
Kalijaga.co – Kesibukan kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, dan tekanan akademik bisa bikin kepala meledak. Setiap mahasiswa punya cara masing-masing buat melepas stres. Ada yang ngopi di kafe, nonton film, atau sekadar rebahan seharian. Tapi beda dengan Maqoli, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Buatnya, cara terbaik buat recharge energy adalah… mendaki gunung! Bagaimana ia bisa menyeimbangkan kuliah dan hobi ekstrem ini? Simak kisahnya!
Sejak duduk di bangku SMA, Maqoli sudah mengenal dunia pendakian. Namun, saat mulai kuliah, ia menyadari bahwa mendaki bukan sekadar hobi biasa, melainkan bagian penting dalam hidupnya.
“Mendaki itu seperti terapi buat saya. Saat jadwal kuliah mulai padat dan tugas semakin menumpuk, naik gunung bisa bikin saya kembali segar,” ujar Maqoli dengan penuh semangat.
Mendaki gunung bagi Maqoli bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan mental dan emosional.
“Ketika di gunung, saya merasa jauh dari semua tekanan. Suara angin, gemericik air, dan pemandangan hijau yang menyejukkan benar-benar bikin pikiran lebih tenang,” tambahnya.
Mendaki: Bukan Sekadar Hobi, Tapi Juga Meditasi
Banyak orang menganggap mendaki gunung sebagai olahraga ekstrem yang melelahkan dan penuh risiko. Namun, bagi Maqoli, mendaki adalah kombinasi antara olahraga, meditasi, dan petualangan yang memberikan pengalaman berbeda dari aktivitas lainnya.
“Setiap langkah menuju puncak itu seperti perjalanan menemukan diri sendiri. Kita belajar sabar, kuat, dan lebih bersyukur,” ujarnya.
Menurut Maqoli, mendaki gunung memberikan ruang refleksi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
“Di era digital ini, kita sering terjebak dalam distraksi media sosial dan hiruk-pikuk kehidupan kota. Tapi di gunung, kita benar-benar bisa lepas dari semua itu dan lebih fokus pada diri sendiri,” katanya.
Manajemen Waktu: Kunci Menyeimbangkan Kuliah dan Hobi
Sebagai mahasiswa, Maqoli paham bahwa menyeimbangkan kuliah dan hobi ekstrem seperti mendaki bukanlah perkara mudah. Namun, ia punya strategi khusus untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.
“Saya selalu memastikan tugas kuliah selesai dulu sebelum pergi mendaki. Biasanya saya memilih akhir pekan atau hari libur nasional agar tidak mengganggu perkuliahan,” jelasnya.
Maqoli juga menerapkan disiplin tinggi dalam mengatur jadwal hariannya.
“Saya membuat daftar prioritas. Hari-hari tertentu fokus mengerjakan tugas dan mengikuti perkuliahan, sementara mendaki menjadi reward setelah semua kewajiban selesai,” katanya. Dengan cara ini, ia tetap bisa menikmati pendakian tanpa mengorbankan akademiknya.
Belajar Solidaritas dari Pendakian
Salah satu pelajaran berharga yang ia dapat dari mendaki gunung adalah arti solidaritas dan kerja sama tim.
“Di gunung, kita nggak bisa egois. Kita harus saling membantu, berbagi perbekalan, dan memastikan semua anggota tim dalam kondisi aman,” ujarnya.
Maqoli menceritakan pengalaman yang paling membekas saat mendaki bersama teman-temannya.
“Pernah satu kali, seorang teman mengalami kelelahan parah saat perjalanan turun. Kami harus berbagi beban dan menyesuaikan ritme agar semua bisa sampai dengan selamat. Dari situ, saya sadar bahwa mendaki bukan hanya soal fisik, tapi juga soal kebersamaan dan kepedulian,” ceritanya.
Persiapan Itu Wajib!
Meski mendaki gunung menyenangkan, Maqoli selalu menekankan pentingnya persiapan sebelum melakukan pendakian.
“Gunung bukan tempat untuk gaya-gayaan. Kita harus benar-benar paham jalur, kondisi cuaca, dan medan yang akan dihadapi. Perbekalan, pakaian yang sesuai, serta obat-obatan juga harus lengkap,” tegasnya.
Ia juga menyarankan para pemula untuk memulai dari gunung dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah.
“Jangan terburu-buru ingin mencapai puncak. Nikmati setiap langkahnya, karena yang terpenting adalah keselamatan. Jangan sampai mendaki justru membawa risiko karena kurangnya persiapan,” tambahnya.
Mendaki, Gaya Hidup yang Menyehatkan
Bagi Maqoli, mendaki bukan hanya sekadar hobi, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya. Ia bahkan memiliki impian besar untuk menjelajahi lebih banyak gunung di Indonesia.
“Negara kita ini punya banyak gunung yang luar biasa. Saya ingin suatu hari nanti bisa mendaki semuanya dan belajar lebih banyak tentang alam serta budaya di setiap daerah yang saya kunjungi,” katanya penuh antusias.
Menurutnya, mendaki juga memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa. Selain melatih ketahanan fisik, pendakian juga baik untuk kesehatan mental.
“Mendaki itu ibarat terapi gratis. Udara segar, pemandangan indah, dan tantangan fisik membuat tubuh dan pikiran jadi lebih sehat,” jelasnya.
Menjadi Inspirasi bagi Mahasiswa Lain
Maqoli berharap kisahnya bisa menginspirasi mahasiswa lain untuk tetap menyeimbangkan kuliah dan hobi.
“Kuliah itu penting, tapi jangan sampai kita lupa untuk bahagia. Lakukan hobi dengan sepenuh hati, tapi tetap jaga tanggung jawab akademik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa disiplin dan manajemen waktu adalah kunci.
“Kalau bisa mengatur waktu dengan baik, semuanya bisa berjalan beriringan. Jangan takut mengejar passion, asal tetap bertanggung jawab,” pesannya.
Bagi Maqoli, mendaki bukan sekadar tentang mencapai puncak, tapi juga perjalanan mengenal diri sendiri.
“Mendaki mengajarkan kesabaran, ketahanan, dan arti kebersamaan. Ini bukan cuma perjalanan fisik, tapi juga mental dan spiritual,” tutupnya.
Dengan manajemen waktu yang baik, Maqoli membuktikan bahwa mahasiswa tetap bisa menjalani hobi ekstrem tanpa mengabaikan pendidikan. Dari mendaki gunung, ia menemukan keseimbangan hidup yang sesungguhnya.
Penulis Ahmad Nuryogi Ardiansyah | Editor Adelia Mehra Fakhrina
- Ketika Kemandirian Menjadi Jalan Hidup Seorang Perempuan - 28 Oktober 2025
- Legowo di Tengah Lipatan Kain: Kisah Suharni di Pasar Kolombo - 21 Oktober 2025
- SUKATV Gelar Workshop Calon Generasi ke-18, Wujudkan Regenerasi Kreatif Mahasiswa - 16 Oktober 2025