crossorigin="anonymous">

Ketika Langit Jogja Bingung Menentukan Hati: Cerita Panas, Hujan, dan Keteguhan Hati Warga

Kalijaga.co – Langit Jogja seolah sedang bingung menata suasana. Memulai pagi dengan langit cerahnya yang seolah merangkap kuat, hingga cerah itu berubah terik yang menyengat. Namun, ada hujan yang juga ingin hadir menyapa, menjadi bagian dari sebuah hari.  

Perubahan cuaca yang tak menentu ini membawa kami, untuk menyusuri tiap lorong-lorong kehidupan, terkhusus di daerah Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada hari Ahad, 19 Oktober 2025.

Mencari setiap jawaban dari pertanyaan tentang keresahan cuaca yang tak menentu yang menjadi teman setia saat ini. Maka, pagi itu ditepi jalan yang ramai akan kendaraan, Budi (57), seorang pengemudi ojek online tampak sedang duduk tenang dengan mengenakan seragamnya. Ia mengaku sudah terbiasa dengan cuaca yang tak menentu seperti saat ini. 

“Kalau saya dampaknya biasa mbak. Soalnya kalau gojek itu tergantung dari orderan toh, dari costumer gitu ada. Dampaknya gak terlalu gimana-gimana mbak, bahkan cenderung hampir gak ada dampak. Dari dulu kalau sering hujan juga ya gitu, sudah biasa lah,” ujarnya sambil tersenyum. 

Menurut Budi cuaca tak menentu tidaklah berdampak besar terhadap pekerjaannya. Pelanggan juga memahami kondisi lapangan. 

“Biasanya kan dikomen itu bisa konfirmasi dulu, bilang mohon ditunggu di titik jemputnya, gak mungkin komplain kalau lambat karena hujan,” tambahnya. 

Menurut Budi justru yang cukup berdampak atau mengalami perubahan dalam segi pendapatan yakni dengan semakin banyaknya tenaga ojek online. 

“Kalau dulu-dulu gak bisa dibilangin (pendapatan) dapetnya berapa, karena pasti banyak. Sekarang mah udah rame, pelanggan juga jelas-jelas nggak kayak dulu lagi,” ucapnya mantap. 

Usai berbincang dengan Bapak Budi yang teguh dibawah  panas dan hujan, langkah kami berlanjut ke sisi-sisi lain dari Sariharjo. Di antara bising lalu-lalang kendaraan dan debu yang beterbangan, aroma manis dari teh dingin menyeruak dari sebuah lapak kecil. 

Di sanalah kami bertemu Dani Prasetyo (23), seorang penjual es teh yang menjadikan cuaca panas sebagai bagian dari sahabat paling setia dalam setiap gelas dagangannya. 

“Alhamdulillah kalau untuk es teh laris kak. Pendapatanku bisa sampai Rp125.000  alhamdulillah perhari,” ungkap Dani. 

Menurutnya ramainya pembeli juga disebabkan karena lokasi jualannya yang terbilang strategis. Terdapat banyak orang yang lewat, dan mudah mengakses untuk membeli segelas atau bahkan lebih es teh manis jualannya. 

Namun, tidak mungkin tak ada secuil kisah apabila hujan yang datang menyapa, selayaknya panas. 

“Kalau hujan biasanya ya nggak laku kak. Bisa dapet Rp40.000  sehari,” imbuh Dani. 

Dari penuturan Dani tersebut. Tampak jelas bagaimana langit ikut menentukan isi dari dompet. Ketika matahari bersinar garang pendapatan bisa melesat tinggi jauh. Namun, kala hujan turun penghasilan akan merosot jauh. 

Sebuah perbedaan yang menurut Dani bukan sekedar angka, tapi juga sebuah gambaran nyata bagaimana cuaca turut menata sebuah jalan hidup. 

Meski dengan penghasilan yang tak selalu stabil, Dani tetap bersyukur. Ia juga menekankan pentingnya berolahraga di tengah musim pancaroba yang sedang berlanjut. 

“Biasanya saya menjaga pola makan saya sendiri kak, dan rajin berolahraga agar badan juga sehat, seperti lari pagi, pemanasan, dan senam,” ucap Dani sambil tersenyum.

Panas matahari yang terasa menyengat padahal belum juga beranjak tinggi, menuntun langkah kami dari lapak kecil nan sederhana milik Dani menuju sebuah kediaman yang tak cukup jauh. 

Di sana Supriyadi (60) duduk di teras rumahnya, bersedia meluangkan waktu untuk mengobrol sebentar. Menyambut, dan menjawab setiap pertanyaan dengan lugas, antusias, dan senyum yang tak pernah lepas dari raut wajah senjanya. 

Supriyadi juga berbagi pernyataan akan kesetujuannya terhadap kondisi cuaca yang tak menentu saat ini. Dari pagi yang begitu panas sampai hujan yang tiba-tiba datang dipenghujung hari. 

Akan tetapi menurut pengamatan Supriyadi cuaca panas ini tak seperti panas-panas sebelumnya. Bahkan tidak terjadi setiap tahun. 

“Penyebabnya pertama karena perubahan musim kan. Kalau kedua biasanya karena ada hubungannya sama gunung merapi. Biasanya kalau panas gini orang-orang tuh, wah merapi nih. Semacam kayak erupsi gitu,” ungkap Supriyadi. 

Meski sedang diselimuti oleh cuaca yang kurang baik, ia bersyukur bahwa keluarganya dan juga para tetangga tak ada yang sampai mengalami sakit parah, paling umum mengalami batuk dan pilek. 

Dengan nada lirih, Supriyadi juga mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap para pekerja kuli bangunan. Bekerja di bawah terik matahari yang seolah tak memberi ampun. Mengangkat bahan bangunan yang berat, berpacu dengan waktu, padahal panasnya udara membuat nafas seolah juga mengering. 

Menutup perbincangan, Supriyadi berpesan untuk pandai-pandailah dalam menjaga kesehatan tubuh ditengah musim pancaroba. Seperti memperbanyak minum air dan vitamin. 

Meski cuaca akhir-akhir ini sering tak menentu, semangat warga tetaplah stabil. Dari Budi sang driver ojol, Dani si penjual es teh, hingga Supriyadi. Semua menunjukkan satu hal yang sama bahwa cuaca boleh berubah, tapi keteguhan hati warga tetap hangat seperti biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *