Kalijaga.co – Setelah pengumuman beberapa hari usai, Ali mendapatkan perintah untuk melaksanakan tugas mengajar dari SMA atau yang disebut dengan Program Pengabdian Masyarakat (P2M) pada 23 Mei 2023. Letaknya lumayan jauh yaitu di Probolinggo yang merupakan kota terpencil di Jawa Timur.
“ Apakah anda atas nama Pak Ali nomor 295?” tanya bapak tua itu pada Ali.
“Iya, saya pak,” jawab Ali.
“Mari ikut dengan saya, anda melaksanakan P2M di tempat saya,” ucap bapak tersebut pada Ali.
Ali ketemu juga dengan penanggung jawabnya pada saat itu. Ali berjalan melewati beberapa para siswa yang juga ingin berangkat. Ali merapikan barang-barangnya dan dibawa ke tempat P2M. Usai merapikan semua barang-barang, ia berangkat menuju mobil avanza berwarna cokelat lalu salaman dengan sopir.
“Sampean orang mana mas?” tanya seorang sopir dengan logat Jawanya.
“Orang Madura mas,” jawab Ali.
“Oh tetangga dong mas, deket kok Probolinggo sama Madura,” jawab Sopir itu.
“Iya mas, deket,” ungkap Ali sembari tersenyum.
“Ya, kami mohon bimbingan nya mas, mungkin dengan adanya sampean, desa kami yang terpencil dan kurang pendidikan ini bisa sadar dan paham akan ilmu dan agama ya mas” pinta sopir itu seolah-olah sangat antusias dengan kedatangan Ali.
“Ya, Insya Allah saya akan melakukan semampu saya,” tanggap Ali sembari menyunggingkan senyum lebarnya.
Perbincangan pun telah usai, Ali berangkat menuju Probolinggo. Dengan perjalanan kurang lebih tujuh jam, Ali tidur terlelap di dalam mobil dengan udara sejuk hingga tidak tersadar dengan keadaan sekitar.
Tiba pada malam hari di Dusun Kuncian RT.003, RW.003, Desa Jatisari, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo. Alamat itu merupakan tempat tinggal Ali selama setahun menjalankan P2M. Cuaca nya cukup dingin berbeda dengan Yogyakarta. Bunyi jangkrik bergelombang mengiringi cuaca malam, anjing berjalan kucing pun menari melewati tanah tanah Dusun Kuncian.
“Di sini ada yang melihara anjing lho” ucap penanggung jawabku.
Ditengah perjalanan Ali memang melihat seperti seeokar anjing yang lewat, tetapi Ali kira itu bukan anjing melainkan seeokor kambing peliharaan.
“Kok bisa ada yang memelihara anjing ya?” tanya Ali.
“Warga sini ada yang menanam singkong pak, terkadang kalau malam dan siang tanaman singkong itu dimakan sama monyet. Makanya warga sini memelihara anjing supaya menjaga tanaman itu,” ucap Pak Sopir.
Sopir yang berbincang asik dengan Ali itu bernama Bapak Maklum. Pak Maklum adalah pemilik lembaga yang Ali tempati untuk tinggal dalam melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat (P2M).
“Memang tidak ada cara lain pak, untuk mejaga tanaman itu?” tanya Ali pada si bapak.
“Ya kan warga sini kurang pendidikan mas, kurang paham kalau anjing itu gak boleh dilantar seperti itu, karena akan membuat orang orang takut,” jawabnya pada Ali.
Dari perbincangan singkat itu Ali belajar paham tentang desa ini. Desa ini jauh dari kata mengerti akan pendidikan, sehingga anjing dilantar di berbagai tempat. Selama Ali berada di desa tersebut rasanya ia sangat takut pada anjing. Wajar saja karena selama Ali tinggal di kampung halaman yaitu Madura, tidak ada anjing berkeliaran atau anjing peliharaan. Ia jarang sekali melihat anjing.
Berbeda cerita pula ketika Ali hidup di Jogja. Ia melihat adanya anjing yang dipelihara ketika ia tinggal disana.
“Monggo istirahat mas, sampean mungkin sudah lelah selama perjalanan,” ucap Bapak Maklum pada Ali.
Ali membawa tas dan pakaiannya menuju tempat ia istirahat. Ali dibawa ke sebuah rumah yang cukup indah, rumah yang lengkap fasilitas nya seperti dapur dan kamar mandi dalam. Ali kaget seolah olah diberi hadiah rumah oleh seseorang.
“Ini kamar nya sampean mas, kalau mau ke kamar mandi di sana,” ucapnya sambil menunjukkan kamar mandi pada Ali.
Ali hanya mengangguk kemudian Bapak Maklum pergi keluar dan Ali tertidur di dalam kamar. Ali sadar ternyata ada rasa yang berbeda ketika ia tidur di tempat yang baru ia datangi. Keadaan kamar yang gelap gulita membuat badan dan pikirannya menjadi asing.
Hingga keesokan harinya, Pak Maklum mebangunkan Ali untuk beranjak melaksanakan sholat.
“Mas Ali, ayo bangun sudah subuh,” Pak Maklum mengetuk pintu Ali dan memintanya keluar.
Ali bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Saat Ali menyiram air ke muka, ia langsung terkejut karena air-nya terasa begitu dingin bagi kulit yang tidak terbiasa merasakan dinginnya air di desa tersebut.
“Cuman aku tahan demi berwudhu,” ungkap Ali dalam hatinya.
“ Adzan tidak kedengaran mas, karena padam listrik dari semalam” katanya. Ali sedikit lega mendengarnya, karena adzan itu merupakan kewajiban Ali sebagai P2M.
Setelah Sholat subuh, Ali bingung ingin melaksanakan kegiatan apa dan seperti apa, akhirnya Ali hanya memutuskan untuk tidur.
Matahari sudah terlalu terbit, kamar Ali sangat terang akibat sinar matahari yang tembus ke kamarnya. Saat Ali bangun, rasanya bingung karena kegiatan kosong. Biasanya kalau ada sekolah, pasti ramai lingkungan sekitar. Namun, saat hari pertama Ali di sana tidak ada suara ramai sama sekali.
“Mas, ini ada teh silahkan diminum,” Bapak Yo membawakan teh untuk Ali.
Bapak Yo adalah ayah kandung dari Bapak Maklum. Beliau membawakan secangkir teh untuk Ali. Teh adalah minuman kesukaan Ali.
“Bagaimana mas tidur di sini?” tanya beliau.
“Ya alhamdulillah enak,” jawab Ali.
“Ya semoga saja betah di sini mas,” tanggap Pak Yo lagi
Ali mengangguk. Bersama Pak Yo, Ali saling bertukar cerita dan bertukar pikiran, beliau memang sudah sangat tua sehingga kisah cerita beliau ini lebih ke masa lalu tentang lingkungan hidup.
“ Dulu mas kalau saya sekolah itu tidak ada seragam-seragam seperti sekarang mas, semuanya serba seadanya.”
“Masa saya zaman dahulu apabila mengaji huruf Hijaiyah itu tidak seperti sekarang, dan susah dipahami, kalau sekarang anak kecil umur 5 tahun sudah bisa mengaji Al-Qur’an bahkan hafal.”
“Zaman sekarang serba gampang menurut saya mas, kalau berkaca dari saya di masa lalu, ingin mengaji saja yang mau paham itu butuh berbulan bulan karena cara pengucapan nya itu susah tidak seperti sekarang,” bincang panjang Pak Yo.
“Ya wajar saja pak, namanya juga zaman dulu tidak ada teknologi. Kalau sekarang sudah serba teknologi. Kalau tidak bisa dbelajar dengan guru, bisa melihat handphone,” jawab Ali.
“Iya benar, saya pikir juga kalau zaman sekarang ini walaupun tidak ada guru itu tidak masalah, karena sudah ada teknologi,” ujar Bapak Yo padaku.
Kami terus melanjutkan perbincangan hingga akhirnya muncul satu pertanyaan di kepala Ali.
“ Saya dari tadi tidak mendengar suara anak anak ramai, biasanya kalau ada sekolahan pasti ramai pak,” ungkap Ali menyampaikan pikirannya.
“Mungkin sampean tidur mas. Tadi itu masuk bagian yang jenjang TK” jawabnya.
Ali agak sedikit bingung, memang kelas nya itu sebelah mana, mengapa suara ramai anak tidak terdengar olehnya.
“Kelas nya yang sebelah mana ya pak?” tanya Ali
“Mari mas ikut saya,” Ali mengikuti Pak Yo dari belakang. Pak Yo mengajak Ali ke kelas.
“Ini mas kelas nya. Sekolah ini terdiri dari 3 kelas. Ini masih pertama kali berdiri mas, jadi wajar gedung-nya kurang. Di musholla juga dijadiin kelas karena kebanyakan siswa yang sekolah di sini,” jelas Pak Yo.
Ali menatap sekitar, dilihat dari gedung dan dinding nya juga masih baru.
“Jadi di sini sampean akan ngajar mas,” ucapnya yang ditanggapi dengan anggukan Ali.
Setelah melihat semua isi kelas, pada siang hari Ali memperkenalkan diri di depan para siswa. Mereka seperti antusias dengan kedatangannya sebagai Guru Program Pengabdian Masyarakat (P2M).
Lalu tugas Ali hari itu telah usai, mereka bergiliran salaman pada Ali satu-persatu. Rupanya Ali merasa senang mendapat pengalaman dan pembelajaran jadi guru muda.
Tiba esok harinya adalah perkenalannya ke sekolah TK. Nama sekolah-nya adalah TK Melati. Tiba di TK Melati sekumpulan ibu-ibu berada diluar dan didalam. Ya wajar namanya juga anak kecil, pasti didampingi oleh ibunya.
Ali berdiri di belakang murid-murid sambil mengamati metode mengajar anak kecil. Ternyata tidak jauh berbeda dengan metode bermain.
“Ini namanya jari apa?!” ucap salah satu guru
“Jempol!!!” ucap para murid murid dengan kompak
“Apa kata jari jempol anak sekolah tidak boleh”
“Ngompol” teriak para murid murid
Ali sekarang mulai tau ternyata kalau mengajar anak TK harus berkarakter seperti anak-anak pada lumrahnya. Dia lupa, di kelas itu ada dua guru wanita yaitu Lia Wahyuni dan Fitriani. Karakter Lia Wahyuni sangat cocok untuk berekspresi seperti anak anak dan Fitriani ini masih memiliki karakter muda, yang selalu bar-bar di depan umum.
Beranjak ke kelas selanjutnya yaitu TK B terdiri dari 8 murid dan tenaga pengajar nya adalah Putri. Semua para murid murid TK pada memanggil Bunda Putri, bukan Ibu Guru.
Lalu tiba-tiba semua murid dikumpulkan dalam satu ruangan, Ali terkejut mengapa mereka berkumpul. Namun Ali mengikuti saja, karena rasa penasaran Ali yang juga ingin tau kenapa mereka berkumpul.
“Husshh jangan berisik ya teman teman, sekarang kita ada kedatangan guru baru, yang InsyaAllah akan mengajar kita semua di sini,” ucap Lia Wahyuni
“Horeeee” sorak anak kecil yang membuat Ali terkekeh.
“Monggo Pak,” ucap Ibu Lia Wahyuni padaku, disaksikan oleh Ibu Putri, Fitriani, dan Ibu Ibu yang lain
“Halo,” sapaku di awal yang membuat mereka terdiam.
“Kalau Bapak Guru bilang halo kalian jawab hai ya,” pinta Ali pada anak-anak.
“Halo,” sapa Ali dengan suara ramahnya.
“Hai,” jawab mereka dengan sedikit kikuk.
“Kok gak keras, sekali lagi ya. Halooo”
“Hai,” teriak mereka yang terdengar lebih bersemangat.
“Hai,” ucapku
“Halo,” tanggap mereka semakin riang.
Akhirnya mereka paham dengan intruksi Ali tanpa Ali berlama-lama memperkenalkan diri. Mereka akhirnya bisa tau dan kenal hangat Ali.
“Sudah tahu ya dengan guru kita yang baru, sekarang persiapan pulang yuk!” ajak Fitriani pada murid-muridnya.
Mereka persiapan pulang. Pulang nya mereka diiringi dengan bernyanyi terlebih dahulu lalu doa dan melafalkan surah Al-‘Asr. Satu persatu mereka salaman padaku dan pulang bersama Ibunya. Satu hari telah mengajar TK. Setelah perkenalan, Ali tidak lagi mengajar di TK karena ia tidak memiliki jadwal mengajar disana, namun tiba-tiba ada panggilan dari Ibu Siti Aisyah selaku Kepala Sekolah TK Melati.
“Pak, besok ngajar TK ya dampingi Ibu Lia dan Ibu Fitri, soalnya Ibu Lia yang mau bilang ke sampean itu malu. Katanya anak TK susah diatur mungkin adanya sampean mereka takut Pak,” ucap Ibu Aisyah pada Ali. Ali paham mengajar di TK tidaklah mudah.
“Iya siap bu,” ucapnya.
Keesokan harinya Ali mencoba hadir di kelas TK Melati. Sejak pagi terdengan suara gaduh yang amat ramai tak berhenti. Namun sebisa mungkin Ali membuat kelas tidak ramai. Ibu Lia Wahyuni menjaga murid murid, Ali pun begitu dan Ibu Fitriani menjelaskan materi yang disampaikan di depan. Mereka membagi tugasnya dengan sangat baik.
Tiba tiba ada seorang murid yang menangis saat digendong oleh Ali. Ali menggendongnya karena ia suka sekali mencoret papan tulis yang sedang digunakan Ibu Fitriani untuk mengajar. Tujuan Ali menggendongnya adalah agar Ibu Fitriani tidak terganggu. Namun nyatanya aksi tersebut menerbitkan tetes-tetes air mata deras dengan suara teriakan kencang dari sang anak. Alhirnya, Ali mencoba menenangkan anak itu bersama Ibu Fitriani.
“Udah jangan nangis, kan gk dipukul,” ucap Ibu Fitriani mengelus badan nya. Ali benar benar merasa bersalah akhirnya dia mencoba memegang kepala anak itu.
“Udah ayo jangan nangis, nanti sama Bapak dibeliin permen,” ucap Ali. Ali yang mencoba ikut mengelus kepala si anak merasa terkejut saat tangannya bertabrakan dengan tangan Ibu Fitriani yang juga sedang mengelus untuk menenangkan. Saat itu kaki Ali bergetar.
Sesudah peristiwa itu Ali jarang mengajar ke TK, jarang bertemu dengan Ibu Fitriani, Ibu Lia dan Ibu Putri. Waktu terus menjadi lampu hijau, Ali jadi bosan setiap pagi hanya ada di kamar tidur. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri untuk pergi ke TK mencoba akrab dengan Ibu Fitriani. Keduanya mulai akrab melalui video jedag jedug yang mereka buat, kemudian Ibu Fitriani mengirimkan sebuah pesan melalui WhatsApp.
“Pak, video-nya kirim ya,” pinta Fitriani
“Ok ok” jawab Ali di WhatsApp.
Ali mengirim video-nya. Sejak saat itu keduanya semakin akrab dan sering bercanda bersama.
Saat hari Kamis tiba, Ali mencoba melihat metode mengajar TK mulai dari Ibu Putri dan Ibu Lia Wahyuni, sedikit demi sedikit Ali paham cara mengajar TK yang benar dan relevan dengan karakter anak kecil yang sesungguhnya.
“Pak, Bu Fitri pingsan” ucap Putri datang padanya seraya berlari lari. Ali langsung melihatnya.
“Pak, bagaimana ini, kok pingsan?” ucap Ibu-ibu padanya, hanya saja Ali heran kenapa semuanya bertanya pada Ali.
“Maaf bu saya kurang tau,” ucapnya.
“Ayolah pak pegang sama sampean siapa tau bangun kalau dipegang sampean” ucap salah satu Ibu dari siswa di TK Melati.
Ali hanya tertawa, karena ibu ibu yang seolah mengejeknya dengan Ibu Fitriani. Ia merasa heran kenapa mereka menanyakan Fitriani padanya, sedang ia tidak memiliki hubungan apapun. Akhirnya Ali meminta izin pada kepala sekolah untuk membawa Ibu Fitriani ke ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) di TK tersebut.
“Ini sudah ada intruksi Ibu-ibu, barusan kepala sekolah sudah menginstruksikan untuk dibawa ke ruang UKS. Minta tolong untuk yang kuat bawa Ibu Fitriani bisa dibantu untuk istirahat di UKS saja” ucap Ali. Akhirnya ibu-ibu dengan kompak menggendong Ibu Fitriani yang sedang pingsan.
“Pak, ayo sampean bawa juga dong” ucap ibu-ibu sambil tertawa.
Ali tidak berani membawanya karena yang pingsan adalah perempuan dan Ibu Fitriani juga bukan mahromnya.
Tiba di ruang UKS, Ali masih mendapat ejekan yang sama dari para ibu di TK itu. Ali sangat heran kenapa ia diejek seolah seperti anak kecil.
“Pak, ayo sini dampingin biar cepat sadar Ibu Fitri- ya” ucap Ibu dari muridnya yang bernama Naufal. Mennaggapi itu, Ali hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala.
Namun dibalik hal tersebut, Ali memang sudah mulai suka dengan Ibu Fitriani tepat pada bulan September. Mereka akrab dan saling bercumbu mesra. Namun takdir Tuhan berkata lain, Ali tidak bisa melamar Ibu Fitriani karena jarak yang sangat jauh. Ali merasakan sesak didadanya menyadari akan hal itu.
Masa program P2M di Probolinggo yang dijalani Ali sudah berjalan satu tahun. Ia mendapat mendapat banyak pembelajaran, mulai dari bertemu dengan murid hingga bertemu dengan cinta.
Ibu Fitriani bersedih dengan kepergian Ali dan menangis dengan perjuangan Ali yang gagal melamar Ibu Fitriani. Saat perpisahan Ali telah tiba, Ibu Fitriani memberikan Ali kenang kenangan berupa cincin huruf M, Sendok, Garpu, dan Sumpit.
“Di situ ada kado dari saya, pak. Saya kasih kamu sendok , garpu, sama sumpit. Saya hanya ingin kamu tetap makan walaupun kita sudah tidak bisa bersama. Terus cincin huruf M itu adalah tanda pemberian saya pada Bapak dan pakai untuk seterusnya ya,” ungkap bu Fitriani menyerahkan kado kenangan darinya.
Saat semuanya telah usai, Ali membawa barangnya dan siap berangkat. Sebelum itu, Ibu Fitriani sempat mengucapkan sapaan akhir pertemuan mereka.
“Sampai bertemu di titik takdir terbaik menurut Tuhan pak” Ucapan Ibu Fitriani pada Ali sebelum bis pergi menuju Yogyakarta.
Disitulah momen terakhir Ali melihat Desa Jatisari.
Beberapa bulan kemudian terdapat kabar, Ibu Fitriani kini sudah memiliki suami yang bernama Hibde Nurul Mustakim, hati Ali merasakan sakit. Namun, Ali hanya bisa berdoa.
“Tuhan, kembalikan Fitriani padaku kapan saja dan di mana saja. Aku titip dia pada orang lain dan kembalikan padaku di waktu yang tepat,” doa Ali dalam hatinya.
Penulis: Muzammil | Editor: Nayla Nur Hidayah
- 365 Days Running Challenge di Atas Aspal Jogja - 3 Juli 2026
- Land of Leisures 2026: UMKM Lokal Unjuk Gigi di Tengah Musim Liburan - 1 Juli 2026
- Sampai Bertemu di Titik Takdir Terbaik Menurut Tuhan - 27 Juni 2026