crossorigin="anonymous">

Sore di Sawah Resto: Menutup Perjuangan Panjang Panitia PBAK FDK 2026

Sore itu, tidak ada lagi deret angka dalam rundown yang harus dikejar. Tidak ada lagi sinyal Walkie-Talkie yang berderit nyaring, atau jadwal ketat yang mesti dipantau dari menit ke menit. Di sudut Sawah Resto, Jumat (2/10/2026), atmosfer tegang yang mengepung selama berminggu-minggu akhirnya mencair. Para panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga 2026 berkumpul dalam satu agenda pamungkas: pembubaran panitia.

Sejak pukul 16.00 WIB, para panitia mulai berdatangan memenuhi area restoran. Rangkaian acara formal pembubaran yang bergulir sore itu kemudian disusul momen makan bersama sebuah penutup yang terasa hangat dan sederhana bagi rentetan kerja panjang yang menguras energi. Sebanyak 43 panitia yang hadir sore itu adalah sosok-sosok di balik layar yang sebelumnya memikul tanggung jawab besar: mengoordinasi dan memandu lebih dari 500 mahasiswa baru selama tiga hari penuh pelaksanaan PBAK FDK 2026.

Bagi Muhammad Agmal Saofiq, mahasiswa Manajemen Dakwah angkatan 2024 yang dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Pelaksana, sore itu menjadi momentum paling pas untuk menarik napas lega. Ketegangan yang mengendap di dadanya pelan-pelan terangkat. Ia bersyukur seluruh prosesi PBAK tahun ini bergulir tanpa hambatan krusial.

“Alhamdulillah, PBAK tahun 2026 ini berjalan dengan lancar. Tidak ada masalah-masalah yang sangat besar. Semua dinamika bisa diatasi bersama, sehingga acara terlaksana dengan baik sampai hari ini,” ungkap Agmal saat ditemui di sela-sela acara.

Kendati demikian, Agmal tidak menampik bahwa rasa khawatir kerap menyelinap, terutama pada hari pertama pelaksanaan. Mengendalikan ratusan mahasiswa baru hanya dengan kekuatan 43 orang panitia tentu mendatangkan kecemasan tersendiri. Namun, persiapan yang matang mulai dari pemetaan risiko hingga penyusunan jadwal harian yang presisi menjadi benteng utama hingga seluruh rangkaian acara berjalan mulus.

Dalam pesannya kepada rekan-rekan panitia, Agmal mengutip sebuah kalimat reflektif yang pernah ia dengar: ketika sebuah kegiatan gagal, kesalahan sepenuhnya ada di pundak ketua; namun ketika acara berjalan sukses, itu adalah buah dari ketangguhan dan kesungguhan para anggotanya.

“Keberhasilan yang kita dapatkan hari ini bukan karena kerja satu orang, melainkan dari kekuatan kolektif seluruh panitia yang sungguh-sungguh dan mau berjuang bersama untuk menyukseskan PBAK FDK 2026,” tuturnya penuh keharuan.

Cerita dengan dinamika yang lebih berliku datang dari Haikal Alfan Amrullah, Koordinator Acara yang akrab disapa Alfan. Di lingkungan FDK, namanya cukup unik dan mudah diingat. Berkat slogan perkenalan yang ia lontarkan di awal masa persiapan, ia kerap disapa “Halo, Kak 678” oleh rekan-rekannya tiap kali berpapasan di lorong kampus.

Sebagai perancang konsep acara, Alfan mengakui bahwa ujian terberat justru hadir saat eksekusi di lapangan. Rundown yang di atas kertas tampak rapi dan ideal, rupanya menyisakan celah ketidakpastian saat dihadapkan pada realitas teknis. Dari sudut pandang mahasiswa baru, acara mungkin tampak mengalir tanpa cela. Namun di balik panggung, panitia harus jungkir balik melalukan penyesuaian dan keputusan cepat.

“Kita merasa konsep yang dibuat sudah cukup matang. Ternyata pas eksekusi di lapangan, banyak sekali detail teknis yang harus dikoreksi langsung di tempat,” ujar Alfan. Menurutnya, mengarahkan lebih dari 500 kepala dengan karakter berbeda adalah hal yang sulit diprediksi sepenuhnya secara matematis.

Usai agenda pembubaran ini, Alfan merangkum dua hal berharga yang ia bawa pulang. Pertama, bahan evaluasi yang mendalam bagi kepemimpinan dirinya. Kedua, nilai kebersamaan. Ia menyadari bahwa kerja tim tidak selalu menghasilkan output yang 100% sempurna sesuai rencana awal, namun proses itulah yang mempererat tali relasi. Ia mengenang kembali momen-momen kritis saat keputusasaan hampir melanda, lalu rekan-rekannya datang menyumbang gagasan cerdas. Bagi Alfan, solidaritas spontan seperti itulah pengalaman paling excited yang tak ternilai harganya.

Sudut pandang berbeda dihadirkan oleh Intan Safitri, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial angkatan 2025 yang bertugas sebagai Penanggung Jawab Program Studi (PJ Prodi). Bagi Intan, PBAK bukan sekadar rutinitas penanggalan akademik kampus yang datang dan pergi setiap tahunnya.

“PBAK itu pintu awal bagi adik-adik mahasiswa baru untuk membuka lembaran baru kehidupan kampus. Kalau kita tidak memberi ruang dan arahan yang tepat lewat PBAK, mereka bisa kehilangan arah. Selain saling mengenal, PBAK adalah ruang terbaik untuk membangun bonding,” jelas Intan.

Sore itu, Intan juga menyumbang kisah paling mengundang gelak tawa. Undangan pembubaran panitia sebenarnya dimulai pukul 16.00 WIB, tetapi ia baru tiba di lokasi ketika sesi seremonial telah usai dan waktu makan bersama dimulai. Tanpa sempat mengikuti susunan acara awal, ia langsung bergabung di meja makan.

“Lebih gong-nya lagi, pulang dari resto aku sempat membungkus makanan,” tutur Intan diselingi tawa lepas yang mencairkan suasana.

Namun di balik kelakar hangat itu, ada nilai persahabatan mendalam yang dirasakan Intan. Melalui kepanitiaan PBAK, ia bisa mengenal lebih dekat sesama PJ Prodi yang sebelumnya tidak pernah saling sapa. Hubungan yang terjalin bahkan berlanjut ke luar agenda kepanitiaan beberapa teman sesama panitia kini kerap menginap di kosnya, berbagi cerita, hingga berebut makanan bersama.

“Semoga setelah selesai PBAK dan pembubaran ini, teman-teman jangan lupakan aku. Aku ingin relasi ini tetap terjaga dan kita terus bertegur sapa di kampus,” pesan Intan tulus.

Mentari sore di Sawah Resto akhirnya benar-benar tenggelam, menandai berakhirnya masa bakti kepanitiaan PBAK FDK 2026. Dari tiga sudut pandang yang berbeda rasa syukur penuh lega seorang ketua pelaksana, evaluasi jujur seorang koordinator acara, serta kehangatan kebersamaan seorang PJ Prodi terajut satu benang merah yang sama: kerja keras kolektif selalu melahirkan ikatan yang kuat. Tugas kepanitiaan kini telah usai, namun tali silaturahmi yang terjalin di antara mereka dipastikan akan terus menyusuri lorong-lorong kampus FDK hingga masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *