crossorigin="anonymous">

Anak Muda Lebih Takut Miskin daripada Belum Menikah

Kalijaga.co – Akhir-akhir ini, seringkali muncul di sosial media berbagai opini public mengenai topik pernikahan, dalam unggahan akun sosial media instagram yang berjudul “Fenomena baru di Indonesia: Anak muda kini lebih takut miskin daripada tidak nikah,” menjadi booming dan ramai diperbincangkan. Postingan tersebut sudah disukai lebih dari 133,7 ribu orang dan diposting ulang lebih dari 11 ribu orang hingga 19/11/2025.

Kebutuhan finansial hidup yang terus meningkat, perubahan sistem ekonomi yang tidak stabil, dan tuntutan kebebasan finansial dalam kehidupan sosial sehari-hari menjadi faktor utama anak muda lebih mengedepankan pikiran yang realistis dan logis dalam bertindak atau memulai sesuatu, terutama dalam ranah urgensi yang tinggi seperti pernikahan atau karir.

Tidak hanya itu, pengaruh media sosial juga menjadi faktor penting dalam membentuk suatu perspektif dan pengambilan keputusan. Arus informasi yang cepat, dan pembentukan narasi “Marriage is scary” (Pernikahan itu menakutkan) memberikan stigma bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan dan negatif. Tidak hanya itu, maraknya kasus kekerasan, perselingkuhan, dan kemiskinan setelah menikah yang sebagian besar dialami oleh public figure, dan dibagikan dalam media sosial memberikan dampak yang signifikan dimana mereka adalah orang-orang yang memberikan pengaruh besar di masyarakat.

Adapun yang juga mempengaruhi adalah tuntutan sosial yang mengharuskan seseorang untuk mempunyai kehidupan yang layak, baik secara finansial maupun emosional. Fenomena ini menjadikan angka pernikahan di Indonesia kian menurun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka jumlah pernikahan terus menurun sejak 2013, lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menurun hingga 1,5 juta pernikahan pada 2023. Penurunan ini diperkirakan masih berlanjut hingga 2025.

Alih-alih mengambil langkah serius ke jenjang pernikahan, anak muda kini lebih memprioritaskan menata masa depan dengan karir atau pendidikan untuk menata kehidupan yang lebih baik kedepannya. 

Tantangan Generasi Muda

Marriage is scary menjadi perbincangan hangat di media sosial, hal ini menandakan bahwa terdapat ketakutan dan kecemasan yang mendalam terkait pernikahan terutama bagi generasi muda. Hal ini bisa terjadi karena respon negatif yang beredar secara luas dan cepat di platform digital berupa video, foto, narasi yang menggambarkan kehidupan dalam rumah tangga. 

Meliputi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perceraian, kekerasan terhadap anak, serta tekanan finansial yang menjadi faktor utama. Paparan konten yang terus menerus ini menciptakan pola pikir yang membuat pernikahan dianggap sebagai hal yang menakutkan, beresiko tinggi, dan penuh ketidakpastian. 

Ditambah keadaan ekonomi yang tidak stabil, inflasi, gaya hidup, kebutuhan, dan tantangan finansial yang semakin kompleks, menjadikan banyak generasi muda memilih untuk menunda keputusan penting ke jenjang pernikahan. Generasi muda menjadi lebih sadar akan realitas kehidupan, tidak hanya butuh cinta tetapi juga kestabilan finansial.

Persoalan tersebut ditanggapi langsung oleh ahlinya yaitu Dr. Ida Ruwaida, dosen sosiologi Universitas Indonesia, menurutnya banyak anak muda yang masih mengikuti gaya hidup konsumtif dan cenderung mengikuti tren terkini. Atau biasa dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Menurutnya banyak anak muda yang belum memiliki kesadaran finansial yang cukup baik.

Adapun menurut Dr. Francisia Saveria Sika Ery Seda dari Universitas Indonesia, menuturkan bahwa persepsi anak muda juga dipengaruhi oleh pergeseran nilai sosial. Ia menyebutkan bahwa kestabilan ekonomi menjadi hal utama dibandingkan pernikahan karena kehidupan yang berkecukupan menjadi tuntutan kehidupan sosial saat ini.

“Kestabilan finansial lebih diutamakan daripada pernikahan, karena hidup yang berkecukupan merupakan tuntutan zaman sekarang,” tuturnya.

Dari fenomena ini, dapat disimpulkan bahwa anak muda bukan tidak mau mengikuti aturan tata sosial yang ada, tetapi mereka lebih memprioritaskan keputusan yang tidak beresiko dan rasional dalam menata masa depan. Kestabilan finansial menjadi hal yang diutamakan sembari menata kepribadian emosional sebelum beranjak ke jenjang pernikahan. Persoalan finansial dan masa depan menjadi dua hal yang harus diimbangi secara bijak, agar tidak merusak stabilitas masa sekarang dan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *