Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian UIN Sunan Kalijaga yakni Kalimasada mempersembahkan pertunjukan pentas seni karawitan dengan judul “Pentas Ambal Warsa Kalimasada Ke-12” pada (07/11/2025). Acara tersebut dilaksanakan di Gedung Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan dihadiri oleh ratusan penonton yang terdiri dari mahasiswa dan komunitas budaya yang ada di Yogyakarta. Dalam pentas Ambal Warsa Kalimasada Ke-12 menyajikan pergelaran seni dan refleksi kebudayaan dalam tajuk Sang Sonyaruri.
Pentas pagelaran seni karawitan dan tari sudah dianggap budaya kuno oleh masyarakat modern saat ini, sehingga tidak banyak orang atau instansi yang masih melestarikan budaya jawa tradisional. Apalagi budaya jawa tradisional dipentaskan di kampus Islam bukan suatu hal yang biasa. Banyak masyarakat modern yang tidak memahami nilai dan makna luhur yang terkandung dalam budaya jawa tradisional saat ini.
Muhammad Bagus Supriyanto, selaku pembina UKM Kalimasada mengungkapkan bahwa yang membuat UKM kalimasada tetap eksis sampai sekarang ini yaitu karena di tengah suasana kota yang modern, kalimasada tetap belajar gamelan. Belajar gamelan bukan sekedar ingin bisa menabuh, tetapi karawitan itu menyimpan banyak pesan dan makna.
“Dalam seni karawitan mengajarkan keharmonisan, karena antara alat musik yang satu dengan yang lainnya itu harus harmonis, tidak boleh ada yang saling unggul suaranya. Selain dilatih untuk terampil bermain gamelan, juga bisa memahami dan menghormati kanan kiri dalam hidup teman-teman” ujar bagus
Ia menambahkan bahwa UKM Kalimasada bukan sekedar pentas hiburan, karena pentas adalah bonus dari sebuah proses, tetapi setelah mereka bermain, mereka mampu memahami kanan kirinya dan bisa mengimplementasikan permainan gamelan itu dalam kehidupan. Pesan karawitan ini di kemas menyesuaikan dengan peradaban yang ada, sehingga ada mahasiswa yang tertarik untuk mengembangkan seni kebudayaan jawa.
Tujuan UKM Kalimasada dalam menyampaikan pesan, yaitu keselarasan antara integrasi dan interkoneksi, membawa pesan bahwa UIN Sunan Kalijaga roh utamanya adalah integrasi dan interkoneksi antara kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ilmu keislaman. Selain itu juga menjadi tiang untuk menjaga marwah Kanjeng Sunan Kalijaga yang dinisbatkan menjadi nama kampus ini.
Bagus juga menilai bahwa budaya seni karawitan yang dibawakan oleh UKM kalimasada mengandung dakwah yang berisi nilai luhur yang diajarkan secara turun temurun. Ia yakin bahwa pesan yang disampaikan kepada penonton bisa tersampaikan dengan baik. Walaupun tidak semua penonton berasal dari Jawa.
“Karena pusat pemerintahan ada di jawa dan bahasa jawa itu merupakan bahasa yang mudah dipahami, contohnya orang non jawa banyak yang menikmati lagu lagu pop jawa, tentu kami juga berkeyakinan bahwa yang klasik juga dapat dimengerti dengan memahami setiap pesan yang disampaikan oleh setiap musik dan gamelan” ucap Bagus.
Selain itu, Nancy salah seorang alumni Kalimasada yang hadir dalam acara Milad Kalimasada ke-12 menyampaikan bahwa budaya jawa khususnya seni karawitan mengandung pesan dakwah yang disalurkan melalui tembang dan gending jawa itu sendiri. Budaya jawa tradisional masih relevan untuk dilestarikan di zaman modern saat ini karena nilai luhur dan kewibawaannya yang tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Karena setiap gending atau lagu yang dipilih untuk dibawakan maknanya bagus sekali. Tidak hanya tentang sekedar lagu tetapi ada makna kebersamaan, tentang bagaimana kita mengenal Tuhan dan juga bagaimana kita berhubungan dengan alam semesta” ujar Nancy
Nancy juga menganggap bahwa budaya tradisional jawa ini masih relevan di zaman sekarang karena bagaimanapun sebelum adanya modernisasi, budaya tradisional sudah ada. Selain itu, budaya tradisional jawa juga bisa dipadukan dengan budaya atau kesenian modern sehingga sampai kapanpun tetap relevan. Ia juga menganggap budaya jawa bukan hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai simbol identitas dari suatu bangsa.
Penulis: Alfath Fadhiilah | Editor: Nayla Nur Hidayah