crossorigin="anonymous">

Mengais Legowo di Pasar Kolombo

Pagi menjelang siang, terdengar suara gitar pengamen mengalun pelan mengiringi suara riuhnya pasar.  Diantara deretan kios kecil dan sempit yang dipenuhi oleh gantungan baju dan berbagai kebutuhan sembako, suara tawar menawar sudah menjadi musik harian yang tak pernah usang. Di sinilah, di pasar tradisonal bernama Pasar Kolombo tempat dimana para pedagang mengais rezeki, walaupun ranahnya perlahan mulai tergeser dengan pusat perbelanjaan modern dan toko online, tetapi para pedagang tetap bertahan dengan segala keterbatasannya. Salah satunya yaitu wanita paruh baya  berusia 50 tahun bernama Ibu Suharni, pedagang baju yang sudah menggeluti dunia pasar selama tiga tahun.

Suharni berasal dari Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Saat hari kerja ia berpindah ke Prambanan Yogyakarta, dan tinggal bersama anak pertamanya yang sudah menikah dan bekerja sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS).  Bu Suharni mempunyai 3 orang anak, yang semuanya laki-laki.

Setiap harinya, Suharni mengais rezeki lewat berjualan baju di pasar, sebelum berjualan baju, Suharni sudah pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik garmen selama 16 tahun, dibantu oleh suaminya yang bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-harinya. Suharni bercerita sambil bernostalgia awal dirinya bekerja di garmen, “Saya dulu kerja di pabrik garmen 16 tahun, anak saya kan sekolah semua jadi saya harus bekerja,” Kenang Suharni.

Di usia yang tidak lagi muda, panas terik matahari dan pengapnya suasana pasar bukan halangan lagi bagi Suharni. Ia tak kenal lelah dalam mengais rezeki. setiap harinya sebelum terbit fajar, ia akan menempuh jarak sekitar 30 menit ke tempat kerja, “Abis subuh kan saya berangkat ke sini, perjalanan kan setengah jam, saya dari Prambanan,” Ungkap Bu Suharni.

Dengan langkah pelan namun pasti ia menuju pasar tempat ia menggantungkan hidupnya.  Di lapaknya yang kecil dan sederhana itulah, ia berjualan berbagai pakaian mulai dari daster, baju anak-anak, kaos, hingga celana dewasa. Tidak semudah membalikan tangan, menjual baju di pasar tradisional sangatlah susah, mulai dari harga jual yang rendah, minat pelanggan yang semakin berkurang, ramai sepinya pasar dan masih banyak lagi.

Bukan hanya itu, biaya tambahan sewa tempat sebesar Rp5 juta selama setahun juga menjadi persoalan, ia menjelaskan bahwa nominal tersebut dibayarkan apabila bekerja selama tujuh hari penuh, ia juga menambahkan ada biaya Rp3 ribu perhari sebagai biaya kebersihan. “Saya nyewa ini bayarnya Rp5 juta itu kalo masuk semua mulai dari hari senin-minggu,” Ujar Suharni.

Suka duka menjadi pedagang baju juga dialami oleh suharni, persaingan sesama pedagang tidak bisa dihindari, selalu saja ada iri dengki dalam menjemput rezeki. Ia bercerita bahwasannya terkadang ada saja orang yang meniru cara dan jenis berjualannya,” Saya kan udah jualan, rezekinya sendiri-sendiri. Kita juga kalau membuka rezeki orang, misalnya kita enggak punya, oh di sana ada. Dia juga membuka rezeki, kita juga membuka rezeki. semuanya di tengah,” Ungkap Suharni.

Dalam menyikapi persoalan tersebut, Suharni tidak risau ia percaya bahwa rezeki pasti akan datang dengan usahanya masing-masing apapun rintangannya, ia juga menceritakan turunnya minat orang-orang dalam membeli barang dari offline beralih ke online, walaupun begitu tetapi tetap saja tidak semua orang cocok dengan system jual beli baju secara online, “saya beli di online enggak enak, enggak sesuai dengan di gambar,” Ujar Suharni.

Bu Suharni setia berjualan sendiri, walaupun keluargannya sudah memiliki penghasilan pribadi, tetapi ia tak risau bila harus berjualan untuk menambah kebutuhan finasial sehari-hari Justru berjualan adalah salah satu cara agar ia bisa mengisi waktu luang dengan kegiatan yang produktif, “Di rumah juga, tidur juga enggak bisa, paling tidur sebentar tapi ya mending ke pasar,” Ungkap Bu Suharni.

Bu Suharni biasanya menjual baju mulai dari 15 ribu hingga 65 ribu sesuai dengan kualitas bahan yang ada. Dan pembelinya? Jangan kaget kalau mayoritas pembeli adalah orang yang sudah berumur cukup tua, bahkan seringkali system tawar menawar yang membuat rugi acap kali terjadi. Seperti kejadian yang saya lihat didepan mata saya, sebuah celana pendek dengan nilai jual 15 ribu, dibeli oleh laki-laki yang sudah berumur sekitar 50 tahunan. Ia membeli dua celana pendek dengan harga 30 ribu dengan tawaran 25 ribu, selisih angka yang kita kira kecil tetapi itu justru angka yang besar untuk pedagang.

Ada nilai-nilai yang tak terlihat dari buah kesabaran Bu Suharni: Kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, itulah hal yang mungkin kerap kita lalaikan. Pekerjaan bukan sekedar tempat untuk mencari uang, tetapi tempat kita menebar rezeki untuk sesama. Tempat dimana tersimpan pelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan cinta pada pekerjaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *