Kalijaga.co – Sinar mentari pagi datang seperti biasa. Namun, cahanya terasa kalah terang dibandingkan binar mata anak-anak SD Budi Luhur yang berakhir di depan gerbang Ibarbo Park. Di ambang pintu, riuh tawa meletup. Bukan tawa yang mengganggu, melainkan nada-nada kecil yang membentuk orkestra kegembiraan.
Langkah-Langkah kecil itu mengalir menuju ruang pertunjukan Ibarbo Idol Show. Disana, panggung berubah menjadi dunia lain. Badut-badut jenaka menari dalam irama, warna-warna berpendar diantara lampu dan tepuk tangan. Tawa pecah seperti gelembung sabun yang terbang ke udara, ringan, jujur, tanpa beban.
“Seneng, seru, badutnya lucu!” ungkap Siva (7), siswi SD Budi Luhur yang telah usai melihat pertunjukan Ibarbo Idol Show pada Jum’at, 6 Februari 2026.
Melangkah jauh lebih dalam, Ibarbo terasa seperti halaman buku cerita yang tak sengaja dibuka angin. Bangunan-bangunan berdiri dengan lekuk tak biasa, seolah digambar tangan imajinasi. Dinding-dindingnya bukan sekedar dinding, melainkan kanvas warna yang menyelimuti setiap pengunjung yang datang.
“Ide awalnya terinspirasi dari perjalanan saya ke luar negeri, ke Disney, Universal Studios, Jepang, Australia. Bangunan yang menurut kami menarik, kami adaptasi dan bangun disini,” ungkap Lalu Nabil selaku owner Ibarbo Park yang akrab disapa dengan panggilan pak owner.
Pak Owner menceritakan salju buatan yang turun perlahan pada waktu-waktu tertentu. Keunikan yang menjadi magnet dan menarik pengunjung.
Di sudut lain, Ibarbo aviary menjadi oase edukasi. Dibawah kepak sayap dan kicauan burung, anak-anak belajar mengenal kehidupan dengan cara yang lembut. Ibarbo Aviary mengenalkan berbagai fauna, seperti mirkat yang merupakan garangan kecil di Afrika Selatan, domba yang jinak, angsa yang melintas anggun, hingga beragam jenis burung yang cantik.
“Disini kami tidak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga edukasi. Anak-anak TK dan SD bisa berkeliling mengenal hewan yang dipandu petugas dan mendapatkan buku paduan,” jelas Pak Owner.
Tawa kembali mengalir di wahana permainan. Bumper car saling bertubrukan, London Bus berjalan membawa imajinasi berkeliling, kereta mini bergerak kecil mengitari sudut-sudut taman. Anak-anak dari SD Lenggotan berlari dari satu wahana ke wahana lain, seolah-olah waktu tak memiliki batas.
“Seneng, Ibarbo Park bagus, banyak permainannya. Kayak lagi didunia kartun. Aku paling suka lihat dibagian hewan-hewan, lucu,” ungkap Afina (11), salah satu siswi SD Lenggotan yang juga berkunjung ke Ibarbo.
Disinilah Ibarbo menemukan sensasinya, diantara gelak anak-anak, disela langkah keluarga yang menggenggam tangan satu sama lain, di sudut-sudut yang menjadi latar foto dan kenangan. Tempat ini bukan hanya taman bermain, melainkan ruang pertemuan antara imajinasi dan kebersamaan.
Tempat yang ddesain nyaman dan bersih ini banyak dikunjungi oleh sekolah-sekolah, keluarga, hingga anak muda yang melepas lelah dari banyaknya rutinitas.
Samsiyasih (43), guru TK Melati 2 Kulon Progo, datang untuk survei Ibarbo yang akan dijadikan tempat kegiatan outbound TK-nya. Ia menyatakan Ibarbo Park sangat instagramable dan tidak monoton.
“Ibarbo ini indah, rapi, dan menarik, banyak spot foto yang instgramable. Ibarbo ini juga beda dari yang lain, kayak ga ngebosenin gitu,” ungkapnya.
Dibalik warna dan wahana, ada konsep yang terus berputar, rumah tumbuh. Sebuah gagasan bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar selesai. Ia bergerak, berubah, dan bertambah seperti anak-anak yang datang berkunjung, selalu ada yang berkembang.
“Ibarbo ini rumah tumbuh. Dari pusat oleh-oleh, berkembang menjadi Wildspace Plaza, Aviary, kota kartun. Dibelakang juga sedang ada proyek tambahan wahana. Konsepnya memang one stop destinasi,” tutur Pak Owner.
Ketertarikan pengunjung kerap bermula dari media sosial. Media sosial menjadi jendela yang memperkenalkan wajah Ibarbo kepada dunia luar. Tetapi lebih dari sekedar etalase, ia menjadi ruang percakapan.
“Kami terbuka dengan kritik dan masukan. Kalau ada yang perlu diperbaiki, langsung kami evaluasi. Setelah itu kami perbaiki, dan biasanya kami informasikan juga melalui media sosial supaya pengunjung tahu perubahan apa yang sudah kami lakukan,” ujarnya.
Kritik tidak dianggap sebagai bayang-bayang, melainkan cahaya petunjuk arah. Kebersihan dan kenyamanan terjaga seperti fondasi rumah tak selalu terlihat, tetapi menentukan berapa lama orang ingin tinggal.
“Dan seperti rumah yang terus bertumbuh, kami berharap suatu saat Ibarbo bisa hadir di daerah lain juga supaya lebih banyak keluarga yang bisa merasakan pengalaman seperti ini,” pungkasnya.
Barangkali pada akhirnya Ibarbo bukan hanya tentang salju buatan, bangunan warna-warni, atau wahana yang ramai.
Ia adalah tentang tawa yang ditanam setiap hari, tentang mimpi yang dirawat secara perlahan, tentang rumah yang dibangun dari imajinasi, keberanian, dan suara anak-anak yang tak pernah lelah memenuhi ruang. Dan selama tawa itu masih terdengar, rumah itu akan terus bertumbuh.
Penulis Nayla Nur Hidayah | Editor Qisthiyatun Nafi’ah
- 5 Tradisi Lebaran Idul Fitri yang Unik di Indonesia - 30 Maret 2026
- 5 Rekomendasi Menu Sahur Praktis: Cocok untuk Si Super Sibuk - 18 Maret 2026
- 11 Rekomendasi Tempat Ngabuburit Seru di Jogja - 5 Maret 2026