Kalijaga.co – Satu tahun lebih sejak Oktober 2023, saat serangan udara Israel menggempur bumi Gaza tanpa henti. semakin hari, kondisi di sana kian memanas. Jerit tangis masyarakat Gaza membawa duka mendalam bagi dunia. Bukan hanya Gaza, seluruh wilayah Palestina seolah disapu rata oleh derita. Tempat tinggal, sekolah, masjid, bahkan rumah sakit, secara bertahap telah menjadi puing akibat hantaman rudal. Tak hanya kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan anggota tubuh, mereka juga hidup di tengah kekurangan dan ketakutan setiap waktu. Akses terhadap bantuan seperti makanan, obat-obatan dan air bersih telah diblokade secara brutal oleh pasukan Israel.
Di tengah kepedihan yang dialami warga Palestina, dunia mulai membuka mata. Solidaritas antarnegara negara pun semakin erat untuk mengecam kebengisan yang tak berperikemanusiaan. Dokumentasi dari para jurnalis yang tetap bertahan di tengah medan perang, serta tayangan video dari akun seperti @eye.on.palestine, mulai dari ledakan bom, serangan rudal, hingga aksi kejam genosida yang berhasil terekam, menjadi aliran informasi yang tak henti. Melalui itu semua, dunia dapat menyaksikan langsung apa yang terjadi di bumi Palestina dan tergerak untuk bertindak.
Seruan “Stop Genosida” digaungkan masyarakat melalui parade, demonstrasi besar-besaran, hingga kampanye sosial. Meski seringkali upaya kampanye banyak dibungkam dan dilarang oleh berbagai negara, semangat perjuangan tersebut tidak padam. Masyarakat global terus menyuarakan dukungan menggunakan media sosial.
Melalui Instagram, TikTok, Facebook, dan berbagai platform digital lainnya, sejumlah influencer terus mengajak para pengikutnya untuk tetap melakukan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel. Salah satu di antaranya adalah Ustadz Felix Siauw, yang kerap membagikan video berisi edukasi dan sudut pandangnya terkait isu genosida di Palestina. Dalam unggahan Instagramnya, pada Jumat (13/06), ia mengatakan,
“70% warga dunia telah melihat Israel dan Netanyahu sebagai entitas menjijikkan. Yuk, bersuara lagi. Yang punya platform, sampaikan bagaimana pandangan kita tentang apa yang terjadi di sana.”
Selain itu, akun dakwah @hawariyyun juga konsisten menyuarakan isu Palestina melaui unggahan yang mengena dan identik dengan penuh sindiran tajam. Salah satu contohnya adalah postingan pada 14 Juni yang membahas perjuangan kapal Madelene. Dalam unggahan tesebut, @hawariyyun menyuarakan rasa malu sekaligus perenungaan mendalam terhadap umat Islam sendiri, yang justru disibukkan dengan urusan dunia dan memilih bungkam ditengah penderitaan saudara seiman di Gaza.
“Kita punya iman, punya kiblat, punya doa.. tapi kalah sama mereka yang bahkan belum mengenal Tuhan kita. Gua ngerasa Allah tu lagi nampar kita lewat peristiwa ini. Seakan bilang, ‘Eh kaum Muslimin, kalian udah nggak bisa berbuat apa-apa ya? Kalian semua pengecut ya? Udah kehabisan cara buat nolong saudara-saudara kalian di Palestina? Kalau kalian nggak bergerak, nih, ada hambaku yang bahkan belum beriman kepada-Ku, tapi dia bergerak dari hatinya.”
Kalimat-kalimat tersebut terasa sangat menohok, menjadi teguran keras bagi umat Islam agar tidak lagi menutup mata. Melalui narasi yang lugas dan menyentil, @hawariyyun mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu membutuhkan kekuatan besar, melainkan keberanian dan kepekaan hati yang justru kini banyak diabaikan.
Saat ini, media sosial tidak lagi sebatas ruang hiburan maupun pertukaran informasi, tapi telah menjelma menjadi medan perang dan solidaritas digital umat manusia dalam menyuarakan ketidakadilan. Aksi solidaritas digital yang terus menggema di berbagai media sosial, menunjukkan bahwa peran masyarakat sipil kini tidak bisa dianggap remeh. Dengan unggahan, klik, share, komentar, dan menaikkan tagar seperti #Savepalestine, #Freepalestine, hingga menggunakan simbol buah semangka, dapat menjadi senjata untuk menyuarakan perjuangan rakyat Palestina.
Semua hal tersebut bukan sekedar bentuk empati saja, tetapi juga aksi nyata yang dapat menembus batas wilayah. Dukungan di media sosial bukanlah suatu hal yang sia-sia. Melalui perangkat digital yang ada di tangan kita, solidaritas sosial dunia mulai terlihat nyata. Masyarakat global semakin bersatu, menegakkan keadilan dan mengirimkan bantuan.
Contoh besarnya yaitu perjuangan 12 relawan yang berlayar menuju Gaza dengan kapal Madelene, serta rencana aksi besar di perbatasan Rafah yang di inisiasi oleh ratusan organisasi dan relawan dari puluhan negara. Aksi tersebut bertujuan untuk mendobrak blokade Israel dan menuntut dibukanya akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Ini merupakan bukti bahwa kampanye digital berdampak nyata.
Untuk itu jangan berhenti untuk terus menyuarakan kebenaran, karena di zaman ini setiap unggahan bisa menajadi bentuk perlawanan. Siapa pun kita, sekecil apa pun platform yang kita punya, semua akan menjadi saksi bahwa kita pernah berdiri di barisan perjuangan untuk keadilan Palestina.
Penulis Mifta Khoirunnisa
- Proses Panjang di Balik Sebuah Penampilan - 15 Maret 2026
- Romansa Sederhana di Kios Tambal Ban Pak Faiz dan Bu Sarjira - 14 Maret 2026
- Ragam Jajanan Buka Puasa di Jogja: Perpaduan Antara Kuliner Tradisional dan Populer - 13 Maret 2026