Kalijaga.co- Pada tahun 2022, saya menimba ilmu agama di sebuah pondok pesantren di Bogor. Bermodalkan tekad dan bekal ilmu yang masih sangat minim, harapan saya sederhana: mendapatkan ilmu yang banyak dan berkah. Sebentar— “berkah” ?
Pasti kata berkah gak asing di telinga kalian. Tapi pernah mikir gak si sebenarnya berkah itu apa ?, sedikit-sedikit setiap orang setelah melakukan sesuatu doanya adalah “semoga berkah” , tapi sebenernya berkah ini asalnya dari mana ? terus bagaimana kita bisa mendapatkanya ? dan semua yang berhubungan dengan berkah ?.
Secara bahasa, berkah berarti “nikmat.” Dalam Al-Qur’an dan hadis, ia bermakna langgengnya kebaikan. Imam Nawawi menyebut berkah sebagai kebaikan yang banyak dan abadi. Artinya, ketika kita belajar, berkahnya bisa berupa pemahaman dan hikmah. Ketika kita minum, berkahnya adalah hilangnya dahaga. berkah selalu memberi dampak positif, baik secara lahir maupun batin. Dalam hal ini berkah memiliki misi di dalamnya yaitu bertambahnya ketaatan kita kepada Allah SWT apapun keadaanya.
Jadi ini seputar berkah, oke saya lanjutin cerita di awal. Hari demi hari dilewati, sampai suatu saat kami yang waktu itu ada sekitar 50 santri di bagi kebeberapa kelompok untuk membacakan Al-Qur’an 30 juz di depan segentong madu, awalnya biasa-biasa saja, karena saya anggap ketika membaca Al-Qur’an yang merupakan kegiatan baik itu bisa memberikan keberkahan untuk saya dan kepada siapapun yang meminum madu itu nanti, keberkahan itu bertambah ketika saya nurut dengan ustaz.
Salah satu ustaz di sana memang menjual madu ruqyah. Khasiatnya seperti madu pada umumnya: meningkatkan imun, membantu pencernaan, bahkan disebut mampu mengatasi gangguan jin. Kegiatan membaca 30 juz ini rutin kami lakukan setiap kali gentong madu itu habis. Beberapa kali ustaz meminta saya untuk membantu membuatkan poster untuk marketing penjualan. Bahkan sampai setelah saya lulus saya masih membantu beliau dalam pemasaran.
Saat itu, saya merasa semuanya baik-baik saja. Membaca Al-Qur’an di depan madu, membantu penjualan, bahkan merasa ikut berdakwah. Namun seiring waktu, terutama setelah lulus dan mulai melihat dunia luar, pemahaman saya tentang agama meningkat, perlahan tumbuh kegelisahan yang dipantik oleh kasus-kasus komodifikasi agama yang meningkat : banyak ustaz menjual agama untuk kepentingan pribadi, ada yang menjual keberkahan, khasiat, label halal, fashion syar’i, ceramah berbayar ( dengan tarif yang sudah dipatenkan ) sampai para politikus ketika berkampanye menggunakan label-label agama untuk menarik masyarakat.
Hal ini membuat saya berpikir apakah agama hanya simbol belaka ? Apakah nilai agama hanya jadi “kemasan jualan”? Apakah ada manipulasi keyakinan demi keuntungan? Apakah konsumen paham apa yang dibeli atau hanya tergiur embel-embel belaka ?
Kakek jauh saya, Zygmunt Bauman seorang teoretius kritis dan sosiolog berasal dari Polandia, menyatakan bahwa di zaman Modernitas Cair (Liquid Modernity) , agama bukan lagi jalan menuju keselamatan tapi menjadi bagian dari gaya hidup, citra diri, bahkan identitas merek. Madu ruqyah sebagai “spiritualitas kemasan” dijual dalam bentuk botol, dengan label-label yang menenangkan konsumen.
Menurut saya, saat ini ketika berbicara tentang agama tidak bisa lagi hanya sekedar teologi dan spiritual saja, agama pada masa postmodernisme ini menjadi sebuah simbol yang dapat memberikan kita keuntungan. Dengan Islam sebagai populasi terbesar di Indonesia, sangat cocok ketika kita memasukkan label-label agama pada barang yang akan kita jual, bahkan masyarakat Indonesia tak segan segan untuk membeli barang yang lebih mahal dari aslinya karena sudah dibumbui oleh label agama.
Menurut State of the Global Islamic Economy Report 2023, pasar produk halal global tumbuh hingga USD 2,29 triliun pada 2022, dan Indonesia berada posisi ketiga dunia.
Harga pasaran madu murni 500 gram bisa didapatkan dengan harga enam puluh ribuan. Tapi madu dengan embel-embel agama? Bisa tembus seratus lima puluh ribu. meski komposisinya sama dengan madu murni, botolnya sama, ukurannya sama, hanya kalimat di botolnya saja yang berbeda yang mungkin membuat para konsumen bergetar ketika membacanya. Beberapa orang mungkin lebih percaya aspek spiritual bukan sekedar rasa atau manfaat kesehatan saja, mereka rela membeli mantra cair yang sudah dikemas ke dalam botol yang menjadi jaminan spiritual.
Dari sana tak hanya menjual madu atau apapun bentuknya, tapi juga menjual harapan. Kasarnya, mungkin menjual Tuhan dalam bentuk kemasan. Ketika agama mulai dikemas, dijual, dan ditakar dalam mililiter: apakah kita sedang menyembuhkan, atau mengeksploitasi keyakinan? Atau kita benar benar berdakwah ? Apa bedanya dengan orang yang membeli madu biasa kemudian dibacakan doa sendiri ? Apa mungkin madu ruqyah ini menjadi lebih manjur karena kita selain membeli madu kita juga membeli keyakinan?
Orang bilang agama adalah cahaya. Tapi di tangan pasar, cahaya itu bisa dipotong kecil-kecil, dikemas, diberi label halal, sunnah, atau qur’ani, lalu dijual dengan harga yang manis. Sayangnya, kadang rasa manis itu justru menutupi rasa pahit dari kesadaran: bahwa tak semua yang berserban niatnya suci, dan tak semua yang mengutip ayat sedang berdakwah.
Sampai saat ini saya hanya sedang mencoba memahami: Apakah niat baik bisa tetap suci saat dibalut kemasan dan harga? Mungkin sebagian dari kita memang menjual madu sekaligus doa. Mungkin juga, sebagian lainnya membeli bukan hanya cairan, tapi juga pengharapan. Namun saya percaya, selama masih ada kejujuran dalam niat, dan kesadaran dalam membeli maupun menjual, maka cahaya agama tetap bisa bersinar—meski dalam botol kecil berisi madu.
Penulis Fatah Elhusein | State Global Islamic Economy Report
- Kapan 1 Ramadhan 1447 H? Ini Penetapan Muhammadiyah dan Jadwal Sidang Isbat Pemerintah - 16 Februari 2026
- Menjadi Perokok yang Baik: Sebuah Renungan untuk Menghargai Ruang Bersama - 4 Agustus 2025
- Negosiasi Tingkat Tinggi: Gua dan Koloni Semut - 4 Agustus 2025