Kalijaga.co – Sore itu, langit di atas Yogyakarta sudah hampir berubah warna menjadi jingga. Di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga, keriuhan belum juga surut meski jam sudah menunjukkan waktu sore yang seharusnya tenang. Aku berdiri di antara ribuan mahasiswa lainnya, menjadi bagian dari hiruk-pikuk massa dalam PBAK-FDK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan-Fakultas Dakwah dan Komunikasi) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2025. Sebagai mahasiswa baru, mengikuti rangkaian PBAK adalah sebuah ritual transisi yang penuh tekanan sekaligus kebanggaan. Namun, saat itu rasa bangga itu mulai tertutup oleh kabut kelelahanku yang luar biasa.
Setelah mengikuti berbagai sesi materi yang padat, keseruan yang tidak ada habisnya, hingga mobilisasi massa dari satu titik ke titik lain di bawah arahan panitia, ragaku akhirnya mencapai titik lemah.
Lelah, letih, dan lesu bukan lagi sekadar kata sifat yang sering kudengar di iklan kesehatan, melainkan beban nyata yang menghimpit bahu. Aku merasakan kakiku berdenyut hebat, setiap saraf di sana seolah mengirimkan sinyal protes yang menyakitkan. Rasanya, kaki ini sudah tidak lagi sanggup jika harus dipaksa berdiri tegak lebih lama hanya untuk menunggu jemputan yang belum juga memberikan kabar.
Di tengah keputusasaan fisik itu, aku memutuskan untuk memisahkan diri sejenak dari kerumunan mahasiswa yang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mencari tempat untuk sekadar mengatur napas dan mengistirahatkan sendi-sendi yang kaku. Pilihanku jatuh pada sebuah area di bawah pohon rindang yang berdiri kokoh di salah satu gerbang kampus UIN. Di sanalah aku memutuskan untuk menepi, duduk sejenak membiarkan tanah menyerap rasa pegal yang menjalar.
Perlahan, ketenangan mulai merayap saat angin sepoi-sepoi Yogyakarta menyapa kulitku. Di bawah naungan daun-daun hijau itu, lelahnya sedikit berkurang, dan kakiku tak lagi kesakitan sehebat tadi. Namun, seiring dengan redanya rasa sakit fisik, muncul kebutuhan lain yang mendesak. Tenggorokanku terasa sangat kering, seolah-olah setiap butiran debu sepanjang kegiatan PBAK telah mengendap di sana tanpa ampun. Dalam diam, aku membatin pada diriku sendiri dengan penuh harap, “aku mau es.”
Pandanganku yang sayu mulai menyapu area sekitar, mencari sumber kesegaran yang bisa menyelamatkanku sore itu. Tak jauh dari tempatku bersandar, mataku langsung tertuju pada gerobak Es Cincau. Tanpa berpikir dua kali, aku segera menghampiri gerobak tersebut dengan langkah yang masih sedikit gontai.
“Berapa pak?” tanyaku pada bapak penjual, berusaha mengumpulkan sisa suara yang serak.
“Lima ribuan, Mba…” jawab bapak penjual itu dengan nada yang sangat ramah.
Sambil menunggu bapak itu menyiapkan pesananku, aku terdiam memperhatikannya membungkus es tersebut. Jujur, saat itu aku tak berharap lebih pada rasanya. Di kepalaku, aku tidak butuh minuman dengan rasa yang mewah. Aku hanya ingin rasa hausku segera hilang agar aku bisa kembali fokus menunggu jemputan. Aku terjebak dalam rasa lelahku sendiri hingga lupa bahwa setiap interaksi antarmanusia punya maknanya sendiri.
Setelah es cincau berpindah tangan, aku segera membayar dan tidak lupa mengucapkan kalimat otomatis, “Terima Kasih, Pak,” Aku sudah bersiap untuk kembali ke tempat teduhku, namun respon bapak tersebut seketika menghentikan langkahku.
“Yaa sama-sama, semangat menggapai mimpi ya Mba…” jawab bapaknya sambil tersenyum tulus ke arahku.
Kalimat itu sederhana, tapi efeknya luar biasa. Wajahku yang awalnya murung seketika kembali tersenyum lebar. Aku tertegun sejenak, lalu membalasnya dengan berterima kasih sekali lagi dengan wajah yang sudah berbeda. Lelah yang tadi menghimpit tiba-tiba mereda, seolah beban di pundakku baru saja diangkat. Aku merasakan semangat yang semakin membara di dalam dada.
Sambil menyesap es cincau yang ternyata terasa jauh lebih nikmat dari bayanganku, aku kembali merenung. Momen singkat itu memberiku sebuah pelajaran berharga yang mungkin lebih dalam dari materi PBAK mana pun. Aku pun menyadari bahwa kebahagiaan bisa Allah hadirkan lewat siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.
Kita seringkali menganggap bahwa dukungan hanya datang dari orang-orang terdekat, namun kenyataannya, bahkan orang yang belum dikenal sekali pun bisa Allah jadikan perantara kebahagiaan untuk kita. Bapak penjual es itu, dengan senyum dan doa pendeknya, telah menjadi perantara Allah untuk mengingatkanku pada tujuan awalku datang ke kampus ini: untuk menggapai mimpi.
Penulis Raisya Puan Syahdillah | Editor Qisthiyatun Nafi’ah