crossorigin="anonymous">

Teater Eska Suarakan Manifesto Kebahagiaan di Pentas Produksi ke-37

Terima kasih sudah percaya bahwa dirimu pantas bahagia, meski jalan menuju bahagia tidak selalu mudah. Kamu tahu, bahagia bukan sesuatu yang harus diminta dengan rasa bersalah, bahagia adalah hakmu, dan untuk itu kamu terus berjuang

Kalijaga.co – Ini adalah salah satu kutipan dari Pentas Produksi XXXVII Teater Eska bertajuk “Kincir Ria. Siklus Lupa & Gelak Tawa” yang bercerita tentang hak setiap manusia untuk berbahagia dalam segala lini kehidupan. Pentas ini berlangsung di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (10/10).

Di balik pementasan tersebut, Khuluqul Karim selaku sutradara, mengatakan bahwa pertunjukan tersebut berangkat dari tesis utama bahwa kebahagian merupakan hak setiap bangsa. Gagasan itu ia ejawantahkan ke  dalam beberapa adegan.

“Salah satunya ketika ada momen merayakan 100 tahun kebahagiaan. Bagian situ terdapat selamat ulang tahun, lalu ada pembacaan manifesto. Bagian itu yang paling representatif dari kebahagiaan adalah hak segala bangsa,” ujar Khuluqul seusai pementasan.

Manifesto Kebahagiaan yang dibacakan dalam adegan itu memposisikan kebahagiaan sebagai hak setiap orang, bukan milik segelintir orang. Kebahagiaan di sini tidak dipersempit menjadi kegembiraan, melainkan dimaknai lebih kompleks daripada itu.

Pada Manifesto itu, kebahagiaan digambarkan melalui beberapa kondisi saat manusia menjalani hidupnya.

“Kebahagiaan adalah ketika manusia dapat menjalani hidup tanpa kehilangan martabatnya, ketika ia dapat tumbuh tanpa ditindas, mencintai tanpa ketakutan, bekerja tanpa dieksploitasi, belajar tanpa dibatasi kemiskinan, dan menatap hari esok tanpa kehilangan harapan,” tutur Zahwa Syifa Kamila, salah salah seorang aktor.

Gagasan itu diperkuat oleh penulis naskah, Rimbun Rahmadhani Emgiek. Ia  menjelaskan bahwa Manifesto Kebahagiaan pada dasarnya membahas kebahagiaan sebagai tuntutan, bukan sekadar harapan. Menurutnya, kebahagiaan harus dimiliki semua orang, baik yang hidup di istana, maupun di bawah kolong jembatan sekalipun.

Rimbun menyebut, kebahagiaan yang dimaksud bisa hadir ketika kebutuhan paling mendasar manusia telah terpenuhi tanpa syarat apa pun. Merayakan kebahagiaan, katanya, harus dilakukan tanpa melupakan orang lain di sekitar.

Karena itu lah, katanya, Manifesto tersebut juga mencoba menyuarakan sejumlah tuntutan.  Misalkan pendidikan inklusif yang harus diwujudkan untuk semua orang, bukan hanya yang mampu membayar. Tuntutan lain yang menyentuh kebutuhan mendasar manusia, yakni udara bersih. Menurut Rimbun, saat ini masih ada orang yang kesulitan menghirup udara bersih.

“Bahkan napas pun sekarang barangkali adalah harga yang cukup mahal untuk dirasakan di Indonesia karena ada satu dan lain hal kezaliman manusia yang lain,” ungkapnya.

Bait-bait Manifesto tersebut sampai menggugat hati penonton, salah satunya Siti Umaroh, Pegiat Teater di  Universitas Muria Kudus (UMK). Ia mengaku paling tersentuh saat Manifesto Kebahagiaan dibacakan. Adegan itu membuatnya merenungkan kembali makna kebahagiaan sebagai hak setiap manusia, terutama di tengah kondisi masyarakat saat ini.

“Pas bagian manifesto, bahwa kebahagiaan adalah hak segala bangsa, itu langsung nangis banget. Aku jadi kepikiran, kasihan ya Indonesia. Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja,” pungkasnya.

Pentas Produksi yang dihadiri sekitar 800 penonton  tersebut merupakan agenda tahunan Teater Eska. Pada edisi ke-37 ini, Teater Eska tidak hanya melibatkan anggota lama, tetapi juga anggota baru, agar mereka turut mendapat ruang panggung untuk bereksplorasi. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *