serta menagih penuntasan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu maupun masa kini.

Usai aksi diam, massa aksi duduk melingkar di pelataran Tugu untuk melangsungkan sesi pertunjukan musik band, pembacaan puisi, hingga pementasan teater. Sesi panggung terbuka ini memantik perhatian warga serta pengguna jalan yang melintas, hingga sebagian di antaranya memilih merapat dan melebur dalam lingkaran massa.

Di dalam lingkaran massa tersebut, puncak acara diisi dengan pementasan teater satire. Pementasan teater ini menjadi momen penting karena baru kembali ditampilkan setelah terakhir kali dibawakan pada peringatan Hari HAM, Desember 2024 lalu.

Para penampil mementaskan lakon satire yang menyoroti dinamika politik nasional, hubungan pasang surut antara Prabowo, Gibran, dan Jokowi, hingga fenomena merapatnya figur-figur yang sebelumnya dikenal kritis seperti Rocky Gerung ke lingkaran kekuasaan. Lewat adegan alegoris, pertunjukan ini menampilkan figur berjas hitam berpeci, karakter bertopeng wajah politik, serta sosok badut biru-merah berias putih sebagai simbolisasi fenomena “rezim badut” dan kedangkalan politik elite saat ini.

Penampilan teater satire terhadap pemerintah, Kamis (22/10/2026)

Sementara, Restu seorang mahasiswa baru asal Cilacap yang hadir sebagai pengunjung, menilai salah satu rangkaian Aksi Kamisan yaitu mimbar bebas, banyak memberi ruang bagi anak muda untuk menyampaikan kritik secara terbuka sekaligus menambah wawasan politik.

“Ketika berorasi itu penuh semangat. Tidak ada batasan, tidak ada sensor, jadi langsung ke intinya,” ujar Restu.

Restu berharap Aksi Kamisan dapat terus berlangsung. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak muda untuk berekspresi dan memahami persoalan politik secara lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *