Kalijaga.co – Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Muntilan merupakan salah satu dari 18 panti asuhan yang berada di Muntilan, Magelang. Panti asuhan ini didirikan pada tahun 1987 dan saat ini menaungi sekitar 25 anak yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan latar sosial ini menuntut mereka untuk memiliki kesadaran diri, kemandirian serta kemampuan menyelesaikan masalah demi kelancaran hidup bersama.
Pembinaan internal dan pengawasan pengasuh panti merupakan bagian dari cara panti membentuk kemandirian dan kemampuan menyelesaikan masalah anak. Suherman, salah satu pengasuh di panti tersebut, menyampaikan riwayat anak-anak yang berada dalam asuhannya saat ini.
“Karena yang datang ke sini anak-anak yatim, latar belakang ekonomi menengah ke bawah, kemudian orang tua yang mungkin broken home, sehingga anak-anak masuk ke sini,” ujarnya.
Dengan riwayat kehidupan yang beragam, Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Muntilan menggunakan pendekatan spiritual dalam mendidik anak-anak asuhnya, baik dalam sisi personal maupun sosial. Kegiatan mereka dimulai pada pagi hari untuk sarapan, kemudian berangkat sekolah, lalu setelah pulang sekolah dilanjutkan dengan kajian keagamaan yang diampu oleh jajaran pengasuh panti.
Dipaparkan pula aturan-aturan yang mendukung tumbuhnya kemandirian anak, seperti piket, kerja bakti, kebersihan lingkungan, sholat tepat waktu, serta kebersihan diri yang juga difasilitasi oleh pihak yayasan setiap bulan. Suherman menyampaikan bahwa anak yang sebelumnya tidak memiliki kebiasaan tentang kebersihan maupun kedisiplinan di rumah, di sini mereka harus berubah dengan menaati aturan yang berlaku.
Latar belakang yang beragam juga turut serta dalam membentuk kepribadian anak-anak. Tinggal dalam satu rumah dan berkegiatan bersama setiap saat tentunya menumbuhkan chemistry yang baik antar anak.
Namun, ada kalanya sebuah hubungan yang baik akan timbul suatu perpecahan. Tak jarang, anak-anak tersebut terlibat pertikaian satu sama lain. Salah satu anak termuda di panti tersebut, Muhammad Iqbal Nurhidayat, menyampaikan bahwa ia pernah bertengkar dengan salah satu temannya, sehingga akhirnya mereka saling mendiamkan dalam beberapa waktu.
Adapun untuk pemecahan masalah, mereka menyelesaikannya secara internal, sehingga tidak perlu melibatkan pihak pengasuh. Pada kasus ini dapat dilihat bahwa anak-anak mampu menggunakan kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan yang mereka jalani.
Melalui berbagai sarana dan prasarana yang diberikan, anak-anak terfasilitasi dengan baik. Sehingga mampu mengasah potensi diri serta menumbuhkan kemampuan menyelesaikan masalah melalui pembinaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan.
Selain itu, interaksi sehari-hari antar anak turut menguatkan kecakapan bersosialisasi dan membentuk pola pikir yang lebih dewasa. Sehingga mereka tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga secara emosional serta karakter yang lebih kuat.
Penulis: Nurrurrohmah Ramadhani | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Proses Panjang di Balik Sebuah Penampilan - 15 Maret 2026
- Romansa Sederhana di Kios Tambal Ban Pak Faiz dan Bu Sarjira - 14 Maret 2026
- Ragam Jajanan Buka Puasa di Jogja: Perpaduan Antara Kuliner Tradisional dan Populer - 13 Maret 2026