crossorigin="anonymous">

Qurban Langsung Dinilai Lebih Efektif di Tengah Maraknya Qurban Digital

Kalijaga.co – Pelaksanaan penyembelihan hewan qurban gabungan antara Masjid Nurul Hidayah dan Masjid Al Hadi di kawasan Seturan, Sleman, Yogyakarta, berlangsung dengan penuh antusias warga dan gotong royong pada Hari Raya Idul Adha 1447 H, Rabu (27/5/2026). Di tengah maraknya layanan qurban digital yang kini semakin popular, panitia qurban di wilayah tersebut menganggap qurban secara langsung masih lebih efektif dalam membangun interaksi sosial dan kebersamaan masyarakat.

Sekretaris panitia qurbna, Reza, mengatakan bahwa hingga saat ini keberadaan qurban digital belum memberikan pengaruh yang besar terhadap jumlah peserta qurban di lingkungan mereka. Bahkan, jumlah hewan qurban cenderung stabil dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

“Dari tahun 2022 sampai sekarang rata-rata per tahun ada sekitar sembilan sampai dua belas sapi.” ujar Reza saat diwawancarai di lokasi penyembelihan qurban.

Menurutnya, konsep utama pelaksanaan qurban di lingkungan tersebut tetap berfokus pada masyarakat sekitar. Distribusi daging diprioritaskan kepada warga setempat dengan sistem pembagian perkepala keluarga (KK), termasuk pedagang kecil dan warga pendatang di lingkungan sekitar.

Meski demikian, Reza mengakui bahwa qurban digital tetap memiliki sisi positif, khususnya dalam menjangkau daerah-daerah terpencil yang kekurangan hewan qurban.

“Kalau distribusinya jelas dan memang ditujukan untuk daerah yang kekurangan, itu sangat efektif,” katanya.

Namun, menurutnya sistem qurban digital juga memiliki kelemahan dalam sisi sosialnya. Baginya, pelaksanaan qurban secara langsung masih jauh memberikan nilai kebersamaan yang lebih kuat dibandingkan sistem daring.

“Kalau qurban digital, interaksi sosialnya berkurang. Kalau qurban langsung seperti ini kan jelas siapa shahibul qurbannya dan dibagikan ke mana saja. Jadi ada interaksi secara langsung,” jelasnya.

Dokumentasi kebersamaan proses penyembelihan dan distribusi qurban

Di sisi lain, panitia qurban di daerah Seturan juga sudah memanfaatkan sistem digital dalam pelaporan distribusi daging qurban. Reza mengatakan bahwa seluruh proses pembagian didokumentasikan dan dilaporkan secara daring kepada para shahibul qurban yang berada di luar daerah seperti Jakarta dan sebagainya.

“Walaupun shahibul qurban di Jakarta, mereka tetap bisa melihat laporannya secara online. Semuanya terdokumentasi, termasuk foto penerima daging,” ujarnya.

Selain panitia, pandangan serupa juga disampaikan oleh seorang tokoh agama setempat, Kyai Nur Wahid. , ia tetap menilai pelaksanaan qurban di lingkungan tempat tinggal sendiri lebih utama karena dapat memperkuat hubungan sosial masyarakat.

“Yang terbaik memang qurban di tempat tinggalnya,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa qurban tidak hanya sebatas sebagai bentuk pendekatan diri  kepada Tuhan, tetapi juga mengandung nilai sosial berupa kepedulian terhadap sesama.

Suasana kebersamaan tersebut terlihat dalam pelaksanaan qurban gabungan dua masjid di kawasan seturan. Warga dari berbagai latar belakang keagamaan turut terlibat bersama dalam proses penyembelihan sampai distribusi daging qurban..

“Semua masyarakat gabung jadi satu, tidak membedakan organisasi. Bahkan dulu pernah ada non muslim yang ikut membantu saat penyembelihan qurban dan tetap kami terima dengna baik,” katanya.

Adanya perkembangan qurban digital menunjukkan  perubahan cara masyarakat beribadah di era teknologi saar ini. Namun, pelaksanaan qurban secara langsung di lingkungan warga dianggap masih memiliki peran penting dalam menjaga nilai sosial, kebersamaan, dan goyong royong yang selama ini menjadi ciri khas dalam perayaan Idul Adha di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *