Kalijaga.co – Kawasan ikonik Tugu Pal Putih Jogja kembali menjadi saksi bisu bersatunya suara-suara pejuang kebenaran. Pada Kamis, 4 September 2026 tepatnya pukul 15.30, aksi kamisan Yogyakarta kembali mendatangkan jaringan solidaritas dari Forum Penyelamat Lingkungan Hidup dan Demokrasi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-DIY dan Gerakan Masyarakat Peduli Urusan Rakyat (Gempur). Kolaborasi aksi kolektif ini secara khusus menyoroti stagnansi penuntasan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu, sekaligus menjadi ruang untuk mengenang wafatnya pejuang HAM, Munir Said Thalib.
Massa aksi memenuhi sudut jalan dengan membuka spanduk-spanduk, mengangkat poster tuntutan keadilan, mengenakan topeng Munir dan membagikan press release. Kehadiran massa gabungan ini memberikan warna baru pada konsistensi gerakan kamisan yang rutin digelar di jantung kota Jogja.
Koordinator aksi sekaligus koordinator forum BEM se-DIY, Faturahman Jaguna, menjelaskan bahwa kehadiran mereka di Tugu Jogja membawa dua agenda besar. Pertama, menuntut ketegasan negara yang dinilai abai dalam menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang hingga kini belum menemui titik terang. Kedua, menyuarakan penolakan terhadap maraknya konflik agraria di berbagai daerah.
“Fokus kami, khususnya BEM se-DIY dan Gempur, adalah menyoroti isu pelanggaran hak asasi manusia yang selama ini tidak pernah diselesaikan oleh negara. Kedua, terkait perampasan ruang hidup masyarakat adat, bahkan perampasan lahan-lahan pertanian yang dirampas oleh negara,” ujar Faturahman saat diwawancarai oleh Kalijaga.co di lokasi aksi.
Faturahman juga mengapresiasi antusiasme generasi muda dan mahasiswa yang mendominasi jalannya aksi sore itu. Menurutnya, kesamaan keresahan atas kondisi bangsa menjadi motor penggerak utama yang menjaga konsistensi dan solidaritas para peserta aksi di lapangan.
“Kami bersyukur ternyata masih ada kepedulian dari generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk bagaimana memperjuangkan isu-isu kebangsaan dan kenegaraan. Mereka masih punya kepekaan yang tinggi,” lanjutnya.
Agenda kolaborasi ini kian diperkuat dengan kehadiran tokoh publik dan pegiat kemanusiaan seperti Dandhy Dwi Laksono yang ikut menyuarakan kondisi terkini di tanah Papua, serta Direktur Social Movement Institute (SMI), Eko Prasetyo.
Suasana sore di jantung kota Jogja larut dalam khidmat saat sastrawan sekaligus aktivis kemanusiaan, Okky Madasari, maju ke tengah lingkaran massa aksi. Di bawah payung-payung hitam yang mengembang, Okky membacakan bait-bait puisi yang tajam.
Dedikasi lewat karya sastranya tersebut berhasil menyentuh nurani kekuasaan, sekaligus membakar kembali ingatan kolektif tentang perjuangan Munir yang menolak dikubur oleh impunitas.
Konsistensi aksi ini tidak terlepas dari peran para peserta senior yang terus merawat nyala api perjuangan. Mas Yanto, seorang warga asal Umbulharjo yang telah konsisten mengikuti aksi kamisan Jogja sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2013, menegaskan bahwa aksi ini adalah pengingat abadi bagi negara yang masih berhutang keadilan.
“Ini sebenarnya tribute untuk Cak Munir, jadi penghargaan karena sampai sekarang dalang pembunuhnya belum ditemukan. Peserta ini ingin mengingatkan kepada negara bahwa ada kasus-kasus besar yang belum selesai, salah satunya adalah kematian Munir. Dalangnya sampai sekarang belum ditangkap, yang dihukum hanya aktor lapangannya saja,” tegas Mas Yanto.
Bagi Mas Yanto, aksi rutin mingguan seperti kamisan jauh lebih berat dan berharga dibanding aksi besar yang hanya digelar musiman.
“Kamisan ini sebenarnya latihan untuk memupuk militansi mahasiswa. Mahasiswa di sini punya ketahanan aksi yang tinggi. Kalau kita hanya aksi gede sekali dalam enam bulan atau satu tahun, itu gampang. Tapi kalau aksi yang tiap minggu harus ada di sini, berdiri bersama para korban dan mendukung mereka, kamisan adalah tempatnya,” tambahnya.
Solidaritas dan ruang edukasi ini turut dirasakan secara langsung oleh penonton dan peserta aksi lintas daerah yang hadir di sekitar tugu Jogja.
Azmi, seorang mahasiswa teknik asal Bandung yang sengaja datang ke lokasi aksi, mengungkapkan bahwa kehadirannya di kamisan Jogja adalah untuk membuka mata terhadap realitas sosial dan konflik lingkungan yang kerap luput dari media nasional, salah satunya polemik pertambangan di Maluku. Bagi Azmi, gerakan jalanan seperti ini setidaknya memuat tiga esensi penting bagi anak muda.
“Bagi saya, aksi itu ada tiga aspek mendengar, melihat, dan belajar. Jadi, bagi teman-teman yang mungkin belum tertarik atau tidak tahu apa topiknya, hadir saja dulu untuk mendengarkan dan melihat, lalu bisa belajar. Setelah itu baru kita mempunyai rasa sayang dan keresahan yang sama,” tutur Azmi.
Di akhir aksi, Faturahman kembali menitipkan pesan mendalam yang membakar semangat bagi seluruh elemen masyarakat sipil dan mahasiswa di Jogja agar tidak menutup mata terhadap realitas sosial di luar dinding akademis.
“Saya teringat kata Pramoedya Ananta Toer, beliau mengatakan bahwa seorang yang terpelajar itu harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Nah, semangat ini yang harus dipetik dan dibakar oleh generasi muda selaku kaum intelektual. Tidak cukup hanya di dalam ruang perkuliahan, ruang kelas, atau ruang kampus. Kita harus punya kepekaan sosial terhadap kondisi bangsa dan negara hari ini. Karena menurut saya, Gen Z kalau tidak melawan itu tidak asyik,” pungkas Faturahman dengan tegas.
Menjelang petang, aksi damai tersebut di tutup dengan bernyanyi bersama. Nyanyian tersebut menyisakan pesan bahwa ruang publik di sudut Tugu Jgja akan tetap menjadi mimbar perlawanan rakyat untuk menagih keadilan yang belum selesai.
Penulis: Muhammad Haikal H Sihotang | Editor: Nayla Nur Hidayah