Bagi sebagian remaja, jatuh cinta merupakan hal yang dianggap sederhana. Namun, bagi mereka yang tumbuh di keluarga konservatif, menjalin cinta justru sering kali menjadi sesuatu yang rumit, bahkan harus dirahasiakan.
Zahra, mahasiswa semester tiga di salah satu universitas negeri di Yogyakarta, sudah hampir setahun menjalin hubungan dengan teman SMP-nya. Hubungan keduanya sempat diketahui oleh orang tuanya, namun sejak mereka pernah putus, ibundanya menjadi tidak suka jika Zahra berpacaran lagi. Karena itu, ketika keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungannya kembali, Zahra memilih untuk tidak memberitahukan hal tersebut kepada keluarganya, terutama orang tuanya.
“Orang tuaku sempat tahu waktu awal-awal aku pacaran, tapi setelah aku putus, bundaku jadi gak mau aku pacarana lagi, apalagi sama orang itu karena takut dia nyakitin aku lagi, katanya. Makanya aku mending diam-diam aja,” ungkap Zahra.
Setiap pertemuan harus diatur dan disembunyikan agar tidak ketahuan. Baginya, ini cukup melelahkan karena harus selalu mencari alasan. Namun, jika ketahuan ia takut akan menimbulkan masalah baru.
Kejadian seperti ini bukan sesuatu yang asing di kalangan remaja yang tumbuh dalam keluarga konservatif. Di era modern seperti saat ini, sebagian orang tua masih menolak konsep pacaran. Akibatnya, tak sedikit anak-anak yang akhirnya memilih membangkang dengan menyembunyikan hubungan mereka. Bukan karena tidak menghormati nilai yang diajarkan keluarga, tetapi takut tidak dimengerti.
Menurut Imank Alisandra, yang merupakan konselor keluarga, mengatakan bahwa hal seperti ini terjadi dari perbedaan perspektif antara orang tua dan anak.
”Biasanya, orang tua yang melarang anaknya berpacaran karena pengalaman masa lalunya, ditambah banyaknya informasi yang didapatkan sekarang mengenai kasus-kasus dalam berpacaran. Nah, dari hal ini timbul penolakan terhadap pacaran karena adanya ketakutan dari orang tua itu sendiri,” jelasnya saat diwawancarai pada Sabtu (11/10).
Imank menjelaskan, masalah utamanya bukan pada perbedaan pandangan, melainkan cara komunikasi dalam keluarga yang menimbulkan kurangnya keterbukaan.
“Sebenarnya, anak takut jujur tidak terjadi begitu aja, tapi berdasarkan pola komunikasi dan perilaku terhadap anak. Bisa jadi, orangtua sering mengancam jika anak berbuat salah dan selalu menekan. Akhirnya, tidak memberi kesempatan berbicara dan menghargai anaknya,” ungkapnya.
Kondisi seperti ini bisa berdampak pada kesehatan mental anak.
“Anak akan selalu berusaha menutupi dengan berbohong, dari sini akan ada keresahan, rasa bersalah, dan ada ketakutan. Padahal sebenarnya anak tau kalau ini hal yang salah tetapi dia merasa buth ada oranglain yang dianggap lebih sayang. Jadi, logika dia tertutup dengan perasaan,” lanjut Imank.
Zahra sendiri mengaku bukan bermaksud melawan aturan, tetapi ia merasa sudah cukup dewasa untuk menjaga diri dan tidak berbuat melampaui batas seperti yang ibundanya khawatirkan.
Menurut Imank, hal seperti ini bisa diminimalkan jika komunikasi yang dilakukan juga baik dan nyaman. “Seandainya komunikasi dan parentingnya baik, tanpa prasangka-prasangka buruk ke anak, maka anak akan nyaman. Juga perlunya pertemuan dua pihak untuk saling membicarakan masing-masing keresahannya, dengan begitu maka akan saling mengerti,” tuturnya.
Ia menekanka pentingnya ruang aman di rumah supaya anak mampu bercerita dan terbuka tanpa rasa takut dihakimi maupun diancam.
Jika komunikasi dilakukan secara sehat, maka akan tumbuh kepercayaan, sehingga nilai yang dijaga orangtua bisa berjalan pula dengan kebebasan anak untuk bertumbuh mengenal diri.
Kejadian seperti yang dialami Zahra menunjukkan bahwa permasalahan pacaran diam-diam bukan hanya tentang melanggar, tetapi tentang membangun ruang komunikasi yang saling memahami dalam keluarga.
“Kalau dikasih kesempatan untuk ngomong tanpa dimarahin, aku pengen jujur ke bunda tentang hubunganku,” ungkap Zahra.
Hal-hal seperti ini juga menggambarkan kurangnya kedekatan antara hubungan orang tua dan anak. Banyak keluarga yang sebenarnya hanya ingin melindungi dan menjaga sang anak, tetapi bagaimana cara menyapaikannya justru menimbulkan rasa takut pada sang anak sehingga munculnya jarak di antara keduanya. Padahal, adanya keterbukaan dalam keluarga tidak hanya untuk membahas terkait persoalan cinta saja, tetapi hal tersebut mampu membentuk kepercayaan dan kesehatan mental anak. Karena, jika anak merasa aman untuk berbicara bahkan bercerita, maka mereka akan lebih bisa menerima nilai-nilai atau batasan yang diajarkan oleh orang tua, termasuk menjaga batasan dalam pergaulan.
Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa cara maupun proses anak bertumbuh tidak selalu sejalan dengan kontrol orangtua karena ia sudah dapat membuat keputusan sendiri. Anak yang tumbuh di lingkungan konservatif justru seringkali merasa bingung antara rasa ingin tahu dan perasaan takut bersalah. Maka dari itu, Imank juga menegaskan bahwa dibutuhkannya keterbukaan dari keduanya, adanya komunikasi dua arah. Sehingga anak bukan sekedar merasa dinasihati saja tetapi juga didengarkan. Dengan ini, keluarga bukan hanya sekedar untuk pengawasan tetapi mampu menjadi tempat bertumbuh anak.
Penulis Mayumi Cinta Mahesi | Editor Qisthiyatun Nafi’ah