Kalijaga.co – Bulan Ramadan seringkali menjadi momentum yang dinantikan oleh banyak pelaku usaha baik mikro, kecil, maupun menengah (UMKM) untuk meningkatkan penghasilan. Namun, kondisi tersebut tidak dirasakan secara merata oleh pedagang. Seperti yang terlihat dari aktivitas jual beli di Pasar Ramadan yang bearada di Kampung Ramadhan Wedomartani, Yogyakarta, Jum’at (6/3), di mana sebagian pedagang mengalami peningkatan penjualan, sementara yang lain justru mengalami penurunan dalam penjualan.
Salah satunya yaitu di alami oleh Pakmin (64) seorang pedagang batagor yang sudah menjalankan usahanya selama kurang lebih 19 tahun, mengaku bahwa penjualan pada bulan Ramadan tahun ini justru tidak sesuai seramai yang diharapkan. Menurutnya, salah satu faktor yang mempengarui kondisi tersebut adalah waktu berjualan yang baru dimulai pada sore hari. Selain itu, perpindahan lapak jualan juga mempengaruhi penurunan jumlah pembeli.
Ia menjelaskan bahwa pedagang di Pasar Ramadan tersebut umumnya mulai menyiapkan dan berjualan sekitar pukul 15.30 menjelang waktu berbuka puasa. Waktu berjualan yang relative singkat membuat kesempatan untuk menarik pembeli menjadi berkurang.
“Posisinya biasanya saya tidak disini. Setelah pindah, kan, pelanggannya berkurang juga. Kalau bulan puasa, jam setengah empat sore mulai jualan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menghadapi kenaikan harga bahan baku yang digunakan untuk membuat batagor selama Ramadan. Dari kondisi tersebut membuat biaya produksi yang meningkat sedangkan pendapatan menurun akibat jumlah pembeli yang tidak selalu stabil setiap harinya.
“Namanya pedagang, harga naik turun itu gak bermasalah. Karena kita yang penting fokusnya jualan. Soal penghasilan, Allah yang memberikan rezeki. Jadi kalau harga naik itu saya gak goyah. Tinggal belinya dikecilkan sedikit. Sepandapi-pandainya pedagang,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh Gani (52) penjual pizza rumahan yang telah menjalankan usahanya selama sekitar dua tahun terakhit. Ia mengaku bahwa bulan Ramadan memiliki peran yang cukup besar untuk peningkatan penghasilan dibandingkan dengan hari-hari biasanya.
Menurutnya, banyak masyarakat yang mencari variasi makanan untuk berbuka puasa sehingga menu seperti pizza, dengan harga yang terjangkau, menjadi salah satu pilihan. Hal tersebut yang meningkatkan jumlah pembelian selama Ramadan.
“Banyak sekali, omsetnya hampir 100 persen dari hari biasa,” katanya.
Meskipun mengalami peningkatan dalam penjualan, penjual pizza juga menghadapi tantangan yang sama dengan pedagang lain, yaitu kenaikan harga bahan baku. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, ia memilih mengurangi porsi produksinya agar usaha tetap berjalan.
“Kalau semua bahan, kan, naik. Cuma kalau harga di konsumen kalau naik sulit sekali, karena nanti malah gak laku. Jadi harga tetap cuma mungkin kita kurangin porsinya. Kalau biasanya porsinya banyak, jadi dikurandgn dikit. Tapi kalau rasa tetap sama,” tambahnya.
Perbedaan pengalaman dari kedua pedagang tersebut menunjukkan bahwa Ramadan memang dapat menjadi peluang ekonomi bagi sebagian pelaku UMKM. Namun, beberapa faktor seperti jneis usaha, strategi penjualan, serta kondisi pasar juga turut memengerahi tingkay penjualan dan pendapatan selama bulan puasa.
Reporter Mayumi Cinta Mahesi | Editor Nayla Nur Hidayah
- Qurban Langsung Dinilai Lebih Efektif di Tengah Maraknya Qurban Digital - 1 Juni 2026
- Tradisi Buka Bersama di Kalangan Mahasiswa : Berbagi Kebersamaan menjelang Maghrib - 14 Maret 2026
- Dampak Ramadan bagi Pedagang di Kampung Ramadan Wedomartami: Sebagian Omzet Naik, Sebagian Justru Menurun - 7 Maret 2026