Kalijga.co – Pada penghujung Juni, Rabu (24/06/2026), Pasar candi di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, kembali dipenuhi denyut kehidupan. Suara langkah kaki saling besahut-sahutan menyusuri lorong-lorong pasar.
Deretan pakaian yang tergantung rapi di tiap-tiap lapak khusus pakaian tampak siap menyambut siapa saja yang datang. Model pakaian yang beragam, hingga puluhan warna yang menyimpan cerita tentang masa ketika rumahnya itu seolah menjadi pusat perhatian utama tiap pengunjung, hingga tangan-tangan hangat itu kini tak lagi singgah untuk memilih dan membawanya pulang.
Pasar Candi yang terletak di Kecamatan Dugkek ini merupakan salah satu denyut perekonomian masyarakat sekitar. Sejak pagi hari aktivitasnya telah dimulai. Berbagai lapak berdiri berdampingan, menawarkan beraneka kebutuhan, mulai dari bahan pangan, peralatan rumah tangga, perlengkapan sekolah, produk kecantikan, hingga lembar-lembar kain yang menggantung menanti pemilik baru. Masih banyak kisah dan mata pencaharian lain yang tumbuh di dalamnya, terlalu luas untuk seluruhnya ditampung dalam selembar tulisan ini.
Sebagian sudut pasar masih dipeuhi riuh transaksi hangat nan mengalir antara pedagang dan pembeli. Tawar-menwar sayur, daging dan ikan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya terdengar silih berganti. Namun, berbeda ketika langkah membawa pada deretan pakaian, suasana terasa lebih hening menyimpan sunyi di balik warna-warni kain yang tetap menggantung indah diterpa angin, menanti tangan yang singgah untuk meilih.
Bagi pedagang pakaian, pandemi Covid-19 yang melanda beberapa tahun yang lalu menjadi titik yang perlahan mengubah arah perjalanan mereka. Salah satunya dirasakan oleh Fauziyah salah seorang pedagang pakaian yang telah mendedikasikan setiap hari-harinya dari pagi hingga selepas zuhur, di Pasar Candi sejak tahun 2012 silam.
Selama lebih dari satu dasawarsa, lapak sederhanya menjadi saksi bisu bagaimana rezeki datang silih berganti. Sebelum pandemi kala itu, hari-hari di Pasar Candi terasa lebih hidup. Ramadan menjadi salah satu moment yang paling dinanti. Pembeli berdatangan dari pagi hingga hampir menyentuh waktu sore, untuk mencari helaian-helaian kain yang menjelma menjadi busana tuk dikenakan di Hari Fitri nanti.
Tak hanya moment Ramdan, rupanya juga ada moment seperti Haflatul Imtihan yang hadir tiap tahun diberbagai sekolah, disusul musim hajatan pernikahan yang seolah ia datang berbondong-bondong, menjadi waktu di mana lorong-lorong pasar dipenuhi langkah para pemburu busana tebaik, membuat lapak-lapak pakaian nyaris tak pernah sepi, ditemani senyum pengembang penuh hangat dari para pedagang.
“Kalau dulu itu pas sebelum covid penghasilan sehari-hari, selain kayak Ramadan dan musiman lainnya, itu bisa mencapai satu juta sih perhari,bahkan bisa lebih kalau ramai,” tutur Faiziyah.
Menariknya, bagi Fauziyah masa pandemi bukanlah priode paling berat dalam usahanya tersebut. Justru setelah pandemi berakhir disitulah semua perlahan mula berubah. Usai pandemi dinyatakan telah usai kala itu, kondisi penjualan pakaianpun mulai menunjukkan penurunan yang kian terasa. Tahun 2023 menjadi awal ketika kain-kain berwarna itu membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk singgah ditiap-tiap tangan para pembeli.
“Sebenarnya pas waktu pas covidnya yang harus maskeran kemana-mana waktu itu, pendapatan masih bagus, masih normal kayak biasanya. Nah, baru setelah selesai pandemi mulai jelek ke pendapatan. Bahkan, kadang seharian gak ada yang laku, gak ada yang beli,” ungkapnya.
Selain daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kembali puli, transformasi penuh dari platform belanja online dan kemunculan fitur Live Shopping yang menjadi pusat roda ekonomi digital saat itu, rupanya turut mengubah kebiasaan konsumen.
Meski demikian Fauziyah tidak sepenuhnya kehilangan harapan. Menunggu dengan harap yang tak pernah pudar, menanti datangnya Ramadan yang saat ini nampak menjadi satu-satunya moment yang dapat diandalkan, meskipun keramaian sudah tak lagi mampu menyamai tahun-tahun sebelum pandemi.
Penurunan jumlah pembeli yang drastic membuatnya sempat terpikirkan untuk berhenti berdagang. Ketika satu hari berlalu tanpa hasil yang berararti, saat mata hanya menyaksikan lalu lalang para manusia tanpa satupun singgah untuk sekedar menengok.
Namun, di tengah semua keraguan dan kebisingan keinginan untuk berhenti, ada alasan yang selalu membuatnya berangkat dengan penuh harap setiap pagi.
“Kalau gak jualan dari mana mau dapat biaya untuk anak kuliah? Anak yang jadi motivasi utama buat tetap berdagang di sini,” ujarnya lirih.
Kalimat itu menjadi sebuah potret sederhana tentang harapan dan keinginan seorang Ibu, bahwa dibalik kain-kain rapi yang digantung, ada seorang Ibu yang ingin terus melihat anaknya mengenyam pendidikan. Dibalik lapak yang hampir tertutup diantara kain-kainnya itu, ada perjuangan untuk tetap menjaga agar dapur tetap mengepul setiap harinya.
Mungkin Pasar Candi tak lagi seramai masa-masa terbaiknya dulu. Namun, bagi Fauziyah dan pedagang lainnya berangkat kepasar setiap pagi bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan cara mereka menjaga harapa, bahwa di tengah perubahan zaman dan derasnya arus belanja digital, selalu ada rezeki yang menunggu untuk diperjuangkan.
Editor: Raisya Puan Syahdillah
- Rumah - 27 Juni 2026
- Merajut Harapan di Balik Deretan Gantungan Baju - 27 Juni 2026
- Sebagai Wujud Kepedulian Lingkungan, UKM JQH Al-Mizan Hadirkan Pameran Kaligrafi “BUMI” - 22 April 2026