Kalijaga.co – Jogja selalu punya cara unik untuk membuat siapa pun merasa dekat. Bahkan pada tempat yang pertama kali dikunjungi, tak heran ternyata ia memang istimewa.
Pada perjalan-perjalan kecil yang terus belajar untuk aku hargai rupanya ada masa-masa yang ingin aku rasakan meskipun mungkin orang bilang itu telat.
Hari itu di atas aspal abu Jogja dan di bawah sengat rindu matahari aku dan teman-temanku sedang menuju Ibarbo Park untuk liputan. Secara teknis tugasku sederhana: mengamati, mencatat, dan menyusun karya sebagai hasil pengamatan lapangan.
Sebelum menjelajah lebih jauh di dalam, kami berkumpul sejenak untuk merapikan napas dan menyusun kembali semnagat setelah menaklukkan jarak yang cukup panjang. Matahari yang seolah sengaja menambah lapisan cerita pada perjalanan kami.
Aku datang benar-benar tanpa gambaran apa pun tentang tempat ini. Bahkan sekadar melihatnya lewat TikTok atau platform lain pun belum sempat kulakukan. Pada0 pikiranku waktu itu sederhana saja, aku tidak datang sendiri, jadi tak mungkin bertemu dengan kata tersesat atau nyasar di sana.
Cerita pun mulai bergerak dari titik awal. Langkah-langkah kami diarahkan menuju sebuah ruang yang dari luar tampak gelap, nyaris tak mengundang, kataku. Namun begitu melewati pintu masuk yang terbuka lebar yang menyambut justru semacam sihir alami. Samar-samar gema tawa terdengar begitu jujur. Sesuatu yang untuk pertama kalinya benar-benar kusaksikan sendiri, bukan sekadar dari cerita orang lain.
Tak ada yang terasa terlalu kecil untuk dicatat. Mulai dari cara posisi duduk yang kuambil, apa pun yang kutangkap dengan mata, hingga gerak, warna, dan suasana yang terasa asing. Namun, menarik, semuanya diam-diam kuabadikan lewat kamera ponsel di tanganku.
Di tengah persiapan pertunjukan Ibarbo Idol Show, suasana perlahan berubah semakin ramai. Para talent mulai bersiap di belakang tirai hitam panggung. Sementara di area penonton, rombongan anak-anak sekolah berdatangan silih berganti.
Beberapa rombongan sekolah datang hampir bersamaan, datang dengan warna baju senada, warna-warna itu tampak menempel begitu pas pada kulit-kulit halus dan tubuh mungil mereka, oranye yang hangat dan biru yang teduh. Dari kursiku yang lurus disamping pintu masuk, aku merekam barisan kecil itu, merekam kedatangan mereka tanpa banyak pikir, seolah tak ingin melewatkan satu pun detik kecil yang terasa hidip itu, sembari ada khayalan kecil melihat “Tiya kecil” ikut berjalan di antara keramaian tawa itu, bergandengan tangan dengan sahabat baik menuju kursi penonton. Beberapa anak sadar kamera, lalu melambaikan tangan ke arah ponselku dengan tawa lepas yang sulit ditahan. Mereka terlihat begitu ringan, begitu tulus menikmati perjalanan hari itu.
Melihat mereka, imajinasiku pelan-pelan mundur ke masa lalu. Aku membayangkan, bagaimana rasanya jika dulu aku juga berangkat rekreasi sekolah dengan suasana seperti ini? Datang berombongan, mengenakan seragam yang sama, berjalan beriringan menuju tempat yang terasa baru dan menyenangkan. Pasti akan sangat seru bukan.
Ada keinginan kecil yang tiba-tiba muncul, ingin kembali menjadi anak-anak sejenak, merasakan lagi antusiasme sederhana yang tak perlu banyak alasan. Bukan karena masa kecilku kurang bahagia, melainkan karena kini aku tahu ada banyak kemungkinan yang dulu hanya bisa kubayangkan.
Saat pertunjukan dimulai dan lampu panggung menyala, sorot warna-warni serta musik yang riuh menarik perhatian semua orang ke depan. Anak-anak bersorak, beberapa berdiri di kursinya, sebagian lain bertepuk tangan mengikuti irama. Di tengah keramaian itu, aku justru merasa sedang berada dalam ruang yang sunyi di dalam diriku sendiri.
Aku sadar, apa yang kulihat hari itu bukan hanya hiburan bagi mereka, tetapi juga semacam jawaban bagi diriku. Dulu, dunia seperti ini hanya hadir dalam bentuk cerita teman-teman atau bayangan yang kubangun sendiri. Imajinasi menjadi tempatku berkunjung, ketika kenyataan belum sempat memberiku kesempatan.
Kini, duduk di sana, menyaksikan semuanya secara langsung, aku merasa seperti sedang menyentuh ulang bagian kecil dari masa kecilku. Bukan untuk menyesalinya, melainkan untuk memahaminya dengan lebih tenang. Ternyata, pengalaman yang datang terlambat pun tetap punya cara untuk terasa tepat.
Namun, satu kebenaran yang selalu aku percaya, masa kecil tidak selalu diukur dari banyaknya tempat yang pernah dikunjungi. Ia bisa tumbuh dari cara kita mengingat, membayangkan, dan akhirnya menghargai setiap kesempatan yang datang.
Hari itu di Ibarbo, di antara tawa anak-anak, suara musik panggung, dan gambaran catatan liputan yang akan kutulis. Aku menyadari satu hal sederhana, imajinasi yang dulu hanya kubentuk dalam ukuran kecil di kepala, akhirnya keluar dari miniaturnya. Ia berdiri di hadapanku dalam bentuk nyata tidak persis sama seperti yang kubayangkan dulu, tetapi cukup untuk membuatku mengerti bahwa tidak semua hal harus datang lebih cepat untuk bisa bermakna.
Setelah pertunjukan Ibarbo Idol Show selesai, keramaian perlahan pecah ke berbagai arah. Aku dan teman-temanku ikut mengalir keluar, lalu memutuskan berjalan tanpa tujuan yang terlalu jelas, sekadar ingin melihat-lihat lebih dekat apa saja yang ada di sana.
Bangunan-bangunan di sekeliling terasa seperti diambil dari dunia yang berbeda. Bentuknya tidak kaku, warnanya cerah, dan karakternya terasa akrab, seperti potongan dunia kartun yang biasanya hanya kulihat di layar. Aku bahkan tidak tahu harus menyebutnya apa, tapi rasanya cukup untuk membuatku berhenti di beberapa sudut hanya untuk memperhatikan detailnya dan melakukan dokumentasi kecil-kecilan sebagai investasi kenangan, pikirku.
Pada salah satu area, mobil-mobilan kecil berputar di lintasannya, dinaiki bukan hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang tampak sama antusiasnya. Di pinggir lintasan, ada yang sibuk mengabadikan momen.
Di tengah perjalanan kecil yang masih berlanjut itu aku sempat berhenti sejenak, membeli es di salah satu kios. Aku duduk sebentar, menikmati dinginnya yang terasa pas setelah seharian berjalan di bawah matahari Jogja. Di momen yang tenang itu, aku merasakan sesuatu yang sedrhana, tetapi hangat. Seolah-olah tengah memberi ruang pada diriku sendiri untuk benar-benar hadir di hari itu, bukan sekedar melewatinya.
Pun mungkin, di situlah perjalanan hari itu menemukan artinya. Bukan sekadar kunjungan liputan, melainkan pertemuan antara diriku hari ini dan diriku yang dulu, yang pernah bertanya-tanya seperti apa rasanya berada di tempat seperti ini, dan akhirnya mendapat jawabannya, meski sedikit lebih lambat.
Penulis Qisthiyatun Nafi’ah | Editor Zahrah Suci Al Aliyah
- Rumah - 27 Juni 2026
- Merajut Harapan di Balik Deretan Gantungan Baju - 27 Juni 2026
- Sebagai Wujud Kepedulian Lingkungan, UKM JQH Al-Mizan Hadirkan Pameran Kaligrafi “BUMI” - 22 April 2026