Pagi itu, azan subuh mengalun begitu merdu
Ragaku tak berdaya dipeluk sendu
Gerimis semalam sepertinya sudah pindah ke mataku
Tubuhku hangat, tapi jiwaku membeku
Sang mentari memanjat tiang penuh kabel kusut
Berebut celah bersama jemuran warga di gang sempit nan kalut
Melangkah dengan sisa kantuk yang hanya di ganjal air keran
Guru, tukang kayu, dan kawan-kawan seperjuangan.
Paras asing yang kutemui berjalan searah dalam diam
Lebam oleh mimpi, memanggul tas punggung yang sesak oleh ambisi
Sungai di ujung jalan itu mengalir pelan
Sungai keruh dengan sisa sabun dan rahasia kota yang terlupakan
Meniti jembatan kecil tanpa pagar tumpuan tangan
Lalu, hanya dalam hitungan langkah dunia berganti wajah
Dipinggir garis tegas aspal panas
Di bawah bayang-bayang megah bangunan mewah
Di sana, Plaza Ambarrukmo berdiri dengan kaca-kaca berkilaunya
Hotel-hotel tinggi menjulang seperti raksasa yang angkuh
Menghina atap kosanku yang bocor saat hujan sedang tangguh
Di sana, wangi parfum mahal menyerang udara
Sementara di pundakku, masih menempel bau apek kemeja yang sama
Kontras ini mencekik leherku dengan kejam
Antara wangi lobi hotel yang mahal, dan bau amis sungai di balik kosanku
Antara jam tangan berlapis perunggu dan dompet mahasiswa yang dipaksa bertahan hingga akhir minggu
Tas punggungku ini bukan cuma berisi buku
Di dalamnya ku selipkan api panas tuk membakar iri hati yang kian membeku
Sebab aku tahu, negeriku hari ini
Di setir oleh mereka yang tidur di atas kemegahan
keagungan yang hanya milik awan dan wajah kusam di bawah langit Mataram
Penulis Qoulan Syadida