crossorigin="anonymous">

MPR RI Gandeng Pemuda Cendikia Gelar Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas di Yogyakarta

Kalijaga.co – Senin, 08 Jumi 2026, Badan Sosialisasi Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) bekerja sama dengan organisasi Pemuda Cendikia menyelenggarakan acara “Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Berbasis Komunitas” bertempat di Grand Mercure Hotel, Jalan Laksda Adisucipto No. 80, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Acara ini digelar sebagai upaya nyata merespons mulai melemahnya pemahaman nilai-nilai kebangsaan di ruang publik, terutama di kalangan generasi muda akibat tantangan modernisasi dan pesatnya digitalisasi.

Pimpinan Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Khoerudin Amin, menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai yang bersifat ideologis seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak dapat dilakukan dengan metode yang kaku. Menurutnya, diperlukan strategi khusus agar nilai-nilai falsafah negara tersebut dapat masuk dan diterima dengan baik oleh generasi muda.

“Membangun ideologi itu tidak murah, tidak mudah, merupakan proses yang berkelanjutan, dan harganya mahal. Apalagi jika sempat terputus,” ujar Khoerudin.

Ia juga menambahkan bahwa penurunan identitas kebangsaan akan terjadi secara masif jika program sosialisasi seperti ini tidak digalakkan secara menyeluruh. Khoerudin berharap ke depan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) di ruang kebangsaan turut mengambil peran aktif, sebab beban penguatan identitas bangsa tidak bisa hanya dipikul oleh institusi MPR RI semata.

Di lokasi yang sama, Ketua Panitia Acara Sosialisasi, Faizal Fazar Mahdi, menjelaskan bahwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya acara empat pilar, selain daripada kewajiban MPR untuk mensosialisasikan, kita sebagai komunitas yang ruang lingkupnya di kepemudaan menyambut itu, agar supaya komunitas kita yang basisnya komunitas pelajar, itu mempunyai nilai dan wawasan kebangsaan yang tidak hanya dihafal, tetapi di aplikasikan.

“Pentingnya memahami empat pilar kebangsaan. Karena sila ketiga dalam pancasila yang bisa diartikan bahwa persatuan itu bukan berarti tidak ada perbedaan, justru karena banyak perbedaan itulah kata persatuan itu ada, dan kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk dan heterogen kemudian disatukan di kota pelajar yang luar biasa ini. Saya pikir ide persatuan ini lah yang menjadi hal penting,” ungkap Faizal.

Selain mendengarkan pemaparan dari pihak penyelenggara, acara ini juga menghadirkan perspektif dari sudut pandang peserta guna mengukur efektivitas dan urgensi kegiatan. Salah satu peserta yang hadir, Abdurrahman Auf, turut memberikan tanggapan serta pandangannya mengenai pelaksanaan sosialisasi ini bagi generasi muda.

Menurutnya “kegiatan ini sangat penting karena untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, dikarenakan di Sebagian pemuda zaman sekarang sudah mulai melemah dari segi pengetahuan dan pengaplikasian empat pilar kebangsaan dalam kehidupan sehari hari.”ujar Auf.

Acara yang berlangsung kondusif ini diharapkan mampu menjadi pemantik awal bagi kelompok kelompok pemuda di Yogyakarta untuk kembali menghidupkan kesadaran kolektif dalam berbangsa dan bernegara demi kemajuan peradaban Indonesia di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *