- Harmoni Ramadan di Masjid Al-Fattah: Sajikan 600 Takjil “Piringan” hingga Gandeng UMKM - 1 Maret 2026
- Sambut Bulan Suci Ramadan: LFNU DIY Siapkan Perangkat Digital dan Pakar Fikih Tekankan Pentingnya Keyakinan Ijtihad - 17 Februari 2026
- Menggugat Etika: Ketika Jurnalisme Menjadi Alat Pelecehan terhadap Pesantren - 22 Oktober 2025
Dingin nya subuh yang menyelimuti Kawasan Prambanan dan sekitarnya, tak pernah mampu menghentikan Langkah suharni, jam yang menunjukkan pukul lima subuh, saat Sebagian orang masih terlelap dengan selimutnya, Wanita dengan umur lima puluh tahun kini sudah siap dengan sepeda motornya, perjalanan sepanjang tujuh belas kilometer dari Prambanan menuju pasar kolombo Condongcatur, Depok, Yogyakarta, harus di tempuh selama tiga puluh menit. Di Tengah kebisingan pasar kombo inilah suharni menantikan rezeki dari beberapa helai pakaian dagangannya.
“Habis subuh saya berangkat ke sini, dari Prambanan, di Prambanan saya numpang di anak saya yang pertama, naik motor sendiri,” ujar suharni yang berasal dari klaten saat dijumpai di sela-sela aktivitasnya.
Suharni menggelar lapak nya setiap hari kecuali hari senin untuk dijadikan hari libur dia, di lapaknya yang sederhana disewa dengan harga lima juta per tahun, dan uang kebersihan Rp3.000 di setiap hari nya, namun, yang di jualnya lumayan laku keras. Mulai dari harga Rp20.000 hingga Rp60.000, tergantung jenis dan kualitas bahan nya. Dari keterjangkauan harga itulah membuatnya memiliki pelanggan setia, salah satunya yang berhasil di temui Sumiati (48).
“Saya sering beli di lapak beliau bahkan sudah jadi langganan, karena harganya terjangkau dengan bahannya yang bagus, dan pedagangnya nya yang juga ramah,” kata Sumiati yang hari itu berhasil membawa 5 potong pakaian hanya dengan merogoh kocek Rp125.000.
Lapak Warisan Dari Sang Anak
Lapak pakaian di Pasar Kolombo ini, rupanya bukanlah ide awal dari Suharni. Ia baru menekuni profesi ini selama tiga tahun terakhir, setelah sebelumnya mengabdi selama enam belas tahun di pabrik karpet. Pekerjaan ini adalah “warisan” dari anak pertamanya, Rosi Isnan.
“Ini kan jualannya anak, anak saya kan tiga,” tutur Suharni.
Rosi Isnan merupakan anak pertama dari pasangan Suharni dan suaminya yang berasal dari Aceh. Ia seorang yang berprestasi di bidang akademik, lulusan S1 dan S2 Program Studi Aqidah Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah menyelesaikan S2 nya ia berhasil lolos sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kini mengabdikan diri sebagai dosen di kampus tempat dia membersihkannya. UIN Sunan Kalijaga.
Sebagai seorang dosen yang membuat nya tidak ada waktu lagi buat jualan pakaian di pasar, akhirnya estafet dagangan nya di pasar kolombo di lanjutkan oleh sang adik, anak kedua dari Suharni.
Kesuksesan Rosi menular pada adiknya, yang juga menyusul keberhasilannya sebagai Pegawai Negeri Sipil juga, dan sekarang bekerja di kantor urusan agama (KUA) di daerah gunung kidul.
“Dan diganti anak saya yang kedua, dan yang kedua kemarin ngelamar CPNS, dan alhamdulillah lolos, sekarang kerja di KUA Gunung Kidul,” dengan bannganya ia menceritakan kisah anaknya yang pengangkatannya terjadi di bulan juni .
Setelah kedua putra nya memiliki kesibukan dengan pekerjaan nya sebagai abdi negara dan tidak memiliki waktu lagi buat menjaga lapak dagangan nya, akhirnya lapak itu sepenuhnya dikelola oleh suharni untuk tetap produktif, di samping ia juga harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya yang kini bekerja di bali.
“Saya kan masih bisa bekerja, dari pada di rumah ngapain, dari dulu kan bekerja, di rumah tidur juga gak bisa, ya mending ke pasar, sudah menjadi kebiasaan dan seneng juga lah,” ungkap Suharni.
Berbagai Kesibukan Di Tengah Kota Pelajar
Rutinitas Suharni di pasar berakhir pukul 10.30 WIB. Setelah membereskan lapaknya ia kembali ke Prambanan, rumah anak pertanyan yang juga tempat tinggalnya saat ini, sesampainya di rumah ia berganti peran.
“Setengah sebelas kan pulang dari pasar, di rumah saya nemenin cucu dari anak yang pertama, jadi saya pulang mantu saya berangkat kerja, jadi gentian jagain cucu saya,” jelasnya.
Dengan kesibukan yang ia Jalani setiap harinya mulai dari sebelum terbitnya matahari hinnga terbenam ia tidak pernah mengeluh atas semuanya bahkan ia bersyukur telah di karuniai anak yang sekarang sudah menjadi abdi negara.
Ia mungkin hanya seorang penjual pakaian sederhana dari Ceper, Klaten, yang merantau ke Yogyakarta, namun ia telah berhasil menorehkan prestasi luar biasa bagi anak-anaknya. Dua dari tiga anaknya kini telah menjadi Abdi Negara, sementara anak ketiga berencana mengikuti jejak dengan niatan untuk mendaftar sebagai seorang perwira TNI.
Dari kisah Suharni ini merupakan cerminan kegigihan seorang ibu yang menginginkan kehidupan terbaik anak-anaknya, dari lapak yang merupakan warisan dari anak pertamanya ia kelola dengan penuh dedikasi. Bukan hanya memberikan manfaat bagi orang lain dengan menyediakan pakaian murah dan berkualitas yang disukai para pelanggan seperti Sumiati. Namun juga memberikan Pendidikan bagi anak-anak nya dengan meraih masa depan yang gemilang.
Penulis: Achmad Qusyairi I Editor: Fatah Elhusein