“Memperjuangkan hak-hak perempuan bukan hanya tugas perempuan, melainkan semua manusia”
Sudah sekian tahun emansipasi ditegakkan, namun perempuan masih dibayang-bayangi dengan label “kodrat”. Kodrat yang tak berpihak dan kodrat yang mengikat. Perempuan hanya diberi ruang pada dapur, sumur, dan kasur. Apakah kesetaraan hak-hak perempuan hanyalah mimpi Kartini semata?
Kontroversi mengenai kesetaraan gender masih menjadi isu yang sering diperdebatkan, terutama di kalangan akademisi. Jika dilihat dari esensinya, gender merujuk pada perbedaan non-biologis seperti peran dalam rumah tangga, pekerjaan yang dianggap pantas, kondisi emosional, dan hal-hal lain yang dapat dipertukarkan.
Bayang-bayang kodrat mengakar kuat dalam budaya masyarakat. Gender dianggap sebagai hal yang mutlak dari Tuhan yang tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dengan perempuan.
Ketidakadilan hak yang sama pada laki-laki dan perempuan menjadi pemicu gerakan feminisme. Gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak perempuan. Gerakan ini tidak hanya dilakukan oleh perempuan saja, melainkan juga laki-laki, sehingga muncul sosok yang menjadi pertanyaan: laki-laki feminis.
Apakah menjadi laki-laki feminis merupakan hal yang wajar atau malah bentuk penyimpangan terhadap kodrat?
Dalam sebuah percakapan di ruang kecil universitas, Elicia Eprianda konsultan Rumah Gender UIN Sunan Kalijaga menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan antara laki-laki feminis dengan feminis laki-laki.
”Kalau membahas mengenai laki-laki feminis, dua term ini sebenarnya berbeda. Laki-laki feminis, dapat dipahami bahwa laki-laki tersebut ikut memperjuangkan kodrat dan hal-hal yang belum adil di perempuan. Sedangkan feminis laki-laki itu merujuk pada kesifatannya yang ada dalam diri seorang laki-laki dan bersifat genetik.”
Hal-hal yang belum didapatkan oleh perempuan secara adil, diperjuangkan dan dibahasakan dengan namanya feminis.
“Nah, jika laki-laki terlibat dalam perjuangan ini, berarti memang ikut andil dalam berkontribusi hal itu. Karena sebenarnya memperjuangkan hak-hak perempuan itu bukan hanya kewajiban perempuan saja,” kata Eprianda.
Tak hanya perempuan saja, semua gender baik laki-laki, semua punya kewajiban dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Karena sebagai manusia tidak memandang laki-laki atau perempuan, semua memiliki hak-hak yang sama. Jika ada hak-hak yang memang tidak. terpenuhi, baik di perempuan maupun laki-laki, wajib diperjuangkan. Supaya tidak ada ketimpangan antar-gender, baik ketimpangan secara gender maupun ketimpangan secara hal-hal lain.
Bagi sebagian orang, label laki-laki feminis mungkin terasa kontra, karena bayang-bayang kodrat telah mengakar kuat di masyarakat. Feminisme ditubuh laki-laki dianggap “menyalahi kodrat” sebagai pria. Namun, bagi para pejuang feminis, ini adalah langkah menuju masyarakat yang benar-benar setara.
Kalau dilihat dari kacamata manusia, kontribusi laki-laki terhadap kesetaraan dan hak-hak perempuan, itu normal. Karena memang semua pekerjaan, hal-hal yang dilakukan yang standarisasinya itu diandalkan kepada perempuan, tapi dilakukan oleh laki-laki, itu merupakan hal yang normal.
Namun, jika melihat feminis yang bentuknya genetik kepada laki-laki seperti transgender, bencong dan sebagainya. Hal tersebut lebih kepada genetik dan tidak bisa dikatakan salah karena memang sifatnya seperti itu.
Di dalam tubuh perempuan dan laki-laki, sama-sama memiliki sifat maskulinitas dan feminimitas, tergantung mana yang lebih dominan di dalam dirinya.
“Laki-laki yang sifat feminimnya lebih tinggi, mungkin memang secara genetik dia bakal sifatanya feminim. Dan ketika perempuan sifat maskulinnya dia lebih tinggi daripada feminim, dia akan terlihat tomboy atau sebagaimana laki-laki yang terlihat kuat”, jelas Eprianda kembali.
Namun, di mata masyarakat maskulinitas selalu identik kepada laki-laki dan feminim selalu identik sama perempuan. Laki-laki yang feminim itu selalu dianggap sebagai laki-laki yang lembek. atau kehilangan maskulinitasnya. Hal inilah yang menjadi standarisasi sosial di masyarakat.
Label maskulin dan feminim distandarisasi kepada laki-laki dan perempuan. Padahal setiap manusia itu punya dua sifat tersebut. Jadi, ketika kita sudah mengetahui antara tentang tadi itu, sudah mengetahui pengetahuan itu, berarti kita menyingkapi ke diri kita. Bagaimana kita menghadapi orang-orang yang misalnya cowok feminim atau cewek yang terlalu maskulin.
Seperti halnya pendidikan tinggi diperuntukkan hanya untuk laki-laki, sedang perempuan malah dibatasi, feminisme memperjuangkan ketimpangan hak-hak seperti itu. Karena sebagai manusia, perempuan memiliki hak yang sama.
Mungkin, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah laki-laki feminis itu normal atau menyalahi kodrat, melainkan: Kapan semua laki-laki akan menyadari bahwa memperjuangkan kesetaraan adalah hal yang normal dan benar?
Penulis : Siti Fatimah | Editor : Khoirunnida
- Sebuah Puisi di Hari Ibu : Rembulan pun Malu jika Disandingkan Denganmu - 23 Desember 2025
- Laki-laki Feminis: Normal atau Bentuk Penyimpangan Kodrat? - 27 November 2025
- Keteladanan di Balik Wibawa: Sosok Ketua HMPS KPI yang disegani - 24 November 2025