Kalijaga.co – Kotagede (03/03/2026) Matahari Yogyakarta siang itu terasa seperti menusuk kulit saat ban sepeda kami mendadak kempis di sekitar pondok pesantren putri Nurul Ummah. Rantainya pun kering seolah mengeluhkan perjalanan kami yang baru saja dimulai beberapa menit lalu.
Tak hanya rantai sepeda kami, nyatanya perjalanan bersepeda di siang hari sambil berpuasa menyiksa tenggorokan kami dengan haus dan dahaga. Namun, siapa sangka, kendala teknis itu justru membawa saya pada sebuah pemandangan yang lebih menyejukkan daripada segelas es kelapa muda.
Di sebuah sudut sederhana, di Seberang jalan yang ramai. Kami mengamati kios ban sepeda yang teduh, terlihat sepasang lansia sedang bahu membahu mengisi angin untuk ban motor customernya. Pak Faiz (80) dan Bu Sarjira (60). Mereka bukan sekadar rekan bisnis di kios tambal ban itu, mereka adalah definisi dari “sehidup semati” yang nyata.
Di kios inilah pak Faiz dan bu Sarjira mencari nafkah dan penghidupan, merajut hari demi hari sambil menikmati kebersamaan dimasa tua. Sejak gempa besar meluluhlantakan Yogyakarta 2006 lalu, sepasang kekasih ini mulai membangun bisnis sederhana kios tambal ban ini. Memperbaiki kendaraan, memandangi lalu lalang jalan raya yang selalu sibuk di halaman kiosnya, atau sekedar menyesap kopi panas di atas bangku rotan sudah menjadi rutinitas yang keduanya biasa lakukan untuk mengahabiskan waktu bersama. Kompak dan mampu untuk saling melengkapi adalah pemandangan sehari hari dalam hubungan pernikahan keduanya. Saat Pak Faiz membungkuk untuk memeriksa ban sepeda saya, tubuhnya yang tak lagi tegap itu kian bergetar, tangan kanannya bertumpu pada lututnya yang ringkih, dan Bu Sarjira dengan sigap menangkap tangan kirinya membantu pak faiz duduk nyaman di depan ban sepeda kami.
Bu Sarjira pun tak hanya diam menonton, dengan sigap dan penuh hafal ia mengambilkan kunci-kunci alat yang dibutuhkan sebelum suaminya sempat meminta. Tak jarang, ia menyeka keringat di dahi suaminya dengan selembar kain lusuh, namun penuh dengan perhatian yang tulus, aksi inilah yang membuat saya mengagumi keharmonisan keduanya, tak ada pemandangan yang lebih indah dari cinta yang utuh dan tulus itu, bekerja di pinggir jalan yang ramai dan berdebu dengan bisingnya klakson dan mesin motor yang berderu, siapa yang tahan panas-panasan menunggu pelanggan yang datangnya pun tak menentu.
Namun bagi Pak Faiz, menunggu kios tambal ban di pinggir jalan ternyata tak seburuk itu, semua orang tahu, bahwa saat kau duduk bersama gadis pujaanmu, waktu seabad pun terasa seperti satu minggu.
“Ya saling bantu aja, Nak. Kalau dikerjakan berdua kan enak, ringan,” jawab Pak Faiz sambil tersenyum kecil, setelah ditanya bagaimana bisa seromantis itu? Pertanyaan yang muncul karena terpesona melihat kekompakan mereka.
Suaranya ramah, dan matanya menyipit seperti sedang malu-malu saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan tersebut.
Banyak orang mungkin melihat profesi tambal ban dengan sebelah mata. Namun, di balik tangan Pak Faiz yang menghitam karena karet ban dan oli, tersimpan sebuah prestasi yang membuat saya kembali terkesima.
Saat saya bertanya tentang pengalaman paling berharga, Pak Faiz menjawab dengan nada tenang, tawa kecilnya yang terdengar penuh kebanggaan itu ramah sekali memasuki indra pendengaran saya. Pekerjaan di pinggir jalan ini ternyata adalah jembatan mimpi bagi anak-anak mereka.
Dari setiap tetes keringat di kios ini, mereka berhasil mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan hingga jenjang S2. Ada yang sarjana Ekonomi, Hukum, hingga Administrasi. Bahkan, salah satu menantunya kini menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebuah capaian yang tak pernah gagal membuat terkesima.
Di zaman di mana banyak hubungan retak karena ekonomi yang rapuh, atau justru hambar ditengah bergelimangnya harta, pak Faiz dan bu Sarjira justru mendapati jalan kebahagiaan yang lain. Mereka membuktikan bahwa cinta itu tetap indah meski sederhana, karena kebahagiaan tidak butuh syarat yang rumit.
Bagi mereka, cukup adalah saat bisa berbagi tugas bersama, cukup adalah saat bisa melihat anak-anak berhasil, dan cukup adalah saat rasa cinta tetap utuh meski usia sudah di angka delapan puluh.
Saat ban sepeda saya kembali keras dan rantainya telah diminyaki, saya pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, ada yang berbeda saat saya kembali mengayuh pedal. Saya menyadari bahwa siang itu, kios Pak Faiz bukan hanya sekadar memperbaiki ban yang kempis. Lebih dari itu, kehadiran mereka telah “menambal” harapan saya yang sempat goyah tentang ketulusan cinta, sesuatu yang sering kali terasa langka dan mahal di dunia modern saat ini. Saya meninggalkan Kotagede dengan sebuah pelajaran berharga bahwa sebuah hubungan yang kuat tidak dibangun di atas fondasi kemewahan, melainkan di atas kesediaan untuk saling menyeka keringat dan saling meringankan beban.
Penulis Qoulan Syadida