crossorigin="anonymous">

Wayang Potehi Meriahkan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, Regenerasi jadi Tantangan Utama

Kalijaga.co – Pagelaran wayang potehi menjadi satu di antara agenda yang menyedot perhatian pengunjung dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta di Kampoeng Ketandan, Sabtu (28/02). Pertunjukan yang digelar pada malam hari itu menampilkan kisah klasik dengan balutan musik tradisional khas Tionghoa dan dialog yang disesuaikan dengan penonton lokal.

Wayang potehi adalah seni pertunjukan boneka tangan yang berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kata “potehi” sendiri berasal dari bahasa Hokkien, yang berarti kain (po), kantong (te), dan wayang atau boneka (hi), merujuk pada bentuk boneka yang dimainkan menggunakan sarung tangan. Di Indonesia, kesenian ini telah hadir sejak ratusan tahun lalu, dibawa oleh komunitas Tionghoa perantauan dan kerap dipentaskan di lingkungan klenteng.

Dalang wayang potehi  yang ditemui usai pertunjukan yakni Sutarto (60), memaparkan bahwasanya eksistensi wayang putih di Indonesia sempat mengalami pasang surut. Pada masa tertentu pertunjukan ini terbatas ruang geraknya, tetapi kini mulai kembali tampil di ruang-ruang publik dan festival budaya.

Meskipun demikian, Sutarto mengakui bahwasanya tantangan terbesar terletak pada regenerasi dalang.

“Penerus dalang wayang potehi ini justru mayoritas dari keturunan Jawa dan beragama muslim. Keturunan Tiongkok sudah tidak ada yang meneruskan wayang potehi ini, kalau pun ada sedikit sekali,” papar Sutarto (60), selaku dalang wayang potehi.

Beliau berpendapat bahwa, hal tersebut dikarenakan para keturunan Tiongkok lebih diajarkan berdagang sedari kecil daripada menjadi dalang wayang potehi. Selain itu menjadi dalang wayang potehi bukanlah hal mudah karena proses belajarnya membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang. Sehingga kurang menarik bagi kalangan muda.

Sutarto (60), menambahkan upaya pelestarian wayang potehi ini tak bisa dilakukan hanya dari salah satu pihak saja. Namun, harus adanya kolaborasi antara regenerasi dalang dan para penikmat wayang potehi. Sehingga wayang potehi tetap dapat dilestarikan dan mengikuti kemajuan zaman, bukan justru hilang tenggelam karena arus teknologi.

“Maka dari itu, wayang potehi sekarang sudah banyak video media sosial, supaya anak muda semakin banyak yang tahu. Wayang potehi ini percuma jika ada regenerasi dalang, tetapi tidak ada penikmatnya, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, keduanya penting,” imbuhnya.

Satu di antara penonton wayang potehi yang berada di lokasi juga berpendapat serupa dengan pernyataan Sutarto.

“Menurut saya, pelestarian wayang potehi ini harus dilakukan dengan cara yang lebih menarik supaya para Gen-Z atau generasi muda lebih terdorong untuk menonton. Misalnya terdapat door prize, promosi di media sosial, dan lain-lain,” tutur Diyah, selaku penikmat wayang potehi.

Diyah mengaku, bahwa ia senang menonton wayang potehi yang menjadi kebudayaan dari Tiongkok ini. Hal tersebut dikarenakan Diyah dan keluarganya keturunan Tiongkok yang masih ikut melestarikan kebudayaan.

“Rasanya kalo tidak menonton pertunjukan ini (wayang potehi) seperti ada yang kurang,” tutupnya.

Pagelaran malam itu ditutup dengan tepuk tangan meriah dari penonton yang memadati area pertunjukan. Kehadiran wayang potehi dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta menjadi pengingat bahwasanya warisan budaya bisa tetap bernapas selama ada ruang untuk tampil dan upaya dalam merawatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *