Kalijaga.co – Belakangan ini, aku suka mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang yang puitis, yang sedang mencari jati diri keagamaannya, seorang komika nasional dan seorang musisi lagu yang berjudul “Iqro”. Ia adalah Raim Laode.
Begitu cepat dan begitu berisik untuk dunia yang sedang kita tempati kali ini. Ada saatnya, setiap manusia mengejar mimpinya, mengejar bayang-bayang pencapaiannya yang terbatas oleh waktu, hingga tanpa kita sadari, kita lupa cara untuk mendengarkan bisikan jiwa dari kita sendiri. Di tengah gejolak pencapaian dan keberisikan dunia ini, hadirlah sebuah lagu yang dapat bertindak sebagai penenang.
Secara harfiah, kata “iqro” berasal dari bahasa arab yang bermakna “bacalah”. Hal ini merupakan perwujudan dari sejarah islam dari kata pertama yang di wahyukan olah Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. yaitu surat Al-Alaq.
Namun, dalam ruang dengar yang diciptakan oleh Raim Laode, perintah untuk membaca ini bukanlah hanya sebatas memandang dan membaca sebuah tulisan saja. Ia bertransformasi menjadi panggilan kontemplatif atau panggilan yang menyuruh untuk kita merenungi, mengeja kembali hakikat diri, alam semesta, serta jejak-jejak keberadaan Sang Maha Pencipta.
Menurutku, mendengarkan karya Raim Laode ini bagaikan melangkah ke sebuah ruangan keheningan yang jauh dari berisiknya dunia. Musiknya yang menenangkan, suaranya khas tanpa nada hentakan, sangat sopan didengarkan.
Kita terbiasa untuk selalu meniai orang lain sebelum kita menilai diri kita sendiri, karena mungkin jika kita menilai diri sendiri merupakan suatu hal yang menakutkan. Sering kali kita menyimpan luka, ketakutan, dan ego yang bersemayam di dalam dada.
Dalam lagu ini, proses membaca bukan lagi sebuah intelektualitas semata, melainkan perkara rasa dan kerendahan hati yang harus kita sadari. Jika kita mulai bersedia dan mampu membaca diri kita sendiri, mengenali diri kita sendiri, disitulah sebuah kesadaran spiritual mulai mekar.
Salah satu kekuatan utama yang terlahir dari lagu ini terletak pada lapisan transendental yang terbangun. Bukan hanya menyuguhkan estetika pendengaran, melainkan sebuah ruang yang spesial di mana doa dan nada saling bertautan. Terdapat sebuah nuansa yang terbangun antara Tuhan dan hamba-Nya. Seorang hamba yang merasa dirinya tersesat, yang meminta pertolongan untuk menuju ke jalan kebenaran.
Setiap lirik dalam lagu ini, menunjukan sebuah ruang melodi yang bekerja layaknya sebuah lampu yang dapat memberikan cahya bagi orang-orang yang sedang berada dalam ruag gelap gulita.
Lagu ini memberikan kesadaran tentang pentingnya membaca yang merupakan sebuah pintu untuk menuju pembebasan dari kebodohan batin. Ketika manusia tak sadar untuk menyadari, memahami, serta peka terhadap perubahan dan situasi yang terjadi saat ini, mengabaikan sinyal-sinyal kebaikan pada hakikatnya dia sedang mengurung jiwanya dalam kegelapan.
Secara keseluruhan dalam lagu ini, Raim Laode menyampaikan sebuah filosofis keagamaan tanpa kesan menggurui, ia memposisikan dirinya sendiri sebagaimana pejalan kaki yang juga sedang meraba raba, mengeja aksara kehidupan yang belum selesai ditulis.
Setiap melodi yang disampaikan lagu ini, seakan menegaskan bahwa hidup manusia adalah sebuah buku yang terus terbuka. Banyak di antara kita yang sibuk ingin menulis bab-bab baru dengan pencapaian yang megah, namun enggan membaca bab-bab lama yang penuh dengan pembelajaran.
Iqro mengajarkan kita untuk berani membaca lembaran-lembaran yang terkadang ingin kita lupakan. Tentang kegagalan, penyesalan, serta duka yang belum usai. Ketika kita berani membaca dan menerima seluruh bagian dari perjalanan itu tanpa penyangkalan, kita tidak sedang meratapi nasib, melainkan sedang belajar untuk mendewasakan jiwa.
Perjalanan kontemplatif ini juga menuntut sebuah keberanian untuk melepaskan topeng-topeng sosial yang biasa kita pakai sehari-hari. Di hadapan manusia lain, kita mungkin sering berpura-pura kuat, selalu bijaksana, atau serba tahu segalanya.
Namun, di dalam ruang sunyi yang disediakannya, Raim Laode mengajak pendengar untuk melucuti seluruh atribut kepalsuan tersebut. Dihadapan Tuhan, tidak ada aksara yang bisa disembunyikan, tersisa kepasrahan seorang hamba yang menyadari betapa terbatasnya akal dan penglihatan dibanding dengan mahaluasnya takdir yang sedang tergelar.
Ironi terbesar dari manusia abad ini adalah ketika kita kebanjiran informasi, tetapi justru mengalami kekeringan hikmah. Kita bisa membaca ribuan berita dan unggahan media sosial setiap harinya, tetapi mata batin kita kerap kali buta terhadap penderitaan sesama dan kebenaran yang sejati.
Kehadiran tembang ini menjadi peringatan keras bahwa membaca tanpa melibatkan hati hanya akan menghasilkan pengetahuan yang dingin dan tak berjiwa. Iqro menantang kita untuk mengembalikan fungsi membaca sebagai sarana mengasah kepekaan empati, bukan sekadar menumpuk ego intelektual yang membuat diri semakin congkak.
Pada akhirnya, ruang sunyi yang ditawarkan oleh lagu ini bukanlah sebuah bentuk pelarian dari kenyataan duniawi, melainkan sebuah bentuk perhentian sejenak untuk mengisi kembali daya spiritual kita.
Setelah perenungan yang mendalam, manusia diharapkan dapat kembali melangkah ke tengah hiruk pikuk dunia dengan cara pandang yang baru yang lebih tenang, bijaksana, dan penuh kasih.
Nada-nada yang diwariskan oleh Raim Laode akan terus bergema sebagai pengingat abadi bahwa di mana pun kita berada, perintah untuk membaca, merenung, dan menyadari keberadaan-Nya adalah tugas yang tak akan pernah usai selama nafas masih dikandung badan.
Penulis: Ahyana Etika Muliani | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Jejak Sunyi Di Antara Doa Dan Nada - 28 Agustus 2026
- Kaktus yang Terabaikan - 1 Mei 2026
- Rekomendasi Wisata Kebumen Barat Yang Harus Kamu Datangi - 10 April 2026