kalijaga.co – Layaknya manusia yang belajar menyelam, semua peserta sharing session Festival Kisah dari Rumah mencoba memahami buku Makamkan Ibu di Samping Ayah. Sebuah Novel karya penulis sekaligus aktivis perempuan, Kalis Mardiasih.
Mereka tenggelam dalam kisah keluarga yang nampaknya relate dengan kehidupan nyata. Suasana sejuk cafe We Love You(th) di Wedomartani, Sleman, Yogyakarta menambah kekhusyukan dalam memahami cerita. Pada hari Minggu (21/06/2026) ratusan peserta ikut merayakan buku, Makamkan Ibu di Samping Ayah.
Kenapa festival ini dinamakan Kisah dari Rumah? Menurut Lintang (22), panitia penyelenggara, hal itu karena buku ini menggambarkan tentang dinamika keluarga dan hal yang diberi gelar rumah.
“Makanya dari tadi juga aku bikin konten tuh pertanyaannya juga selalu tentang rumah. Rumah enggak selalu berbentuk rumah, bangunan, tapi bisa juga orang. Itu sih,” ungkapnya.
Novel karya penulis yang sering disapa Mbak Kalis ini menceritakan tentang keluarga, kehilangan, dan luka yang diwariskan tanpa pernah saling dibicarakan. Melalui buku ini, Mbak Kalis mengajak pembaca untuk menyapa setiap permasalahan dalam kacamata yang berbeda.
Menceritakan tentang keluarga yang tak sempurna. Bu Indah bercerai dengan suaminya, Pak Rukma dan menjadi Ibu tunggal dari ketiga anaknya, yakni Aji, Vikra, dan Lini. Mantan suaminya itu kembali membangun rumah tangga bersama wanita lain, yakni Bu Santi.
Pembaca diajak untuk menelusuri point of view dari setiap anggota keluarga. Tentang kegagalan Pak Rukma dan Ibu yang menyimpan sakit sendirian. Tentang beban yang ditanggung Aji sebagai anak pertama, Vikra yang terkekang trauma, serta Lini yang terjebak dalam ketidaktahuan.
Menyapa novel ini seperti menyapa realita dalam kehidupan nyata. Tak heran saat sesi sharing session banyak peserta yang tak mampu membendung air mata.
Perasaan relate tersebut nampaknya juga dialami oleh Dita, peserta yang berasal dari Gunungkidul. Ia datang bukan dari komunitas manapun. Ia datang sendirian karena ingin bertemu dengan sang idola, Mbak Kalis.
Di event ini Dita merasa memiliki teman berjuang. Di saat banyak orang-orang di luar sana yang tampil fake, di sini ia merasakan teman-teman bisa mengungkap perasaannya dengan jujur.
Awalnya Dita mengira buku ini hanya sebatas menceritakan tentang Ibu saja. Namun setelah menyapa bukunya lebih jauh, ia menemukan ketidaksempurnaan yang ada dalam diri semua tokoh.
“Tapi ya itulah sebuah keluarga. Kekurangan ayah, kekurangan ibu, kekurangan anak pertama, kedua, dan ketiga. Yaitu menjadi apa ya? struggle-nya masing-masing. Tapi ternyata itu juga real dialami sesuai dengan fakta ya. Luar biasa sih dikemas dalam sebuah novel,” tuturnya.
Bagi Dita, itu seperti melihat cerita dari keluarganya. Namun ia tidak bisa menyalahkan Ayah atau Ibu. Karena ia sadar semua sudah jalannya dan menjadi jalan dalam meniti kebijaksanaan.
Selain mendapatkan teman-teman yang sama sama berjuang, ia juga bertemu teman teman lama bahkan yang sudah bertahun tahun tidak bertemu. Bahkan, Ia juga memperluas relasinya dengan berkenalan dengan orang-orang baru.
“Pertama sih aku dapat relasi ya, yang, bukan orang Jogja tapi dia bekerja di Jogja kebetulan. Terus aku juga save nomornya juga. Mungkin siapa tahu next ada event bareng kita bisa jalan, ya,” ungkapnya.
Melihat dari kacamata yang berbeda. Menurut Ara, peserta yang berasal dari komunitas Suara Puan, acara ini memberikan pelukan bagi orang orang yang trauma dengan duduk sejajar mendengarkan cerita.
Bisa berbagi kisah dan mendengarkan kisah dari orang lain, membuatnya menyelami banyak hal. Baginya, itu seperti mengobati rasa trauma masing-masing.
“Bukunya so far sangat berantakan sekali ya. Bener tadi ada salah satu peserta yang bilang chaos, karena emang ini chaos banget. Chaos tapi perasaan sih, bukan chaos keributan gitu,” ungkapnya.
Bukan hanya Mbak Kalis saja yang dirayakan bukunya, tapi semua peserta yang hadir juga merasa dirayakan kisahnya. Dipeluk traumanya dan dirangkul lukanya. Seakan-akan memiliki teman yang sama-sama berjuang.
Di saat banyak orang-orang yang takut untuk mengungkap kisahnya, dengan duduk sejajar dan saling mendengarkan, seolah-olah peserta dituntun dalam kejujuran. Luar biasa Mbak Kalis dalam mengemas novelnya, Makamkan Ibu di Samping Ayah.
Reporter Siti fatimah | Editor Qisthiyatun Nafi’ah
- Menyapa Realita bersama Buku Kalis Mardiasih : ‘Makamkan Ibu di Samping Ayah’ - 26 Juni 2026
- Izinkan Aku tuk Menepi - 25 Juni 2026
- Pemberdayaan Perempuan: Hijabie Community Adakan Beauty Class - 30 April 2026