crossorigin="anonymous">

Senja dan Sejarah: Ngabuburit Sambil Time Travel ke Masa Lalu

Kalijaga.co – Seiring dengan gelapnya langit, cahaya sore hari menyelinap masuk ke dalam celah-celah baangunan tua di wilayah Jagalan. Di tengah berbagai labirin gang kecil, berdiri kokoh sebuah rumah yang menjadi simbol ketangguhan budaya yaitu Omah UGM. Bagi kalian yang ingin berjalan jalan melalui labirin Kotagede, jangan lupa ya untuk mampir ke tempat ini, karena rumah pusaka ni  bukan hanya menyajikan pengalaman berkunjung di tempat estetik tapi juga menawarkan sebuah pengalaman sejarah.

Omah UGM merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Kotagede yang diresmikan pada tahun 2007. Tidak banyak yang tahu, kalau bangunan ini merupakan bangunan milik UGM karena lokasi lingkungannya yang cenderung jauh dari lingkungan kampus. Omah UGM bukan hanya sekadar bangunan milik universitas, akan tetapi sebuah artefak hidup yang menggambarkan kejayaan kelas menengah Muslim di Kotagede pada masa lampau. 

Jika kita lihat Omah UGM dari struktur bangunannya, omah ini mengadopsi gaya Indische Empire Style. Tentunya gaya ini sangat populer di kalangan elit pribumi dan pengusaha sukses pada tahun 1900-an. Ada perpaduan 3 elemen budaya sekaligus, diantaranya:

  1. Elemen Jawa

Bisa kita lihat dari pengonsepan yang ada, yaitu pada bangunan Pendopo (ruang tamu terbuka) dan tata ruang dalem yang mengikuti kaidah kosmologi jawa.

  1. Elemen Eropa

Nampak pada pilar pilar besar yang menyangga teras.

  1. Elemen Tionghoa

Terlihat pada beberapa detail kayu dan struktur pintu yang menunjukkan interaksi budaya yang cair pada masa itu.

Untuk memasuki cagar budaya ini, pengunjung cukup membayar tiket masuk senilai Rp. 10.000,00 biaya ini diberikan untuk biaya perawatan yang dilakukan oleh seorang warga yang bernama Ibu Muharjo yang kini berumur 71 tahun sebagai tetangga dari Omah UGM. Selain melakukan perawatan pada bangunan tersebut Ibu Muharjo juga akan menemani pengunjung untuk berkeliling sekaligus menjelaskan bagian-bagian yang ada dalam bangunan tersebut.

Dari penjelasan yang beliau berikan, Omah UGM ini dibangun sejak tahun 1950-an. Pada awalnya rumah ini diwariskan kepada Ir. Sutaat yang pada saat itu sedang menjadi dosen di UGM. Lalu Ir. Sutaat mewariskan rumah itu kepada Parto Dasono, setelah beliau meninggal dunia, rumah ini menjadi tidak terawat, selain itu pada bulan Mei tahun 2006 gempa berkekuatan 5,9 SR mengguncang kota Yogyakarta dan mengakibatkan kerusakan parah pada rumah ini dikarenakan material yang terbuat dari kayu yang termakan usia. Rumah ini kemudian dibeli oleh Universitas Gajah Mada sebagai bagian dari revitalisasi kawasan pusaka Kotagede yang berbasis 3K yaitu Komunitas, Kerajinan dan Kultural dan menjadikan tempat tersebut sebagai Pusat Pergerakan Pelestarian.

Selain berfungsi sebagai cagar budaya dan pusat pendidikan, Omah UGM ini juga seringkali digunakan untuk swafoto, seperti prewedding, foto wisuda, foto yard book, bahkan seringkali digunakan untuk rekaman video atau pembuatan film. Hal ini dikarenakan tempatnya yang sangat legend.

Ngomong-ngomong tentang Omah UGM, jika kita bergeser sedikit ke bagian utara Omah UGM terdapat sebuah Masjid yang dibangun pada Masa Panembahan Senopati yang memiliki empat corak kebudayaan yaitu, Hindu, Budha, Islam dan Jawa. Hal ini ditandai dengan adanya relief gapura pada pintu masuk masjid yang menggambarkan agama Hindu-Budha, struktur atap tajug yang mencerminkan Jawa, serta fungsi utama bangunan ini yaitu untuk beribadah umat Islam. 

Selain menjadi tempat ibadah Masjid Mataram ini ternyata punya banyak peraan loh untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Kota Yogyakarta, diantaranya:

  1. Sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan serta kegiatan dakwah keagamaan, hal ini ditandai karena adanya berbagai kegiatan keagamaan seperti ceramah, pengajian dan juga peringatan hari hari besar. Selain itu, pada bulan Ramadhan, masjid ini juga mengadakan pengajian yang dilanjutkan pembagian takjil pada jamaah. Ini cocok banget sih, buat kalian yang mau nyari gratisan berbuka.
  2. Sebagai simbol toleransi dan kerukunan, proses pembangunannya sejak awal juga melibatkan masyarakat Hindu, hal ini menunjukkan bahwa sejak awal masjid ini memang berfungsi sebagai simbol toleransi keberagaman yang terus dijaga sampai kini. Masjid ini juga selalu terbuka bagi semua orang yang ingin berkunjung dan mempelajari sejarah serta kebudayaan yang ada di dalamnya.

Bergeser ke selatan masjid, terdapat sebuah Pasarean Agung Kotagede, tempat ini merupakan tempat dimakamkannya raja-raja Mataram dan keluarga Paku Alaman. Walaupun ini sebuah tempat pemakaman, tapi makam ini tidak menyeramkan hal ini dikarenakan nisan-nisan yang terdapat di makam tersebut terdapat ukiran ukiran khas Jawa yang menambah keindahan dan keanggunan tempat tersebut.

Salah satu makam yang terkenal dalam pemakaman ini yaitu makam Panembahan Senopati yaitu raja pertama yang mendirikan kerajaan Mataram Islam sekaligus menyebarkan ajaran agama islam. Makam ini menjadi sebuah penghargaan atas jasa jasa yang telah beliau lakukan pada masa kerajaan Mataram Islam.

Ngabuburit di berbagai wilayah bersejarah tadi, menyadarkan kita tentang pentingnya melestarikan budaya agar anak cucu kita juga menyaksikan hal yang sama. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa warisan bukan hanya tentang harta, akan tetapi tentang bagaimana cara kita menjaga warisan budaya di tengah modernitas yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *