Kalijaga.co- Ahad (16/11/2025). Berdiri sejak delapan belas tahun yang lalu, Ibu Samsiyem (38) dari Desa Tamanagung bersama sang suami berhasil melestarikan kue tradisional cucur sebagai penghasilan utama dalam rumah tangganya. Berawal dari usaha sang nenek yang kemudian turun ke ibunya, beliau bertekad melanjutkan usaha ini karena dianggap mudah dalam proses pembuatannya.
Bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana seperti tepung beras, tepung terigu, gula merah, air, garam, dan juga pewarna makanan. Bahan adonannya sebelum digoreng harus didiamkan selama kurang lebih 6 jam untuk menunggu proses pengentalan. Pengolahan Kue Cucur ini setiap harinya dimulai dari sore hari yang kemudian akan digoreng di pagi hari. Setiap harinya pengolahan Kue Cucur ini bisa mencapai 250 buah untuk diperjualbelikan di pasar, pedagang-pedagang sayur, atau tetangga sekitar dengan harga 850 perak per buah.
Meskipun dalam pembuatannya mudah, namun tidak dipungkiri bahwa dalam pemasarannya terkadang juga terdapat beberapa kendala.
“Kesulitannya malah ke pembeli, kadang ramai kadang sepi,” ujar Ibu Samsiyem .
Namun selain itu menurutnya cuaca juga ikut andil dalam mempengaruhi hasil penjualan Kue Cucur dari Desa tamanagung ini.
“Kalau hujan kan eyek-eyek pada ngga ngambil, jadi ngga kejual,” ujar Ibu Samsiyem.
Menurut Ibu Samsiyem pengolahan Kue Cucur saat ini termasuk mengalami penurunan karena pada tahun 2015-2019 pengolahan Kue Cucur per hari bisa mencapai 16 kg. Mulai terjadi penurunan yaitu setelah datangnya virus Covid-19. Setelah adanya Covid-19, pengolahan Kue Cucur ini banyak pemesanan hanya di hari-hari tertentu, misalnya menjelang Idul Fitri atau pemesanan dari tetangga untuk pengajian-pengajian saja yang bisa mencapai 5 kg pemesanan.
Pemasaran Kue Cucur ini sebenarnya telah mengalami fase inovasi di tahun 2014-2019, yaitu dengan promosi melalui sosial media. Namun, karena tidak adanya peningkatan dari penjualan Kue Cucur ini, akhirnya Ibu Samsiyem tidak melanjutkan promosi melalui sosial media.
“Saya posting lewat facebook, dari luar ada yang posting-posting juga. Dari Muntilan mungkin hanya saya, tapi dari luar sana banyak yang produksi.”
Dari konsumen kue cucur ini, yang merupakan tetangga Ibu Samsiyem mengatakan jika Kue Cucur ini layak dipasarkan dan dikonsumsi secara luas, namun di era saat ini jika pengemasannya tidak diperbaiki konsumen akan berpikir ulang untuk membeli.
“Namun jika target untuk masyarakat sekitar sudah sangat layak,” ujar Rifki Hasbi (25) sebagai konsumen.
Konsumen sendiri juga berharap jika Kue Cucur ini kedepannya bisa terus diolah dan dikembangkan di Desa taman Agung dan menjadi ciri khas dengan pengolahan berbeda.
”Harapannya untuk pengolah Kue Cucur ini bisa terus berkembang, ibaratnya jika ada teman dari luar kota kesini gampang nyari oleh-olehnya,” ujar konsumen.
Reporter Linda Setiyani