crossorigin="anonymous">

Proses Panjang di Balik Sebuah Penampilan

Kalijaga.co – Tahun 2025 aku ikut berpartisipasi dalam lomba takbir keliling di tingkat Sariharjo Utara. Ada sebelas kontingen dari sebelas dusun yang berbeda ikut lomba takbir keliling. Jika menurut kebanyakan orang kegiatan ini hanya penampilan di malam perlombaan, tetapi bagi kami yang ikut terjun dalam prosesnya malam itu adalah malam paling menegangkan.

Sebenaarnya, tahun kemarin bukanlah kali pertama aku terlibat dalam menjadi mengurus koreografi. Dalam beberapa tahun sebelumnya, aku juga ikut mengatur Gerakan, tetapi pada saat itu aku masih belajar dan ditemani oleh kakakku yang juga koordinator koreografi. Tapi tahun 2025 adalah tahun pertama aku benar-benar memegang tanggung jawab sendiri sebagai koordinator koreografi.

Saat itu rasanya sangat campur aduk. Kalau boleh jujur, aku merasa senang karena akhirnya aku bisa mendapat kepercayaan, tetapi disisi lain aku sangat khawatir dan takut karena harus memikirkan banyak hal sekaligus.

Tahun lalu, koreografi yang diampilkan ada beberapa bagian. Ada anak-anak sebagai pemegang bendera kecil, ada ibu-ibu yang menggunakan caping sebagai properti, dan ada pemudi sebagai pembawa bendera besar. Ketiga kelompok ini ikut dalam perform takbir.

Selain itu, ada para remaja yang menari. Mereka tampil di awak penampilan sambil membawa cerita tentang “Sejarah Islam di Yogyakarta”. Dalam bagian ini, kami mencoba menggambarkan bagaimana proses pembangunan Masjid Gedhe Mataram. Para remaja laki-laki menjadi orang yang membangun masjid diiringi narasi untuk membantu menjelaskan alur ceritanya..Dalam waktu sekitar 6 menit, semua gerakan itu diselaraskan agar menjadi gerakan yang rapi, indah, dan menarik untuk ditampilkan.

Proses latihan itu dilakukan setelah shalat tarawih. Selama proses latihan, kita memisahkan waktu dan tempat agar di awal bisa fokus dan paham peran masing-masing. Kadang berlatih di masjid, kadang di halaman rumah, kadang juga di parkiran. Sebisa mungkin kita manfaatkan tempat lebar yang ada di dusun sebagai tempat latihan. Suasana tiap malam menjadi selalu ramai.

Kadang latihan memang terasa sangat menyenangkan karena bisa berkumpul, berbicara, dan bercanda dengan banyak orang. Tapi di sisi lain, menajdi koordinator  juga berat karena harus memastikan semua berjalan sesuai rencana dan harus bisa menjaga perasaat para peserta.

Kesiapan tim musik adalah salah satu tantangan selama latihan. Beberapa kali latihan tidak tepat waktu karena musik yang digunakan untuk mengiringi gerakan belum siap. Aku bahkan sempat beberapa kali berdebat dengan tim musik mengenai hal ini. Bukan karena ingin mencari masalah, tetapi karena aku merasa tidak enak dengan anak-anak yang sudah datang untuk latihan. Mereka sudah menyempatkan waktu setelah tarawih, tapi kadang harus menunggu terlalu lama.

Jika latihan dimulai terlambat, otomatis latihan juga selesai lebih malam. Hal itu membuat banyak peserta yang akhirnya pulang terlalu malam.

Sebagai koordinator, situasi seperti itu membuatku cukup tertekan. Di satu sisi aku ingin menjaga hubungan baik dengan tim lain, tetapi di sisi lain aku juga harus memikirkan peserta yang sudah datang untuk latihan.

Selain itu, selama latihan juga ada berbagai kendala lain yang muncul. Sering terjadi perbedaan pendapat ketika menentukan gerakan atau menyusun bagian tertentu dari penampilan.

Salah satu momen yang paling membekas bagiku adalah ketika terjadi kesalahpahaman saat latihan. Saat itu ada seseorang yang menyalahkan temanku karena dianggap membuat kesalahan. Padahal situasinya tidak sepenuhnya seperti itu.

Melihat temanku disalahkan membuatku merasa sangat tidak enak dan tidak nyaman. Seolah-olah kami adalah orang yang sangat salah. Pada saat itu pun emosiku sangat campur aduk yang membuat aku menangis. Tetapi latihan tetap harus berjalan

Beruntungnya aku tidak benar-benar sendirian menghadapi semua itu. Selama proses latihan banyak teman yang membantu menjelaskan gerakan kepada peserta lain. Bahkan mereka pun mencoba menenangkanku bahwa hal itu hanyalah kesalahpahaman yang seharusnya tidak dibesar-besarkan. Tanpa bantuan mereka, mungkin akan jauh lebih sulit untuk mengatur semua peserta yang jumlahnya cukup banyak dan berasal dari berbagai kelompok usia.

Tantangan lain muncul menjelang hari perlombaan, sekitar lima hari sebelum acara, konsep yang sudah kami siapkan harus mengalami beberapa perubahan. Beberapa bagian koreografipun perlu dirombak ulang agar tetap selaras. Perubahan yang mendadak itu tentu tidak mudah dihadapi. Gerakan dan formasi yang sudah disusun dan dipikir berkali-kali harus dirombak dengan waktu yang cukup singkat. Walaupun begitu, kami tetap mencoba menjalani prosesnya sebaik mungkin.

Akhirnya malam perlombaan pun tiba. Suasana malam itu terasa berbeda, banyak orang berkumpul untuk menyaksikan penampilan dari berbagai dusun. Sebelas kontingen yang ikut lomba membawa konsep dan penampilan masing-masing. Saat giliran dusun kami tampil, tentu tidak bisa menghindari rasa gugup, takun dan khawatir. Semua latihan yang dilakukan selama berminggu-minggu akhirnya ditampilkan di malam itu.

Setelah semua penampilan selesai, tibalah saat pengumuman hasil lomba. Ketika nama kontingen kami disebut sebagai juara harapan tiga, jujur aku merasa cukup sedih. Rasanya sedikit mengecewakan karena tahun sebelumnya kami berhasil meraih juara tiga.

Butuh proses yang cukup lama bagiku untuk melihat, sebenarnya kesalahan apa yang dibuat oleh dusun kami, yang tidak dilakukan oleh dusun lain. Akhirnya aku menyadari bahwa formasi yang kami lakukan cukup monoton dan tidak bervariasi. Hal-hal kecil seperti itu ternyata cukup berpengaruh dalam sebuah penampilan.

Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, pengalaman itu tetap menjadi pelajaran yang sangat berharga bagiku. Bukan hanya tentang menyusun gerakan, tetapi juga tentang menghadapi berbagai karakter orang, mengatur banyak peserta sekaligus, dan menyelesaikan masalah yang muncul selama proses latihan. Aku juga belajar bahwa di balik sebuah penampilan yang terlihat di depan penonton, ada banyak usaha dan proses yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Latihan malam setelah tarawih, diskusi yang panjang, perdebatan kecil, sampai rasa lelah yang datang hampir setiap hari, semuanya menjadi bagian dari perjalanan itu. Dan meskipun hasil akhirnya belum sesuai harapan, pengalaman tersebut tetap menjadi cerita yang tidak akan mudah aku lupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *