crossorigin="anonymous">

Tradisi Buka Bersama di Kalangan Mahasiswa : Berbagi Kebersamaan menjelang Maghrib

Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda bagi para mahasiswa. Mereka mengatakan bahwa Ramadan di kampus selalu berbeda dari bulan lainnya. Bukan karena jadwal kuliah yang berjalan lebih pelan, tetapi karena ada satu kebiasaan yang hampir muncul setiap tahun yaitu tradisi buka bersama. Bagi banyak mahasiswa, momen sederhana ini justru menjadi salah satu kenangan kecil yang paling hangat selama menjalani Ramadan di perantauan.

Tradisi buka bersama sudah menjadi kebiasaan yang sering dilakukan oleh mahasiswa setiap Ramadan. Kegiatan ini tidak selalu berlangsung di restoran atau tempat makan. Terkadang, ada juga yang melakukannya di tempat-tempat terbuka yang sederhana, seperti taman atau alun-alun. Meski sederhana, kebersamaan yang tercipta dalam momen yang membuatnya terasa lebih hangat.

Salah satu pengalaman yang masih kuingat adalah ketika mengikuti kegiatan buka bersama yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Progrm Studi atau biasa disebut HMPS. Saat itu kami memutuskan untuk mengadakan buka bersama di seubuah alun-alun kota yaitu alkid atau alun-alun kidul. Tempat tersebut seringmenjadi lokasi berkumpul masyarajat pada sore hari.

Menjelang sore, satu per satu mahasiswa mulai berdatangan. Bebetapa diantaranya membawa tikar untuk digelar di atas rumput atau area terbuka di alun-alun. Tikar-tikar tersebut kemudian disusun, sehingga kami duduk membentuk lingkaran. Suasana terasa santai dan akrab karena semua orang duduk lesehan tanpa kursi atau meja.

Aku datang ketika beberapa teman juga baru tiba di alun-alun. Kami sempat berkeliling sebentar untuk mencari tempat yang cukup nyaman untuk duduk bersama. Setelah menemukan area yang dirasa pas, beberapa dari kami mulai menggelar tikar di atas rumput. Kami pun duduk melingkar di atasnya.

Sambil menunggu wakttu berbuka, kami menghabiskan waktu dengan berbincang santai. Percakapan yangmuncul tidak selalu berkaitan dengan kegiatan organisasi atau perkuliahan. Terkadang kami hanya saling bercerita atau bergurau tentang hal-hal kecil yang terjadi di kampus. Tawa beberapa kali terdengar dari lingkaran tikar kami, membuat suasana sore itu terasa semakin akrab.

Di sekitar alun-alun suasana juga terlihat cukup ramai. Banyak masyarakat yang datang untuk membeli takjil, sembari menunggu waktu berbuka baik bersama keluarga maupun teman-teman. Pedagang di sana menjual berbagai macam makanan dan minuman. Aroma makanan yang tercium di berbagai arah membuat suasana Ramadan terasa semakin hidup.

Sore di alun-alu terasa berbeda selama Ramadan. Banyak orang datang untuk menunggu waktu berbuka, membawa makanan atau sekedar duduk menikmati suasana. Keramaian kecil itu membuat tempat tersebut terasa lebih hangat, solah semua orang berbagi momen yang sama menjelang maghrib.

Menjelang waktu maghrib, ktivitas di sekitar alun-alun perlahan menjadi lebih tenang. Banyak orang mulai menyiapkan makanan di depan mereka. Kami pun melakukan hal yang sama, mempersiapkan minuman dan makanan untuk berbuka.

Ketika suara adzan maghrib akhirnya terdengar dari masjid di sekitar alun-alun, kami mengucapkan doa berbuka bersama-sama. Kami pun mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan sejak tadi. Meskipun hanya makanan sederhana, rasanya tetap terasa nkmat setelah seharian menjalani puasa.

Suasana makan bersama di atas tikar terasa santai dan penuh kebersamaan. Tidak ada yang terburu-buru, semua orang menikmati makanan sambil tetap melanjutkan obrolan ringan. Sesekali terdengar tawa dari beberapa mahasiswa yang masih bercanda di sela-sela makan.

Setelah selesai makan, sebagian mahasiswa masih duduk di atas tikar sambil menikmati suasana sore yang perlahan berubah menjadi malam. Beberapa orang mulai merapikan bungkus makanan, sementara yang lain tetap berbincang santai dengan teman-teman di sekitarnya.

Bagi mahasiswa perantau, momen seperti ini sering terasa lebih berarti. Ramadan biasanya identik dengan kebersamaan bersama keluarga di rumah. Namun ketika berada jauh dari kampung halaman, kebersamaan itu sering tergantikan oleh teman-teman yang ditemui setiap hari di kampus.

Buka bersama yang diadakan oleh himpunan mahasiswa tersebut memang tidak terlihat sebagai acara besar. Tidak ada dekorasi khusus atau susunan acara yang rumit. Namun dari kesederhanaan itulah tercipta kebersamaan yang terasa hangat.

Ketika malam mulai tiba dan lampu-lampu di sekitar alun-alun menyala, satu per satu mahasiswa mulai berkemas. Tikar yang sejak sore digelar kembali dilipat, dan para peserta buka bersama perlahan berpamitan untuk pulang. Sebagian kembali ke kos, sementara yang lain melanjutkan kegiatan.

Meski hanya berlangsung beberapa jam, pengalaman buka bersama itu meninggalkan kesan yang cukup berharga. Duduk lesehan di atas tikar, berbagi makanan sederhana, dan bercengkerama bersama teman-teman menjadi kenangan kecil yang sulit dilupakan.

Tradisi buka bersama seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi banyak mahasiswa, momen tersebut sering menjadi salah satu kenangan Ramadan yang paling berkesan selama masa perkuliahan. Kebersamaan seperti itu jarang terjadi di hari biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *