Kalijaga.co – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap terkotak-kotak oleh perbedaan, Padukuhan Sokomoyo yang terletak di Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, menyajikan sebuah potret kehidupan religius dan sosial yang menyejukkan hati.
Pada tanggal 29 – 30 Juli 2026, masyarakat setempat mengadakan tradisi tahunan yakni Saparan. Saparan yang merupakan acara adat sedekah bumi tidak sekadar menjadi ajang ritual kebudayaan, melainkan bertransformasi menjadi panggung nyata keharmonisan dan solidaritas antarumat beragama, khususnya pemeluk agama Islam dan Buddha yang hidup berdampingan secara damai.
Ziarah Lintas Agama di Makam Leluhur

Rangkaian perayaan diawali pada hari Rabu sore, 29 Juli 2026, dengan prosesi takziah dan ziarah kubur ke dua pemakaman leluhur utama di Sokomoyo, yaitu Makam Tengisan dan Makam Kaligayam.
Ziarah ini memiliki makna mendalam sebagai wujud penghormatan dan doa bagi para sesepuh serta cikal bakal desa yang telah mendahului. Keunikan yang menggetarkan jiwa terlihat jelas dari tata cara pelaksanaan ziarah tersebut, di mana nilai toleransi tidak lagi sebatas retorika, melainkan dipraktikkan secara alami oleh warga sekitar.
Dalam proses tersebut, masyarakat beragama Buddha memulai ritual doa keselamatan di Makam Tengisan, sementara masyarakat beragama Islam berdoa bersama di Makam Kaligayam. Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan ritual doanya, kedua kelompok masyarakat ini saling bergantian tempat ziarah. Tempat pemakaman umum yang menampung makam warga lintas agama ini menjadi saksi bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi niat suci warga untuk bersama-sama mendoakan para pendahulu tanah Sokomoyo.
Mengenai tradisi ini, Pak Abdillah selaku salah satu tokoh agama Islam di Padukuhan Sokomoyo menjelaskan pentingnya nilai spiritual dan sosial di balik ritual tersebut.
“Saparan ini hakikatnya adalah sedekah bumi untuk mendoakan para leluhur yang telah berjuang membuka dan membangun Sokomoyo. Mengenai doa bersama ini, yang beragama Buddha mendoakan pendahulu yang Buddha, dan yang Islam mendoakan pendahulu yang Islam. Kita tidak saling membedakan, karena kerukunan umat adalah tolak ukur utama kami di Sokomoyo,” tutur Pak Abdillah.
Kirab Gunungan dan Filosofi Gotong Royong

Semangat kebersamaan yang telah terbangun sejak hari pertama berlanjut pada hari kedua, Kamis, 30 Juli 2026. Suasana semakin meriah dengan digelarnya kirab gunungan hasil bumi dan kenduri adat Saparan.
Prosesi kirab mengarak gunungan yang berisi aneka buah-buahan, sayuran, dan hasil pertanian lokal bergerak dari titik awal lapangan Azzahra hingga titik akhir di lapangan rumah milik Bapak Suradal. Tampak warga dari agama Islam maupun Buddha bahu-membahu menggotong tandu gunungan dan meramaikan arak-arakan.
Aksi saling bantu dan gotong royong ini mempertegas bahwa keberadaan Saparan diposisikan murni sebagai wadah adat dan budaya universal, bukan milik dogma salah satu agama saja.
Bagi warga Sokomoyo, mengarak dan berebut gunungan hasil bumi memiliki filosofi kehidupan yang sangat mendalam. Hasil bumi yang diarak merupakan simbol manifestasi rasa syukur atas penyampaian rezeki, kebersihan alam, dan sumber air yang dikaruniakan Tuhan YME. Sebuah manifestasi dari konsep Jawa gemah ripah loh jinawi .
Prosesi berebut hasil gunungan di akhir acara mengajarkan bahwa manusia harus berjuang dan bekerja keras di tengah kehidupan. Namun, tetap mengedepankan keikhlasan, kebersamaan, dan rasa persaudaraan.
Panggung Kesenian Suko Pari Suko

Perayaan Kerihoan Saparan tidak berhenti pada prosesi kirab saja. Usai perebutan gunungan, kemeriahan berlanjut pada Kamis siang hingga sore hari pukul 16.00 WIB melalui gelaran acara kesenian bertajuk Suko Pari Suko. Panggung hiburan rakyat ini menjadi ajang ekspresi seni dan kebersamaan warga Sokomoyo dari berbagai generasi. Unsur Kebudayaan lokal tampil memukau menyatukan seluruh lapisan masyarakat yang hadir menikmati pertunjukan.
Selama empat jam penuh keseruan, panggung Suko Pari Suko diramaikan oleh beragam penampilan seni tradisional khas daerah, antara lain: Tari Angguk Jos, Jathilan, Waro’ Kecil dan Waro’ Remaja yang menambah keseruan Saparan di desa Sokomoyo.
Toleransi Berakar dari Kehidupan Sehari-hari
Kemeriahan dan kekompakan warga dalam pentas seni tersebut merupakan cerminan nyata dari hubungan kemasyarakatan mereka. Sikap toleransi di Sokomoyo memang bukan lahir secara instan, melainkan telah mengakar kuat dalam pola interaksi sehari-hari warga.
Beberapa rumah tangga di Sokomoyo, anggota keluarga dapat menganut agama yang berbeda, tetapi tetap hidup harmonis dalam satu atap. Hal ini menciptakan ikatan persaudaraan yang melampaui sekat-sekat keagamaan, di mana warga saling mengunjungi saat hari raya keagamaan tiba serta bahu-membahu dalam kegiatan kemasyarakatan.
Pak Budi, selaku salah satu tokoh masyarakat dari umat Budha Sokomoyo, menegaskan eratnya tali silaturahmi tersebut.
“Kebersamaan di Sokomoyo ini sudah berlangsung turun-temurun. Baik acara adat Saparan maupun kegiatan kemasyarakatan harian, kami warga Buddha dan Islam selalu saling menghargai. Toleransi di sini bukan sekadar slogan, melainkan cara hidup kami. Kami saling menjaga, membantu, dan merawat tradisi budaya leluhur bersama-sama,” tutur Pak Budi.
Malam Tirakatan dan Wejangan Lewat Pertunjukan Wayang
Setelah seharian bersorak dan hiburan rakyat, rangkaian acara puncak perayaan Saparan ditutup pada Kamis malam. Suasana khidmat terasa di Masjid Al-Hikmah saat warga berkumpul untuk menggelar tradisi malam tirakatan dan doa bersama.
Seusai tirakatan, perhatian warga beralih ke pagelaran seni wayang kulit tradisional semalam suntuk yang dibawakan oleh dalang kondang Ki Rusmadi. Mengangkat lakon “Kembang Dewo Retno”, pertunjukan wayang ini menyedot antusiasme ratusan penonton yang bertahan menikmati pertunjukan hingga pukul 04.00 pagi.
Kisah wayang kulit yang dibawakan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga sarat akan pitutur luhur, filosofi kehidupan, serta nilai-nilai kebijaksanaan moral. Melalui media wayang, pesan-pesan moral mengenai pentingnya menjaga kebersihan, menjaga egoisme, serta memelihara persatuan antarsesama disampaikan secara halus dan komunikatif kepada generasi muda maupun tua.
Miniatur Pancasila di Bumi Nusantara
Keberhasilan pelaksanaan Saparan di Padukuhan Sokomoyo tahun 2026 ini membuktikan bahwa tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan mampu berjalan bersisian secara harmonis tanpa memicu perpecahan.
Dengan menempatkan kebudayaan sebagai payung pemersatu, warga Sokomoyo berhasil menunjukkan kepada khalayak luas bahwa perbedaan agama justru menyuburkan khazanah tradisi. Hal ini mempertegas identitas Sokomoyo sebagai salah satu daerah yang meneladani kerukunan umat beragama dan cerminan miniatur Pancasila yang nyata di bumi Nusantara.
Penulis: Andara Angesti | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Harmoni di Tanah Sokomoyo: Ketika Tradisi Saparan Merajut Toleransi dan Syukurnya Dua Umat - 28 Agustus 2026
- Kala Sambal Bersua Dawet di Rimba Menoreh: Senandung Manis Pedas Racikan Nyi Ponirah - 28 Agustus 2026
- Sesi Kedua Pelatihan Dakwah Digital: Bahas Unsur Utama hingga Strategi Kreatif Pembuatan Konten - 22 Agustus 2026